GANTI REZIM GANTI SISTEM BANGUN PARTAI KELAS PEKERJA BANGUN SOSIALISME

Jumat, 03 September 2010

Che Guevara : Api yang tak kunjung padam

Oleh : Michael Lowy[1]

*

Tahun berjalan, mode berganti, post-modernisme menggantikan modernisme, kepemimpinan demokratis menggantikan kediktatoran, dan tembok berlin jatuh ke bawah tembok kapital. Tapi tiga puluh tiga tahun kemudian, pesan Che Guevara tetap menjadi suluh bagi mereka yang percaya bahwa dunia yang lebih baik itu mungkin.

Eva Cheng Revolusi Cina 1949 : Apa Pelajaran Yang Bisa Kita Petik ?

Banyak orang yang menjadi aktivis kiri di 1990-an, sejak Partai Komunis Cina (PKC) memulai restorasi kapitalisme, merasa sulit untuk menghubungkan atau mengapresiasikan keberhasilan yang didapat oleh rakyat Cina pada kemenangan komunis di 1949. Para penentu kebijakan di Beijing sacara gradual mencampakkan properti dan sistem sosialis untuk digantikan dengan sebuah sistem kapitalisme, ketika mempertahankan retorika-retorika radikal, diperkuat dengan keraguan-keraguan yang timbul dalam revolusi selama tiga dekade kegagalan Stalinis yang dipimpin oleh Mao Tse Tung.

Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek

Oleh : Ernest Mandels

Pengantar

Pada tahun 1968, seorang Marxist dari Belgia, Ernest Mandel berbicara di depan 33 perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada, dari Harvard ke Berkeley dan dari Montreal ke Vancouver. Lebih dari 600 orang memadati Education Auditorium di New York University pada tanggal 21 September 1968 untuk menghadiri "Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner". Presenta si Mandel di tempat itu dipandang sebagai kejadian yang sangat menonjol oleh majelis dan salah satu saat penting dari seluruh perjalanannya. Pidato dan beberapa kutipan dari diskusi yang mengikutinya menjadi dua bagian pertama dari pamflet ini.

MEMBANGUN KONTAK MAHASISWA DENGAN KELAS PEKERJA

Dipublikasikan Untuk Situs Indo-Marxist pada tanggal 14 Mei 2000.

Oleh : Ninel Olesich dan Victor Privalov

Aktivitas revolusioner mahasiswa Rusia dapat kita mengerti bila kita memahami esensi kelas dari rezim dan pemerintahan Tsar yang reaksioner atas pendidikan tinggi di Rusia.Gelombang pembangkangan dan protes dikalangan mahasiswa Rusia muncul karena beberapa alasan; kondisi yang mencekik dari otokrasi Rusia, perlakuan yang keji atas kaum muda, pengekangan ilmu pengetahuan, diberlakukannya cara-cara ala polisi dan tentara dalam pendidikan, pengingkaran hak-hak politis, dan kemiskinan yang akut dari kebanyakan mahasiswa.

PENJEGALAN TERHADAP PERGERAKAN BURUH DI INDONESIA*

Oleh: Dédé Oetomo**



PERNAHKAH DENGAR, KAWAN?
KETIKA MENCARI-CARI BAHAN UNTUK MENYUSUN TULISAN INI, SAYA MENEMUKAN SEBUAH TULISAN DI INTERNET YANG TERBIT PERTAMA KALI DALAM SEBUAH MAJALAH DARI ITHACA, NEW YORK, AMERIKA SERIKAT.[1] TULISAN ITU MENGEMUKAKAN IRONI SBB.: HARI BURUH INTERNASIONAL, 1 MEI, SESUNGGUHNYA PADA AWALNYA DIRAYAKAN UNTUK MEMPERINGATI PEMOGOKAN 350.000 ORANG BURUH YANG DIORGANISIR OLEH FEDERASI BURUH AMERIKA PADA TANGGAL 1 MEI 1886 DI BANYAK TEMPAT DI AMERIKA SERIKAT UNTUK MENUNTUT WAKTU KERJA 8 JAM SEHARI. AKAN TETAPI KETIKA SERATUS TAHUN LEBIH KEMUDIAN DI BANYAK NEGERI HARI INI DIRAYAKAN OLEH KAUM BURUH, DAN BAHKAN DIAKUI SECARA RESMI OLEH NEGARA,

DOUG LORIMER , MARX DAN ENGELS TENTANG PARTAI PROLETARIAT

Marx dan Engels bukanlah orang-orang yang pertama kali mengembangkan dan mengajukan visi tentang masyarakat tanpa klas. Sebagaimana yang telah diakui oleh keduanya, para pemikir sebelum mereka mengembangkan "pada abad ke 16 dan 17, pada abad 18, teori-teori komunistik yang aktual ... dimana yang harus dihapuskan bukan sekedar keistimewaan-keistimewaan (privileges) klas, namun perbedaan klas itu sendiri". Pencapaian besar yang diraih oleh Marx dan Engels adalah berhasil melihat proses sejarah yang sesungguhnya, yang memungkinkan sosialisme menjadi kenyataan. Itulah sebabnya mereka menciptakan sosialisme ilmiah. Engels menekankan dalam karyanya Sosialisme: Utopia dan Ilmiah, bahwa "Untuk memberikan landasan ilmiah bagi Sosialisme, pertama-tama dia harus diletakkan diatas basis atau landasan yang nyata".

“GLOBALISASI”, NEO-LIBERALISME DAN DORONGAN-DORONGAN KEMUNDURAN EKONOMI KAPITALIS[1]

Oleh : Doug Lorimer[2]

Sumber : Jurnal Kiri
Versi Online : Situs Indo-Marxist—Situs Kaum Marxist Indonesia!

*

Hal yang digembar-gemborkan para ekonom, sosiolog, para guru manajemen, wartawan dan politisi borjuis adalah bahwa kita saat ini hidup dalam era sejarah baru dimana ekonomi nasional, budaya nasional dan batas-batas kenegaraan sudah kehilangan makna dan luntur oleh sebuah proses “globalisasi” yang cepat dan baru.

Membangun Kekuatan Rakyat, Samora Machel

Terjemahan

Establishing People's Power to Serve the Masses

Toronto Committee for the Liberation of Southern Africa

(TCLSAC), Toronto, Canada, 1976



Penerjemah

Tome Xamer Jeronimo, Nuno Rodriguez, dan

Aderito de Jesus Soares


Kuba : Satu Pelajaran Bagaimana Menghancurkan Rasisme Oleh Roberto Jorquera[1]

Invasi ke Amerika setelah “ditemukan” oleh Christoper Colombus adalah sentral dari perkembangan kapitalisme di Eropa. Setelah invasi, ada suatu kebutuhan bagi penguasa kolonial untuk mengembangkan ideologi rasisme sebagai pembenaran dari penindasan-penindasan yang mereka lakukan terhadap penduduk asli dan untuk mengembangkan bisnis jual beli manusia (perbudakan) mereka.

SEJARAH MEMBERIKAN KESIMPULAN, PERGERAKAN YANG MEREVOLUSIONERKANNYA

SEJARAH MEMBERIKAN KESIMPULAN, PERGERAKAN YANG MEREVOLUSIONERKANNYA

Madjid

Dikutip dari majalah PROGRES No. 3, Jilid 2, 1992 hal. 59


Kesalahan Cara Memandang Gerakan/Pergerakan

Kesalahan cara memandang gerakan, yakni memandang gerakan hanya dari satu seginya saja, yakni segi yang negatif, bisa mengakibatkan hilangnya arah positif gerakan. Dan bila ini dibiarkan, akan mengakibatkan hancurnya semangat berjuang. Singkatnya: mengakibatkan hancurnya pergerakan itu sendiri. Adalah sungguh salah bila memandang gerakan dari satu seginya saja, apalagi bila bukan merupakan hasil dari kesimpulan dialektika sejarah. Harus dicamkan dalam-dalam, bahwa kenyataan/realitas apapun memiliki dua sisi, sisi yang negatif dan sisi yang positif; di dunia ini, tidak ada satu hal ihwal pun yang bersegi satu, yakni hanya segi negatifnya saja. Dan gerak (motion) maju sejarah merupakan hasil pergulatan (contradictions) segi yang positif dengan segi yang negatif. Akhirnya, dalam pergerakan yang memilki semangat yang tinggi --militansi yang tinggi-- segi positif sekecil apa pun (apalagi bila besar) harus diusahakan agar dikondisikan, dikonsolidasikan dan dimanfaatkan untuk mendorong maju pergerakan, merevolusionerkan pergerakan.

GEORGE NOVACK PENGANTAR LOGIKA MARXISME

Sumber : George Novack, An Introduction to The Logic of Marxism, bahan kuliah

Terjemahan Indonesia : Jurnal KIRI, Volume 3, Oktober 2000, Penerbit Neuron.

E-mail : Revolt83@hotmail.com

Versi Online : [Indomarxist.Net] [http://come.to/indomarxist]—November 2002

Keterangan : Ijin publikasi online ini adalah untuk tujuan non-komersil.

GEORGE NOVACK PENGANTAR LOGIKA MARXISME

Sumber : George Novack, An Introduction to The Logic of Marxism, bahan kuliah

Terjemahan Indonesia : Jurnal KIRI, Volume 3, Oktober 2000, Penerbit Neuron.

E-mail : Revolt83@hotmail.com

Versi Online : [Indomarxist.Net] [http://come.to/indomarxist]—November 2002

Keterangan : Ijin publikasi online ini adalah untuk tujuan non-komersil.

GEORGE NOVACK PENGANTAR LOGIKA MARXISME

Sumber : George Novack, An Introduction to The Logic of Marxism, bahan kuliah

Terjemahan Indonesia : Jurnal KIRI, Volume 3, Oktober 2000, Penerbit Neuron.

E-mail : Revolt83@hotmail.com

Versi Online : [Indomarxist.Net] [http://come.to/indomarxist]—November 2002

Keterangan : Ijin publikasi online ini adalah untuk tujuan non-komersil.

DENGAN GERAKAN ISLAM TRANSFORMATIF MENUJU MASYARAKAT TAUHIDI

HASAN RAID

Aww,

Saya merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan sanak saudara dalam dialog yang takkan terlupakan ini. Melalui dialog ini kita berusaha menggali kebenaran dan kebenaran itu untuk kita kembangkan, untuk kita tegakkan.

Mas Marco Kartodikromo: Dengan Sastra, Ia Mengasah Pena

Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi IV/Tahun I
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
* * *
Soepaja djalannja SAMA RATA,
Jang berdjalan poen SAMA me RASA,
Enak dan senang bersama-sama,
Ja’toe: "Sama rasa, sama rata."

(Sinar Djawa 10 April 1918)

TAN MALAKA (1897-1949) GERILYAWAN REVOLUSIONER YANG LEGENDARIS

Tan Malaka –lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka—menurut keturunannya ia termasuk suku bangsa Minangkabau. Pada tanggal 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang –Sumatra Barat—Tan Malaka dilahirkan. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain.

Menunggu (Lagi) Zaman Pencerahan di Indonesia?

Kamis, 02 September 2010 - 23:27:52 WIB

Indonesia berdiri sebagai nasion karena ide-ide yang tumbuh di zaman aufklärung yang menghargai kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat. Tapi kini semua berada dalam ancaman.

Sebagai negeri majemuk, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa dan agama, keberagaman menjadi keniscayaan di Indonesia. Namun demikian masih banyak persolan yang melilit bangsa ini, terutama dalam hal kebebasan beragama. Beberapa pekan lalu lebih dari seribu orang berdemonstrasi di depan Istana Merdeka, menuntut kebebasan beragama sekaligus menanggapi serangkaian peristiwa pelanggaran hak kebebasan beragama selama tahun 2010, termasuk pembubaran jemaat Kristen yang sedang menjalankan ibadah dan serangan terhadap jamaah Ahmadiyah. Pelanggaran-pelanggaran itu dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan pembela agama Islam. Pertanyaannya: kenapa reaksi masyarakat, termasuk lembaga-lembaga kekuasaan lemah jika dibanding dengan kelompok yang begitu kecil dan tidak berpengaruh tersebut?.

Kisah Berlawan dari Benua Seberang

Senin, 16 Agustus 2010 - 21:48:42 WIB

Kisah lain dari dukungan Australia terhadap kemerdekaan Indonesia.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia 1945-1949, pemerintah Australia merupakan satu dari sekian pemerintahan di dunia yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Bahkan Republik Indonesia yang masih muda belia menunjuk Australia jadi salah satu dari tiga anggota Commission of Good Offices (Komisi Jasa Baik yang lebih dikenal sebagai Komisi Tiga Negara, KTN). Belanda memlih Belgia dan kedua negara, Indonesia dan Belanda, sepakat memlih Amerika Serikat sebagai negara ketiga.

Miskin di Tengah Limpahan Kekayaan

Jumat, 3 September 2010 | 23:37 WIB
pakarhowto.com
ilustrasi

Oleh Rusmanadi

Julak Maribut, lelaki yang masih nampak gagah di usia lebih dari 70 tahun itu, bersiap pergi ke ladang di kaki Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan.

Ia tak perlu pergi jauh, karena ladang miliknya masih berada di sekitar rumah, di pinggiran permukiman masyarakat adat Dayak Meratus di Balai Kiyu, Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur (BAT).

Rabu, 01 September 2010

DOGMATISME DAN “KEBEBASAN MENGKRITIK”

DOGMATISME DAN “KEBEBASAN MENGKRITIK”



A. APAKAH “KEBEBASAN MENGKRITIK “ ITU ?



“Kebebasan mengkritik” memang pada waktu sekarang merupakan semboyan yang paling menjadi mode dan semboyan, yang paling sering digunakan dalam perdebatan-perdebatan antara kaum sosialis dengan kaum demokrat semua negeri. Sepintas kilas, sukar dibayangkan adanya sesuatu yang lebih aneh daripada penunjukan-penunjukan khidmat dari salah satu pihak yang berdebat mengenai kebebasan mengkritik. Apakah dalam partai-partai yang maju ada terdengar suara-suara menentang hukum konstitusional kebanyakan negeri Eropa yang menjamin kebebasan ilmu dan penelitian ilmiah ? “Nampaknya ada sesuatu yang tidak beres di sini!”—demikianlah akan komentar orang luaran yang belum menangkap sepenuhnya hakekat perbedaan-perbedaan pendapat di antara orang-orang yang berdebat itu, tetapi telah berulang-kali mendengar semboyan yang menjadimode ini di setiap persimpangan jalan. “Semboyan ini, rupanya, salah satu semboyan dari kata-kata yang sudah lazim yang, seperti nama julukan, menjadi sah karena kebiasaan dan hampir menjadi nama”.


PEMBELA-PEMBELA BARU “KEBEBASAN MENGKRITIK”

Nah, semboyan ini (“kebebasan mengkritik”) akhir-akhir ini saja telah diajukan dengan khidmat dalam Raboceye Dyelo (No.10), organ Perserikatan Kaum Sosial Demokrat Rusia Di Luar Negeri16, bukan sebagai dalil teori melainkan sebagai tuntutan politik, sebagai jawaban atas pertanyaan: “mungkinkah mempersatukan organisasi-organisasi sosial-demokrat yang melakukan aktivitas di luar negeri?”—“supaya persatuan itu bisa kokoh, harus ada kebebasan mengkritik” (hlm.36).

KRITIK DI RUSIA

Kekhususan utama Rusia dalam hubungan dengan hal yang sedang kita tinjau ialah bahwa awal mula gerakan buruh yang spontan, di satu pihak, dan pembelokan pendapat umum progressif ke arah Marxisme di pihak lain, ditandai dengan kombinasi elemen-elemen yang jelas beraneka-ragam di bawah panji bersama untuk perjuangan melawan musuh bersama juga (pandangan dunia sosial politik yang sudah usang29). Kita

ENGELS TENTANG ARTI PENTING PERJUANGAN TEORI

“Dogmatisme, doktrinisme”, “pembatuan Partai—hukuman yang tak terelakkan atas pencupetan pikiran secara kekerasan”—inilah musuh-musuh yang terhadapnya pembela-pembela “kebebasan mengkritik” dalam Raboceye Dyelo secara ksatria mengangkat senjata. Kita gembira sekali bahwa soal ini telah masuk acara dan kita hanya akan mengusulkan untuk menambahnya satu pertanyaan lagi:



Siapakah yang menjadi hakim ?

SPONTANITAS MASSA DAN KESADARAN KAUM SOSIAL DEMOKRAT, PERMULAAN KEBANGKITAN YANG SPONTAN

Sudah kita katakan bahwa gerakan kita, yang jauh lebih luas dan mendalam daripada gerakan pada tahun-tahun 70-an, harus dijiwai oleh tekad tulus ikhlas dan energi yang sama seperti yang menjiwai gerakan pada waktu itu. Memang, sampai kini kiranya tak seorang pun meragukan bahwa kekuatan gerakan dewasa ini terletak pada kebangkitan massa (terutama proletariat industri) dan bahwa kelemahannya terletak pada ketidak cukupan kesadaran dan inisiatif di kalangan para pemimpin revolusioner.

PEMUJAAN KEPADA SPONTANITAS. RABOCAYA MISL

Sebelum membicarakan manifestasi pemujaan ini dalam literatur, kami ingin menyebutkan kenyataan khas yang berikut (yang sampai kepada kita sumber tersebut diatas), yang sedikit menyoroti bagaimana dua aliran yang bakal bentrokan dalam sosial demokrat Rusia timbul dan tumbuh di kalangan kawan-kawan yang bekerja di Peterburg. Pada awal tahun 1897, sebelum pembuangan mereka, A.A Waneyev dan beberapa

GRUP PEMBEBASAN DIRI DAN RABOCEYE DYELO

C. GRUP PEMBEBASAN DIRI DAN RABOCEYE DYELO54

Kita dengan begitu panjang lebar telah membicarakan tajuk rencana Rabocaya Misl nomor pertama yang tidak banyak diketahui dan sekarang hampir dilupakan orang, karena tajuk rencana ini paling awal dan paling menyolok menyatakan aliran pikiran yang umum yang kemudian muncul sebagi aliran-aliran kecil yang tak terhitung banyaknya. W.I sepenuhnya benar ketika, dalam memuji nomor pertama dan tajuk rencana Rabocaya Misl, dia mengatakan bahwa tajuk rencana tersebut ditulis secara "tajam dan dengan bergelora"(Listok Rabotnika No. 9-10 hal.49). Setiap orang yang percaya pada pendapatnya, yang berpendapat bahwa dia memberikan sesuatu yang baru, menulis "dengan gelora" dan dengan cara yang begitu rupa sehingga pandangan-pandangannya itu tampak menonjol. Hanyalah orang-orang yang biasa berdiri diatas dua perahu yang tidak mempunyai "gelora" sedikitpun, hanya orang-orang yang demikianlah yang bisa kemarin memuji-muji gelora Rabocaya Misl, hari ini menyerang "gelora polemik" lawan-lawan Rabocaya Misl.

POLITIK TRADE-UNIONIS DAN POLITIK SOSIAL-DEMOKRATIS, AGITASI POLITIK DAN PEMBATASANNYA OLEH KAUM EKONOMIS

POLITIK TRADE-UNIONIS DAN POLITIK SOSIAL-DEMOKRATIS



Kami akan mulai lagi dengan memuji Raboceye Dyelo. "Literatur Pemblejetan Dan Perjuangan Proletar" adalah judul yang diberikan oleh Martinov kepada artikelnya dalam Raboceye Dyelo No.10 tentang perbedaan pendapat dengan Iskra. Dia merumuskan hakekat perbedaan pendapat ini sebagai berikut : "Kita tak dapat membatasi diri hanya pada memblejeti sistem yang merintangi jalan perkembangannnya" (partai buruh). "Kita harus pula memberi reaksi terhadap kepentingan-kepentingan terdekat dan sehari-hari proletariat" (hal.63). "….Iskra…… sebenarnya adalah sebuah organ dari oposisi revolusioner yang

KISAH TENTANG BAGAIMANA MARTINOV MEMPERDALAM PLEKHANOV

“Alangkah banyaknya orang sosial-demokrat sebangsa Lomonosov yang muncul di kalangan kita di waktu belakangan ini!” ujar seorang kawan pada suatu hari, dan yang dimaksudkannya ialah kecenderungan yang mengagumkan dari banyak orang di antara yang condong pada ekonomisme “dengan akal sendiri” pasti

PEMBLEJETAN-PEMBLEJETAN POLITIK DAN "PENDIDIKAN KEAKTIFAN REVOLUSIONER"

Dengan mengajukan "teori"nya tentang "peningkatan keaktifan massa buruh" untuk menentang Iskra, sebetulnya Martinov memperlihatkan usaha untuk meremehkan keaktifan ini, karena dia menyatakan perjuangan ekonomi itu sendiri, yang disembah-sembah oleh semua ekonomis, sebagai cara yang lebih baik, teristimewa penting dan "paling luas dapat digunakan" untuk membangkitkan keaktifan ini, dan sebagai lapangan untuknya. Kesalahan ini bersifat khas, justru karena ia sekali-kali bukanlah kesalahan khusus

APA PERSAMAAN ANTARA EKONOMISME DENGAN TERORISME?

Di atas, dalam catatan bawah halaman, kami mengutip pendapat seorang ekonomis dan seorang teroris bukan sosial-demokrat yang kebetulan sependapat. Akan tetapi, berbicara secara umum, diantara keduanya tidak ada hubungan yang kebetulan, melainkan hubungan intern yang bersifat keharusan, hal yang mana harus kami bicarakan lebih lanjut, tetapi yang harus disinggung di sini ialah soal pendidikan keaktifan revolusioner. Kaum ekonomis dan kaum teroris masa kini mempunyai satu akar yang sama, yaitu pemujaan kepada spontanitas,

KLAS BURUH SEBAGAI PEJUANG PELOPOR UNTUK DEMOKRASI

Telah kita lihat bahwa penyelenggaraan agitasi politik yang seluas-luasnya, dan oleh karenanya pengorganisasian pemblejetan-pemblejetan politik yang meliputi banyak hal, merupakan tugas aktivitas yang mutlak perlu dan paling mendesak, yaitu jika aktivitas itu harus betul-betul sosial-demokratis. Akam tetapi kita sampai pada kesimpulan ini semata-mata berdasarkan kebutuhan-kebutuhan mendesak klas buruh akan pengetahuan politik dan pendidikan politik. Tetapi sebenarnya mengemukakan soal demikian saja terlalu

SEKALI LAGI “PEMFITNAH”, SEKALI LAGI “PENIPU”

F. SEKALI LAGI “PEMFITNAH”, SEKALI LAGI “PENIPU”


Kata-kata yang sopan ini, seperti pembaca ingat, adalah kata-kata Raboceye Dyelo, yang dengan cara demikian menjawab tuduhan kita bahwa ia “secara tak langsung mempersiapkan dasar untuk mengubah gerakan buruh menjadi suatu alat demokrasi borjuis”. Dalam kesederhanaan jiwanya Raboceye Dyelo memutuskan bahwa tuduhan ini tidak lain hanya ulah polemik, seolah-olah mau mengatakan, kaum dogmatis

KERAJINAN-TANGANISME KAUM EKONOMIS DAN ORGANISASI KAUM REVOLUSIONER

Pernyataan-pernyataan Raboceye Dyelo—yang telah kita analisa di atas—bahwa perjuangan ekonomi merupakan cara agitasi politik yang paling luas dapat digunakan dan bahwa tugas kita sekarang ialah memberi watak politik kepada perjuangan ekonomi itu sendiri, dsb, mengungkapkan pandangan picik tidak hanya mengenai tugas-tugas politik kita, tetapi juga mengenai tugas-tugas keorganisasian kita. “Perjuangan ekonomi melawan kaum majikan dan pemerintah” sekali-kali tidaklah memerlukan—dan karenanya perjuangan

KERAJINAN-TANGANISME DAN EKONOMISME

Kita sekarang harus membicarakan suatu soal yang pasti sudah timbul dalam pikiran setiap pembaca. Dapatkah diadakan hubungan antara kerajinan-tanganisme, suatu penyakit pertumbuhan yang menghinggapi seluruh gerakan, dengan ekonomisme, yang merupakan salah satu aliran dalam sosial-demokrasi Rusia? Kita rasa dapat. Ketiadaan latihan praktis, ketiadaan kecakapan untuk melakukan semua pekerjaan keorganisasian

ORGANISASI KAUM BURUH DAN ORGANISASI KAUM REVOLUSIONER

Jika konsepsi perjuangan politik bagi kaum sosial-demokrat adalah identik dengan konsepsi “perjuangan ekonomi melawan kaum majikan dan pemerintah”, maka sewajarnyalah dapat diharapkan bahwa konsepsi “organisasi kaum revolusioner” baginya sedikit atau banyak identik dengan konsepsi “organisasi kaum buruh”. Dan ini sebenarnya adalah apa yang sungguh-sungguh terjadi; sehingga apabila kita berbicara tentang

Ajaran Marxis tentang Negara dan Tugas-tugas Proletariat di dalam Revolusi BAB VI PEMVULGARAN MARXISME OLEH KAUM OPORTUNIS

BAB VI
PEMVULGARAN MARXISME OLEH KAUM OPORTUNIS

Masalah hubungan negara dengan revolusi sosial, dan hubungan revolusi sosial dengan negara, seperti juga masalah revolusi pada umumnya, sangat sedikit diperhatikan oleh teoritikus-teoritikus dan publisis-publisis terkemuka Internasionale II (1889-1914). Tetapi yang paling khas dalam proses pertumbuhan berangsur-angsur dari oportunisme yang menyebabkan keruntuhan Internasionale II di tahun 1914 adalah, bahwa bahkan ketika langsung menghadapi masalah ini mereka mencoba menghindarinya atau juga gagal mencermatinya.

Ajaran Marxis tentang Negara dan Tugas-tugas Proletariat di dalam Revolusi BAB V DASAR-DASAR EKONOMI MELENYAPNYA NEGARA

BAB V
DASAR-DASAR EKONOMI MELENYAPNYA NEGARA

Penjelasan yang paling mendalam mengenai masalah ini diberikan oleh Marx dalam karyanya Kritik Terhadap Progam Gotha (Surat Kepada Bracke, 5 Mei 1875, yang dimuat baru pada tahun 1891 dalam Neue Zeit. No 1, IX, dan yang terbit dalam edisi khusus bahasa Rusia.) Bagian polemik dari karya yang cemerlang ini, yang merupakan kritik terhadap Lassalleanisme boleh dikatakan mendesak ke belakang bagiannya yang positif, yaitu: analisa mengenai hubungan antara perkembangan Komunisme dengan melenyapnya negara.

Ajaran Marxis tentang Negara dan Tugas-tugas Proletariat di dalam Revolusi BAB IV LANJUTAN. PENJELASAN-PENJELASAN TAMBAHAN ENGELS

BAB IV
LANJUTAN. PENJELASAN-PENJELASAN TAMBAHAN ENGELS

Marx memberikan dasar mengenai masalah arti penting pengalaman Komune. Engels berulang kali kembali ke tema yang sama dan ketika menjelaskan analisa serta kesimpulan-kesimpulan Marx, kadang-kadang ia menyoroti segi-segi lain dari persoalannya dengan begitu kuat dan gamblang sehingga perlu secara khusus membahas penjelasan-penjelasannya itu.

Ajaran Marxis tentang Negara dan Tugas-tugas Proletariat di dalam Revolusi BAB III NEGARA DAN REVOLUSI. PENGALAMAN DARI KOMUNE PARIS TAHUN 1871. ANALISA MARX

BAB III
NEGARA DAN REVOLUSI. PENGALAMAN DARI KOMUNE PARIS TAHUN 1871. ANALISA MARX

1. DI MANAKAH LETAK HEROISME DAYA UPAYA KAUM KOMUNARD?

Telah diketahui benar bahwa dalam musim gugur tahun 1870, beberapa bulan sebelum Komune, Marx memperingatkan kaum buruh Paris bahwa sesuatu daya upaya untuk menggulingan pemerintah akan merupakan suatu kedunguan yang kalap. Tetapi ketika dalam Maret 1871, suatu pertempuran yang menentukan telah dipaksakan pada kaum buruh dan mereka menerimanya, ketika pemberontakan telah

Ajaran Marxis tentang Negara dan Tugas-tugas Proletariat di dalam Revolusi BAB II NEGARA DAN REVOLUSI. PENGALAMAN DARI TAHUN 1848-1851

BAB II
NEGARA DAN REVOLUSI. PENGALAMAN DARI TAHUN 1848-1851

1. SAAT MENJELANG REVOLUSI

Karya-karya pertama yang sudah matang dari Marxisme --Kemiskinan Filsafat dan Manifesto Komunis--muncul justru pada saat menjelang revolusi 1848. oleh karena itu, sebagai tambahan bagi penyajian prinsip-prinsip umum Marxisme, karya-karya itu mencerminkan sampai derajad tertentu situasi revolusioner konkrit massa itu. Maka, akan menjadi lebih jitu, barangkali, untuk mempelajari apa yang dikatakan oleh para pengarang karya-karya tersebut tentang negara segera sebelum mereka menarik kesimpulan-kesimpulan dari pengalaman tahun-tahun 1848-51 .(1)

Ajaran Marxis tentang Negara dan Tugas-tugas Proletariat di dalam Revolusi

KATA PENDAHULUAN PADA EDISI PERTAMA (1)

Masalah negara sekarang ini memperoleh arti penting yang khusus baik di bidang teori maupun di bidang politik praktis. Perang imperialis telah sangat mempercepat dan memperhebat proses kapitalisme monopoli menjadi kapitalisme monopoli-negara. Penindasan yang mengerikan atas massa pekerja keras oleh negara, yang makin lama makin erat berpadu dengan perserikatan-perserikatan kapitalis yang mahakuasa, menjadi lebih mengerikan lagi. Negeri-negeri yang maju sedang berubah --kita berbicara tentang "daerah belakang" mereka--menjadi penjara-penjara kerja paksa-militer bagi kaum buruh.

Fidel Castro Ruz Globalisasi Neoliberal dan Dunia Ketiga[1]

Sumber: Jurnal Kiri, Volume 3, Oktober 2000

Penerbit: Neuron

Versi Online: Situs Indo-Marxist (http://come.to/indomarxist), Januari 2002



Yang mulya,
Para delegasi dan tamu-tamu yang terhormat,
Dalam kehidupan manusia, baru sekarang ini lah bisa dicapai potensi ilmu-pengetahuan dan teknologi yang begitu mengagumkan, hingga mencapai kemampuan yang luarbiasa untuk menghasilkan kekayaan, kelimpahan dan kesejahteraan; namun demikian, pada saat yang sama, tak pernah terjadi sebelumnya juga, semakin mempertajam kesenjangan dan ketidakadilan di dunia.

Kehebatan teknologi yang walaupun, dalam hal komunikasi dan jarak, bisa menautkan seluruh planet ini, namun nyatanya semakin memperlebar kesejangan antara yang makmur dengan yang miskin, antara yang maju dengan yang terbelakang.

Globalisasi adalah suatu realitas obyektif yang bisa lebih memperjelas fakta bahwa kita sebenarnya merupakan penumpang dalam satu kapal yang sama, yakni, bumi tempat kita hidup. Tapi, para penumpang kapal tersebut mengadakan perjalanannya dengan kondisi-kondisi yang sangat berbeda.

Minoritas-kecil mengadakan perjalanan di kabin yang sangat mewah, dilengkapi fasilitas internet, telepon selular, dan memiliki akses ke jaringan-jaringan komunikasi golabal. Mereka bisa menikmati makanan yang bergizi, sehat, dan berlimpah, serta bisa mendapatkan pasokan air bersih. Mereka memperoleh pelayanan atau perawatan kesehatan yang canggih dan bisa menikmati kebudayaan.

Sementara, mayoritas-berlimpah yang sengsara mengadakan perjalanan dalam kondisi seperti pada zaman perdagangan budak (yang mengenaskan) dari Afrika ke Amerika di zaman kolonial pada masa yang lalu. Sebagain besar penumpang kapal tersebut, yakni sekitar 85 %, berada dalam kabin yang penuh sesak dan kotor, kelaparan, penyakitan dan tak ada yang menolong.

Jelas sekali, bahwa kapal yang sarat dengan ketidakadilan, yang sedang mengarungi jalur irasional dan tak masuk akal mustahil bisa tetap mengapung dan bisa selamat ke pelabuhan yang dituju. Pelayaran seperti itu ditakdirkan akan menabrak gunung es, dan karam. Dan bila itu terjadi, kita semua akan tenggelam bersama kapal karam tersebut.

Pimpinan negara dan pimpinan pemerintahan yang hadir di sini, yang mewakili mayoritas-melimpah yang sengsara tersebut, bukan saja berhak tapi juga berkewajiban menyelamatkan mereka dan mengarahkan jalur kapal yang membahayakan tersebut ke arah yang benar. Adalah tugas kita bersama untuk memperoleh tempat yang aman, agar semua penumpang bisa mengadakan perjalanan dalam suasana solidaritas, persamaan dan keadilan.

Selama dua dekade terakhir ini, Dunia Ketiga berulang-ulang dicekoki, harus selalu mendengarkan, hanya satu wacana simplistik, yang hanya menghasilkan satu kebijakan.

Selalu, kita diceritai bahwa deregulasi pasar, swastanisasi maksimum dan melepaskan campurtangan negara dalam aktivitas ekonomi merupakan prinsip-prinsip menguntungkan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial.

Degan Garis kebijakan seperti itu, negeri-negeri maju, terutama Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan transnasional akan lebih diuntungkan dan IMF, yang selama dua dekade terakhir ini telah merancang tatanan ekonomi dunia, sangat menentang kemajuan negeri-negeri kita dan kemampuan kita untuk tetap bertahan—dalam melidungi masyarakat dan menyelamatkan lingkungan.

Globalisasi telah ditautkan, diidentikan, dengan neoliberalisme; dengan demikian, bukan kemajuan atau kesejahteraan yang disebarluaskan secara global tapi kemiskinan; bukan kedaulatan bangsa yang dihargai tapi dominasi; bukan solidaritas di antara rakyat kita tapi sauve qui peut (sebisa-bisanya menyelamatkan diri mereka sendiri) dalam kompetisi tak seimbang di pasar bebas.

Dua dekade pelaksanaan apa yang mereka namakan penyesuaian struktural hanya lah mewariskan kegagalan pembangunan ekonomi dan kerusakan sosial. Tugas para politisi yang bertanggung jawab dalam menghadapi persoalan tersebut adalah mengambil keputusan yang sanggup memberikan landasan yang kondusif bagi Dunia Ketiga agar bisa keluar dari lorong yang gelap.

Kegagalan pembangunan ekonomi merupakan kenyataan yang tak terbantahkan. Di bawah kebijakan-kebijakan neoliberalisme, ekonomi Dunia mengalami pertumbuhan global antara tahun 1975 hingga tahun 1988, tidak sampai setengahnya dari pertumbuhan yang dicapai antara tahun 1945 hingga 1975—saat menjalankan kebijakan-kebijakan Keynesian dan negara berpartisipasi aktif dalam kehidupan ekonomi.

Di Amerika Latin, di mana neoliberalisme diterapkan sebagai lampiran doktrin, pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan pada tahap/masa neoliberal tidak lah lebih tinggi ketimbang yang dicapai oleh kebijakan pembangunan (negara) sebelumnya. Setelah PD II, Amerika Latin tak memiliki hutang sama sekali, tapi sekarang berhutang sebesar 1 trilyun dolar. Itu merupakan hutang per kapita tertinggi di dunia. Kesenjangan pendapatan antara si kaya dan si miskin juga yang terbesar di dunia. Saat ini, Amerika Latin, mengalami saat yang paling berat sepanjang sejarahnya karena semakin banyak orang miskin, pengangguran, dan yang kelaparan,.

Sebenar-benarnya, di bawah kebijakan neoliberalisme, ekonomi dunia ternyata tidak mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat; tapi, malahan lebih sering tidak stabil, lebih banyak spekulasi, peningkatan hutang luar negeri dan pertukaran/perdagangan yang tak setara. Demikian juga, terdapat kecenderungan lebih besar semakin seringnya terjadi krisis keuangan, sementara kemiskinan, ketidakadilan dan kesenjangan antara negeri-negeri Utara (yang makmur) dengan negeri-negeri Selatan (yang dimiskinkan) malah semakin melebar.

Dalam dua tahun terakhir ini, krisis, instabilitas, kekacauan dan ketidakpastian merupakan kalimat yang biasa digunakan untuk menjelaskan tatanan ekonomi dunia.

Deregulasi—yang melekat dalam neoliberalisme—dan liberalisasi nilai kapital telah memberikan dampak negatif sangat mendalam terhadap ekonomi dunia karena mengakibatkan ledakan spekulasi mata uang dan pasar-pasar yang terkena dampaknya, yang transaksi hariannya (sebagian besar spekulatif) bernilai tidak kurang dari 3 trilyun dolar.

Negeri kita diharuskan lebih transparan dalam memberikan informasinya dan lebih efektif dalam pengawasan bank, sedangkan lembaga-lembaga keuangan seperti penyandang dana, yang tak memberikan informasi tentang kegiatan-kegiatannya, benar-benar, absolut, tak bisa dibatasi aturan dan malahan mengatur semua kegiatan-kegiatan yang dibiayai oleh cadangan devisa yang tersimpan di bank-bank negeri-negeri Selatan.

Dalam atmosfir spekulasi yang tak terbatas, gerakan-gerakan kapital jangka-pendek akan menyebabkan negeri-negeri-negeri Selatan rentan terhadap ketidakpastian yang datang dari luar.

Dunia Ketiga dipaksa menghentikan mobilisasi sumber keuangannya sendiri agar cadangan devisanya merupakan hutang luar negeri yang, katanya, dapat digunakan untuk mempertahankan serangan dari para spekulator. Dalam beberapa tahun terakhir ini, lebih 20 % dari pendapatan kapital yang diperoleh dihentikan mobilisasinya, dijadikan sekadar cadangan devisa, namun tak juga cukup untuk menahan serangan para spekulator—terbukti bila dilihat dari krisis finansial yang terjadi di Asia Tenggara.

Sekarang ini, sejumlah 727 milyar dolar yang berasal dari bank-bank pusat cadangan devisa dunia tersimpan di Amerika Serikat. Hal tersebut akan mengarah pada paradok: negeri-negeri miskin, dengan cadangan devisanya, akan menawarkan pinjaman jangka-panjang yang murah untuk membiayai negeri-negeri makmur dan paling berkuasa di dunia, padahal cadangan tersebut sebenarnya bisa (lebih baik) digunakan untuk membiayai pembangunan ekonomi dan sosial mereka.

Alasan mengapa Kuba bisa berhasil menjalankan program-program pendidikannya, pelayanan kesehatannya, kebudayaannya, ilmu-pengetahuannya, olah raganya dan program-program lainnya—yang tak seorang pun di dunia ini menyangsikannya, walau diblokade secara ekonomi dalam empat dekade—dan, dalam lima tahun terakhir ini, kami berhasil meningkatkan nilai mata uang kami (terhadap dolar) sebanyak tujuh kali, itu karena posisi terhormat kami sebagai bukan anggota IMF—terima kasih atas perlakuan tersebut.

Sistim finansial yang secara paksa menahan mobilisasi sumber keuangan yang begitu besar—yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh negeri-negeri Dunia Ketiga untuk melindungi dirinya dari instabilitas yang disebabkan oleh sistim yang diarahkan agar si miskin membiayai si kaya—harus dienyahkan.

IMF merupakan simbul organisasi sistem moneter yang ada sekarang, dan Amerika Serikat memiliki hak veto terhadap segala keputusannya.

Sepanjang berbicara mengenai krisis keuangan yang baru saja terjadi, IMF menunjukkan kelemahannya dalam memprediksi dan tak memiliki kemampuan untuk menangani situasi tersebut. IMF mendesakkan aturan-aturan pengkondisian yang melumpuhkan kebijakan-kebijakan pembangunan sosial pemerintah, sehingga menciptakan ancaman domestik yang serius dan menghambat akses terhadap sumberdaya-sumberdaya penting ketika sangat dibutuhkan.

Sudah saatnya Dunia Ketiga menuntut dengan keras agar lembaga tersebut—yang tak bisa memberikan jaminan stabilitas bagi ekonomi Dunia Ketiga, yang juga tak bisa memasok dana pada negeri-negeri debitor agar bisa mengatasi krisis likuiditasnya—dibubarkan; lembaga tersebut hanya lah diarahkan untuk melindungi dan menyelamatkan negeri-negeri kreditor.

Dimana kah letak kerasionalan dan etika tatanan moneter internasional bila hanya memberikan kesempatan pada para teknokrat—yang posisinya tergantung pada dukungan Amerika Serikat—untuk merancang program-program penyesuaian ekonomi, yang identik dengan Washington, guna diterapkan di berbagai negeri demi mengatasi problem-problem khusus Dunia Ketiga?

Siapakah yang harus bertanggung jawab bila program-program penyesuaian tersebut menimbulkan kekacauan sosial, sehingga melumpuhkan dan medestabilisasi bangsa-bangsa yang memiliki sumberdaya alam dan manusia yang besar seperti terjadi di Indonesia dan Ekuador?

Ini lah saat yang penting bagi Dunia Ketiga untuk bekerja membubarkan lembaga yang jahat tersebut, dan selain itu juga melenyapkan dasar filsafatnya yang masih bertahan, menggantikannya dengan badan pengatur keuangan internasional yang akan beroperasi di landasan demokratik dan tak seorang pun punya hak veto. Suatu Lembaga yang tak akan sekadar membela kepentingan para kreditor kaya dan tak akan memaksakan kondisi-kondisi penuh campur tangan, akan tetapi mengizinkan aturan-aturan dalam pasar finasial sehingga bisa menahan spekulasi yang tak terkendali.

Cara yang tepat dalam menjalankannya adalah dengan mengenakan pajak yang tidak cuma 0,1%—seperti yang dianjurkan oleh si cerdas Tuan Tobin—tapi sebesar minimal sebesar 1 %, yang tak disangsikan lagi bisa mengumpulkan dana yang sedemikian besarnya—melebih nilai normal, yakni sebesar 1 trilyun dolar setiap tahunnya—guna mengembangkan pembangunan Dunia Ketiga yang nyata, berkelanjutan dan konprehensif.

Hutang luar negeri bangsa-bangsa berkembang sangat lah mencengangkan, tidak saja karena hutang tersebut begitu besarnya tapi juga karena mekanismenya yang keji—mendominasi dan mengeksploitasi—serta formula yang ditawarkan negeri-negeri maju untuk mengatasinya tak masuk akal, absur.

Hutang luar negeri bangsa-bangsa berkembang jumlahnya sudah tak normal lagi, telah mencapai 2,5 trilyun dolar dan, dekade sekarang ini, lebih membahayakan ketimbang pada tahun 1970-an. Sebagian besar Hutang baru tersebut dengan mudahnya bisa berpindah tangan di pasar sekunder dan; kini, hutang tersebut lebih berserakan dan lebih sulit untuk dijadwalkan kembali.

Sekali lagi aku harus mengulangi apa yang telah kami katakan sejak tahun 1985: hutang tersebut sebenarnya sudah bisa kita bayar jika nilai tukarnya dolarnya sama dengan nilai kontraknya, tak terganggu oleh perubahan dan kenaikan serampangan nilai mata uang dolar dalam beberapa dekade yang lalu, dan tak terganggu oleh penurunan harga komoditi pokok—sumber pendapatan utama bagi negeri-negeri berkembang. Hutang terus menerus digunakan untuk membayar hutang (to feed on itself), dalam lingkaran setan gali lubang tutup lubang, hutang digunakan untuk membayar bunga hutang.

Sekarang, jadi lebih jelas dari sebelumnya, bahwa hutang bukan sekadar issue ekonomi tapi juga issue politik, karenanya, harus diselesaikan secara politik. Tak mungkin terus menerus memanipulasi fakta bahwa jalan keluar bagi problem tersebut harus secara mendasar diatasi oleh negeri-negeri yang seolah-olah memiliki sumberdaya dan kekuatan, yakni, negeri-negeri makmur.

Apa yang disebut sebagai Inisiatif Pengurangan Hutang Negeri-negeri Miskin yang Terbelit Hutang hanya lah gagah namanya saja tapi jelek hasilnya. Tak lain dan tak bukan: upaya goblok yang cuma mengurangi 8,3% total hutang negeri-negeri Selatan; tapi, selama hampir empat tahun setelah pelaksanaan program tersebut hanya empat negeri saja—di antara 33 negeri termiskin—yang sanggup melewati proses yang rumit untuk mengurangi hutangnya sekadar sebesar 2, 7 milyar dolar, atau hanya sebesar 33 % dari pembelanjaan Amerika Serikat yang digunakan untuk mempermanis citra dirinya.

Sekarang ini, hutang eksternal merupakan salah satu hambatan terbesar dalam pembangunan dan merupakan bom yang, pada saat krisis ekonomi, setiap saat bisa meledakkan fondasi ekonomi dunia.

Sumberdaya yang dibutuhkan untuk mengatasi akar persoalan tersebut tidak lah besar jika dibandingkan dengan kesejahteraan dan biaya-biaya yang dinikmati dan dikeluarkan oleh negeri kreditor. Setiap tahunnya dibutuhkan dana sebesar 800 milyar dollar untuk membiayai persenjataan dan tentara, bahkan melebih jumlah pendanaan Perang Dingin dan, sementara itu, tak kurang dari 400 milyar dolar digunakan untuk membeli narkotik serta tambahan 1 milyar milyar lagi digunakan untuk mendanai publikasi komersil—yang tak beda fungsinya seperti narkotik, tidak produktif, teralineasi dari nilai-guna komoditi; itu baru menyebut tiga contoh saja.

Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, secara jujur dan realistik harus diakui bahwa hutang eksternal negeri-negeri Dunia Ketiga sudah tak bisa dibayar dan tak bisa dipungut kembali.

Di tangan negeri-negeri kaya, perdagangan dunia dijadikan sebagai alat dominasi yang, di bawah globalisasi neoliberal, akan menjadi elemen yang semakin berguna untuk melanjutkan dan mempertajam ketidakadilan, serta juga merupakan teater yang mewadahi perselisihan sengit di kalangan negeri-negeri maju saat berebutan hendak menguasai pasar yang ada sekarang dan pasar di kemudian hari.

Wacana neoliberal menyarankan bahwa liberalisasi komersial merupakan cara terbaik dan formula satu-satunya bagi efesiensi dan pembangunan. Menurut wacana tersebut, seluruh bangsa harus menghapuskan segala instrumen proteksi terhadap pasar domestiknya tak perduli sebesar apapun perbedaan derajat pembangunan mereka, merupakan jalan keluar—satu-satunya jalan keluar—yang ditawarkan, yang tak boleh dibatasi oleh keabsyahan perbedaan apapun, walaupun tak bisa menawarkan kemungkinan jalan keluar lainnya. Setelah melalui perdebatan sengit dalam sidang WTO, negeri-negeri termiskin hanya diberikan perbedaan jedah-waktu sedikit saja untuk sepenuhnya bisa memahami sistem yang jahat tersebut.

Sementara neoliberalism terus menerus mengulang-ulang wacananya—karena memperoleh kesempatan menguntungkan dengan adanya perdagangan bebas—parisipasi negeri-negeri terbelakang dalam dunia ekspor, pada tahun 1998, mengalami penurunan ketimbang pada tahun 1953, atau, 45 tahun yang lalu. Dengan luas area 8, 5 juta kilometer persegi, dengan jumlah penduduk sebanyak 168 juta orang, dan dengan nilai ekspor sebesar 51, 1 milyar dolar selama tahun 1998, nilai ekspor Brazil lebih kecil ketimbang nilai ekspor Belanda pada tahun yang sama, 198, 7 milyar dolar—padahal luas wilayahnya hanya sebesar 41.803 kilometer persegi, dan jumlah penduduknya hanya sebanyak 15, 7 juta orang.

Pada intinya, liberalisasi perdagangan berisi instrumen-instrumen untuk, secara sepihak, menghapuskan proteksi oleh negeri-negeri Selatan. Sementara, di sisi lain, bangsa-bangsa maju tidak melakukan hal yang sama: mempersulit ekspor Dunia Ketiga ke pasar-pasar mereka.

Bangsa-bangsa maju telah mendorong terjadinya liberalisasi dalam sektor-sektor strategis terutama yang bertalian dengan teknologi maju sehingga, dengan semakin bebasnya pasar, mereka bisa menikmati keuntungan yang sedemikian besar. Lihat saja kasus-kasus klasik: sektor jasa, teknologi informasi, bioteknologi dan telekomunikasi telah lama dideregulasikan.

Di sisi lain, sektor pertanian dan tekstil—dua sektor khusus yang sangat penting bagi negeri kita—masih belum sanggup menghapuskan pembatasan-pembatasan tersebut dalam pertemuan Uruguay Round karena sektor-sektor tersebut tidak menjadi kepentingan negeri-negeri maju.

Dalam (kebijaksanaan) OECD—klub negeri-negeri kaya—rata-rata tarif yang diterapkan pada ekspor barang-barang manufaktur dari negeri-negeri berkembang empat kali lebih tinggi ketimbang yang diterapkan pada ekspor negeri-negeri anggota OECD. Jadi, tembok-nyata hambatan non-tarif terletak di negeri-negeri Selatan itu sendiri.

Sementara itu, dalam perdagangan internasional, wacana hipokrit ultra-liberal memperoleh pembenarannya karena sesuai dengan proteksionisme selektif yang diterapkan oleh negeri-negeri Utara.
Komoditi-komoditi pokok masih merupakan rantai yang paling lemah dalam perdagangan dunia. Dalam kasus yang terjadi di 67 negeri-negeri Selatan, komoditi-komoditi tersebut nilainya belum sampai 50% dari nilai total pendapatan eskpor mereka.

Gelombang neoliberal telah melibas skema-skema pertahanan-diri yang sebenarnya terdapat pada komoditi-komoditi pokok. Diktum tertinggi ruang-pasar tidak bisa mentelorir distorsi apapun, karenanya, Kesepakatan Komoditi-komoditi Pokok dan formula pertahanan-diri lainnya—yang sebenarnya dirancang untuk menghadapi pertukaran yang tidak adil—dilanggar atau diabaikan begitu saja. Itu lah alasan mengapa sekarang daya beli komoditi-komoditi tersebut, seperti gula, coklat, kopi, dan lain-lainnya, hanya bernilai 20% dibandingkan dengan nilai pada tahun 1960; konsekuensinya, negeri-negeri tersebut tak bisa lagi menutup (bahkan) biaya-biaya produksinya.

Perlakuan istimewa dan perlakuan berbeda terhadap negeri-negeri miskin diberikan bukan atas dasar pertimbangan (tindakan mendasar) keadilan dan merupakan suatu keharusan yang tak boleh diabaikan, tapi atas dasar pertimbangan (tindakan temporer) karitas, belas-kasih. Sebenarnya, perlakuan berbeda tersebut bukan saja merupakan pengakuan atas banyaknya perbedaan dalam pembangunan—yang membutuhkan ukuran yang berbeda pula dalam menangani pembangunan di negeri-negeri kaya dan di negeri-negeri miskin—tapi seharusnya juga merupakan pengakuan bahwa (secara historis) kolonialisme negeri-negeri kaya terhadap negeri-negeri miskin di masa lalu dituntut memberikan konpensasi.

Kegagalan pertemuan Seattle membuktikan bahwa oposisi sudah bosan terhadap kebijakan-kebijakan neoliberal—bila dilihat dari opini umum yang semakin meluas ke berbagai sektor, baik di negeri-negeri Selatan maupun negeri-negeri Utara sendiri.
Amerika Serikat menyelenggarakan pertemuan kesepakatan perdagangan, yang seharusnya dimulai di Seattle, sebagai langkah yang lebih jauh lagi untuk meliberalisasikan perdagangan tak peduli, atau mungkin melupakan, bahwa Undang-undang Perdagangan Luar Negeri mereka, yang agresif dan diskriminatif, masih berlaku. Undang-undang tersebut memiliki aturan pelengkapnya—”Super-3101”—yang memberikan gambaran nyata tentang diskriminasi dan tindakan untuk menerapkan sanksi terhadap negeri-negeri lain dengan alasan untuk menindak mereka yang diasumsikan menentang/melanggar benteng-benteng yang melindungi produk-produk orang-orang Amerika, padahal asumsi-asumsinya didasari kualifikasi yang sewenang-wenang, sudah ditentukan sebelumnya, dan sering sinis—bahwa pemerintah memutuskan memberikan keistimewaan pada negeri-negeri lainnya atas dasar pertimbangan hak-hak azasi manusia.
Di Seattle, ada pemberontakan terhadap neoliberalisme. Contoh yang paling baru dalam menolak pemaksaan diberlakukannya Kesepakatan Multilateral dalam Investasi. Hal itu membuktikan bahwa fundamentalisme pasar yang agresif, yang menyebabkan kerusakan parah di negeri-negeri kita, sudah dilawan dengan keras dan gigih di dunia.
Sebagai tambahan bagi data bencana ekonomi yang telah disebutkan di atas: walau harga minyak meningkat secara signifikan, namun kenaikannya tersebut justru memberikan sumbangan terhadap memburuknya kondisi di negeri-negeri Selatan sebagai impotir-bersih sumberdaya alam yang sangat vital tersebut. Dunia Ketiga menghasilkan minyak sekitar 80 % dari total perdagangan dunia, dan sekitar 80 % dari jumlah tersebut diekspor ke negeri-negeri maju.

Bangsa-bangsa makmur mampu membayar seberapapun tingginya harga komoditi energi tersebut—yang mereka boroskan untuk mempertahankan tingkat konsumsi mewah mereka dan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan. Konsumsi minyak Amerika Serikat sekitar 8,1 ton per kapita, sementara Dunia Ketiga mengkonsumsi sekitar 0,8 ton per kapita, dan negeri termiskin Dunia Ketiga mengkonsumsi cuma sekitar 0,3 ton.
Dan harga minyak yang tiba-tiba melonjak, dari US $12 menjadi US $ 30 per barel, atau lebih, justru memiliki dampak yang sangat merusak bangsa-bangsa Dunia Ketiga—dan ini merupakan tambahan masalah terhadap masalah-masalah yang sudah ada, seperti masalah hutang eksternal, rendahnya harga komoditi-komoditi pokok, krisis finansial dan ketidakadilan dalam menanggung beban dampak negatif krisis. Sekarang, kita mengalami sebuah situasi buruk yang sama, yang merupakan tambahan masalah baru di kalangan bangsa-bangsa Selatan.

Minyak merupakan komoditi vital yang, secara universal, sangat dibutuhkan, yang bisa lari dari hukum-hukum pasar. Dengan satu atau lain cara, perusahaan-perusahaan transnasional dengan negeri-negeri Dunia Ketiga pengekspor minyak berupaya menghimpun dirinya agar bisa sama-sama mempertahankan kepentingan dirinya dalam bentuk menentukan harga minyak.

Rendahnya harga minyak lebih banyak menguntungkan negeri-negeri kaya yang sangat boros dalam penggunaan energi minyak, sehingga mereka terus menerus melakukan penelitian untuk mendapatkan deposit-deposit minyak baru yang dapat diekploitasi, demikian pula mereka berupaya mengembangkan teknologi yang dapat mengurangi konsumsi dan dapat melindungi lingkungan; dan itu mempengaruhi ekportir-eksportir Dunia Ketiga. Di sisi lain, tingginya harga minyak, yang menguntungkan para eksportir, dengan mudah bisa ditanggung oleh negeri-negeri kaya namun sangat membahayakan karena bisa menghancurkan sebagian besar ekonomi dunia kita.

Itu lah contoh yang baik untuk menunjukkan bahwa perlakuan yang berbeda terhadap negeri-negeri yang memiliki tahap pembangunan berlainan harus lah menjadi prinsip keadilan yang tak dapat dipisahkan dalam perdagangan dunia. Sangat lah tak adil bila negeri Dunia Ketiga seperti Mozambique, yang hanya memiliki US$ 84 per kapita GDP, harus mengeluarkan dana yang sama—untuk membeli komoditi vital tersebut—dengan negeri Switzerland, yang memiliki US$ 43.400 per kapita GDP, 516 kali (lebih tinggi) per kapita GDP negeri Mozambique.

Perjanjian San José, yang ditandatangani 20 tahun yang lalu oleh Venezuela dan Mozambique bersama sekelompok kecil negeri-negeri pengimpor minyak dalam regional tersebut, memberikan contoh yang baik tentang apa yang bisa dan harus ada dalam benak kita, benak setiap bangsa Dunia Ketiga, yang memiliki situasi yang sama—namun, walaupun demikian, pada saat ini kita harus menghindari kondisi-kondisi apapun sehubungan dengan perbedaan perlakuan yang mungkin akan mereka terima.

Beberapa negeri berada dalam keadaan tak mampu membeli lebih dari US$ 10 per barelnya, yang lainnya tak mampu membeli lebih dari US$ 15 per barelnya, dan tak satu pun negeri yang mampu membeli lebih dari US$ 20 per barelnya.

Bagaimanapun juga, negeri-negeri dunia kaya, yang cenderung membelanjakan uangnya dalam jumlah besar dan memiliki tingkat konsumerisme yang tinggi, mampu membeli lebih dari US$ 30 per barelnya tanpa mengakibatkan kehancuran pada negeri mereka. Karena mereka mengkonsumsi 80% ekspor negeri-negeri Dunia Ketiga, maka kelebihan harga dan keuntungan dari penjualan ke negeri-negeri kaya tersebut bisa menutupi kerugian akibat harga penjualan yang lebih rendah ke sebagian besar bangsa miskin lainnya, yang memang seharusnya hanya membeli US$ 20 per barelnya.

Itu lah jalan kongkrit dan ampuh yang bisa merubah kerjasama Selatan-Selatan menjadi instrumen yang memiki kekuatan besar bagi pembangunan Dunia Ketiga. Mengambil jalan yang lain berarti menghancurkan diri sendiri.

Dalam tingkatan dunia global, dimana pengetahuan merupakan kunci bagi pembangunan, kesenjangan teknologi antara Utara dan Selatan cenderung semakin melebar dengan meningkatnya swastanisasi penelitian ilmiah dan hasil-hasilnya.

Negeri-negeri maju, dengan populasi penduduk sekitar 15 % total penduduk dunia, sekarang ini mengkonsentrasikan 88% pengguna internet. Hanya di Amerika Serikat saja, terdapat lebih banyak komputer ketimbang di belahan bumi lainnya. Negeri-negeri tersebut menguasai 97% hak paten dunia dan menerima 90% hak lisensi internasional sementara, bagi sebagian besar negeri Selatan, penerapan hak pemilikan intelektual (intellectual property rights) belum ada atau sangat sulit dilakukan.

Dalam penelitian swasta, faktor keuntungan lebih didahulukan ketimbang faktor kebutuhan; adanya hak pemilikan intelektual mengakibatkan negeri-negeri terbelakang tak bisa memiliki akses terhadap pengetahuan, dan aturan hak paten tidak mengakui transformasi pengetahuan serta sistem-sistim kepemilikan tradisional, padahal sangat penting bagi negeri-negeri Selatan.
Penelitan swasta hanya mengabdi pada kebutuhan para konsumen-konsumen kaya.

Vaksin telah menjadi teknologi yang sangat efisien dan sangat murah untuk menjaga kesehatan karena bisa mencegah penyakit hanya dengan sekali dosis. Namun demikian, karena keuntungan yang diperoleh melalui pemakaian vaksinasi seperti itu akan semakin rendah, maka mereka membuat vaksin yang membutuhkan pemakaian berkali-kali, lebih dari sekali dosis.

Pengobatan baru, benih terbaik dan, secara umum, teknologi terbaik sudah dijadikan barang dagangan yang harganya hanya mampu ditanggung oleh negeri-negeri kaya.

Dampak buruk sosial perlombaan neoliberal tersebut sangat kasat mata. Di lebih 100 negeri, pendapatan per kapita lebih rendah ketimbang 15 tahun yang lalu. Sekarang ini, 1, 6 milyar orang hidup sangat mengenaskan ketimbang awal 1980-an.

Lebih dari 820 juta orang menderita kekurangan gizi, yang 790 jutanya hidup di Dunia Ketiga. Diperkirakan 507 juta orang yang hidup di Selatan sekarang ini tak akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-40, mati.

Di negeri-negeri Dunia Ketiga—yang perwakilannya hadir saat ini—2 dari setiap 5 anak menderita gangguan pertumbuhan, dan 1 dari setiap 3 anak kekuarangan berat badan; 30.000 sekarat setiap harinya, walaupun bisa disematkan; 2 juta anak-anak perempuan terpaksa terjerumus ke pelacuran; 130 juta anak-anak tak memiliki akses pada pendidikan dasar; dan 250 juta anak di bawah umur 15 tahun terpaksa harus bekerja.
Tatanan ekonomi dunia hanya mengabdi pada 20 % dari penduduk yang ada, dengan mengabaikan, merendahkan, dan menyingkirkan 80 % sisanya.

Kita tak bisa gampang-gampangan menerima begitu saja masuk ke abad berikutnya sebagai negeri yang terbelakang, miskin dan terhisap; korban kejahatan rasisme dan senopobia bisa menghambat akses terhadap pengetahuan dan menderita alienasi akibat kabar-kabar (yang sangat beorientasi pada konsumen) yang disampaikan orang-orang asing dan diglobalkan oleh media.

Sebagai anggota kelompok G 77, sudah tak saatnya lagi mengemis dari negeri-negeri maju, tunduk, menyerah, menghiba-hiba pada mereka, atau terpecah belah saling menghancurkan. Saatnya lah sekarang untuk memulihkan kembali semangat juang kita, kesatuan kita dan bersatu padu mempertahankan tuntutan-tuntutan kita

Lima puluh tahun yang lalu, kita dijanjikan bahwa suatu hari kelak tak akan ada lagi kesenjangan antara negeri-negeri maju dan negeri terbelakang. Kita dijanjikan dengan roti (kesejahteraan) dan keadilan; tapi, hingga saat ini, kita, negeri-negeri berkembang, hanya mendapatkan penderitaan, kelaparan dan semakin banyak ketidakadilan.

Dunia bisa saja diglobalkan di bawah kekuasaan neoliberal, tapi tak mungkin menguasai milyaran orang yang lapar kesejahteraan dan keadilan.

Gambaran ibu-ibu dan anak-anak yang mengalami ketakutan akan musim kemarau dan penderitaan lainnya di seluruh regional Afrika mengingatkan kita pada kamp konsentrasi Nazi Jerman; kondisi tersebut membangkitkan kembali ingatan kita pada tumpukan mayat laki-laki, perempuan-perempuan dan anak-anak yang sekarat.

Dibutuhkan perjanjian Nuremberg lainnya untuk mengadili kejahatan tatanan ekonomi yang dipaksakan pada kita, sebagaimana mereka memerintahkan pembunuhan orang-orang yang lapar dan tak mendapatkan perlidungan dari penyakit, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, setiap tiga tahunnya, lebih banyak ketimbang pembunuhan enam tahun Perang Dunia II.

Di sini, kita harus mendiskusikan apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya.

Kami, di Kuba, biasanya mengatakan: “Tanah air atau Mati!” Dalam pertemuan Pimpinan-pimpinan puncak negeri-negeri Dunia Ketiga, kita harus mengatakan: Bersatu dan pererat lah kerjasama, atau mati!”

Terimakasih banyak.



***



[1] Pidato Fidel Castro Ruz, Presiden Dewan Negara dan Dewan Menteri Republik Kuba, yang disampaikan pada Pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin-pemimpin Negara-negara Selatan yang tergabung dalam Kelompok 77, Havana, 12 April, 2000. Komentar Gus Dur terhadap pidato ini: terlalu bertele-tele dan membosankan.