Sumber : Tabloid Pembebasan, Edisi VIII/Thn II/Juli 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
* * *
Pengembaraan Intelektual Amir, Medan Keteguhan dan Kecerdasan Politik
MASA hidup Amir Sjarifuddin terentang sepanjang paruh pertama abad ke-20. Usia itu habis diserap oleh penemuan, keyakinan, dan kegagalan akan harapan-harapan besar dari jamannya. Itu terungkap dalam kata-kata "kemerdekaan nasional", "kedaulatan rakyat", dan "sosialisme".
Seperti juga di negeri-negeri bergolak lain pada massa itu, di Indonesia pun semua itu dipadatkan dalam sepatah kata saja: "revolusi".
Amir, sebagaimana pemuda seangkatan lainnya, disadarkan tentang arti kata "revolusi" dan janji-janjinya. Pertama melalui apa yang dipelajari dari guru Belanda mereka tentang Revolusi Prancis, ketika masih belajar di sekolah menengah dan sekolah tinggi hukum. Memang, ia lebih banyak berkiblat kepada Revolusi Prancis, dan bukan revolusi-revolusi Amerika atau Rusia.
Bagi Amir "Prinsip Harapan" (meminjam kata-kata Ernst Bloch) untuk Indonesia pertama-tama memperoleh bentuknya pada manifestasi tiga slogan: "satu nusa, satu bangsa, satu bahasa". Rangkaian konsep ini didasarkan pada gagasan akademis Belanda tentang Taal-, Land- en Volkerakunde sebagai keseluruhan, dan diambil oleh para mahasiswa yang menamakan diri bangsa Indonesia di tahun 1928—yang menurutnya seperti Yacobin, sebuah kelompok yang berperan dalam revolusi Prancis. Tetapi "Prinsip Harapan" itu juga berfungsi lain. Sebagai sarana memasuki Indonesia yang baru dirumuskan, yang sepertinya sudah ada, bisa dimengerti dan diterima oleh semua. Prinsip ini juga membentuk suatu labirin yang kabur dan goyah walaupun telah diberi contoh-contoh untuk meneranginya.
Sepanjang 1928-1948, Amir telah mengabdi pada kebenaran-kebenaran politik yang diyakininya. Dan untuk itu ia pun harus menempuh masa perjuangan yang penuh pergulatan, kekerasan, pengkhianatan, persatuan, serta keberpihakan. Namun dalam percaturan masa ini Amir merupakan salah satu pilar penyangga dengan pemikiran-pemikirannya yang cerdas dan lugas, serta berani dalam bertindak mengisi ruang kepemimpinan yang kosong—karena kegagalan gerakan radikal sebelumnya. Moderasi melanda hampir seluruh oposisi, sehingga dirinya mampu menerobos sebagai bagian dari empat serangkai Indonesia setelah Revolusi Nasional ‘45 dikobarkan yaitu Soekarno, Hatta, Syahrir, dan terakhir dia sendiri.
Amir Sjarifuddin lahir 27 April 1907 di Medan. Ayahnya Djamin gelar Baginda Soripada (1885-1949), seorang jaksa di Medan. Ibunya Basunu Siregar (1890-1931) dari keluarga Batak yang telah membaur dengan masyarakat Melayu-Islam di Deli. Ayahnya keturunan keluarga kepala adat dari Pasar Matanggor di Padang Lawas Tapanuli. Berkat koneksi, Soripada dapat diangkat menjadi asisten hoofddjaksa di Medan. Namun karena memukul seorang tahanan dipenjara Sibolga, ia dipecat dari jabatannya pada bulan April 1925 dan akhirnya dijatuhi hukuman penjara tiga setengah tahun, ditambah lima tahun tidak boleh bekerja sebagai pegawai negeri. Hukuman itu kemudian diperingan, dan terakhir dia menjadi seorang jurutulis pemerintah daerah di Tarutung.
Sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, yang meninggal secara tragis dengan menggantung diri di dapur rumahnya dengan alasan yang tidak diketahui. Amir sendiri adalah pribadi berbeda dari Sukarno, Hatta, dan Sjahrir. Amir tidak banyak menulis. Hanya beberapa karangan pendek pernah ditulisnya di sana-sini, tidak meninggalkan autobiografi, kumpulan pidato atau pun catatan-catatan.
Amir menikmati pendidikan di ELS atau sekolah dasar Belanda di Medan pada tahun 1914 hingga selesai Agustus 1921. Atas undangan saudara sepupunya, Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad dan belajar di kota Leiden sejak 1911, Amir datang di Leiden. Tak lama setelah kedatangannya dalam kurun waktu 1926-1927 dia menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Haarlem. Ia tinggal di rumah guru pemeluk Kristen Calvijn, Dirk Smink, dan di sini juga Mulia menumpang. Namun pada September 1927, sesudah lulus ujian tingkat kedua, Amir kembali ke kampung halaman karena masalah keluarga, walaupun teman-teman dekatnya mendesak agar menyelesaikan pendidikannya di Leiden. Kemudian Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia, menumpang di rumah Mulia (sepupunya) yang telah menjabat sebagai direktur sekolah pendidikan guru di Jatinegara. Kemudian Amir pindah ke asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106, ia ditampung oleh senior satu sekolahnya, Mr. Muhammad Yamin.
Militan Anti Fasis Ditengah Ditengah Sorak Sorai Efuria Kebangkitan Asia
Menjelang invasi Jepang ke Hindia Belanda, Amir berusaha—menyetujui dan menjalankan garis Komunis Internasional agar kaum kiri menggalang aliansi dengan kekuatan kapitalis untuk menghancurkan Fasisme. Barangkali ini mempunyai hubungan dengan pekerjaan politik Musso dengan kedatangannya ke Hindia Belanda dalam tahun 1936. Ia kemudian dihubungi oleh anggota-anggota kabinet Gubernur Jenderal, menggalang semua kekuatan anti-fasis untuk bekerja bersama dinas rahasia Belanda dalam menghadapi serbuan Jepang. Rencana itu tidak banyak mendapat sambutan. Rekan-rekannya sesama aktivis masih belum pulih kepercayaan terhadapnya akibat polemik di awal tahun 40-an, serta tidak paham akan strateginya melawan Jepang. Mereka ingin menempuh taktik lain yaitu, berkolaborasi dengan Jepang dengan harapan Jepang akan memberi kemerdekaan kepada Hindia Belanda setelah kolonialis Belanda dikalahkan. Dalam hal ini garis Amir yang terbukti benar.
Pada bulan Januari 1943 ia tertangkap oleh fasis Jepang, di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini dapat ditafsirkan sebagai terbongkarnya jaringan suatu organisasi anti fasisme Jepang yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan Amir. Terutama dari sisa-sisa hidup kelompok inilah Amir, kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat. Namun demikian identifikasi penting kejadian Surabaya itu, dari sedikit yang kita ketahui melalui sidang-sidang pengadilan mereka tahun 1944, hukuman terberat dijatuhkan pada bekas para pemimpin Gerindo dan Partindo Surabaya. Sebuah dokumen NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), jawatan rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut". Belanda mungkin tahu bahwa penghargaan berbau mitos terhadapnya di kalangan Pesindo berasal dari cerita para tahanan sesamanya. Bagaimana ia menghadapi siksaan fisik dan moral yang dijatuhkan Jepang. Diceritakan, misalnya, bagaimana ia tertawa ketika para penyiksa menggantungnya dengan kaki di atas.
Banyak kesan muncul tentang pribadi Amir dari kawan-kawannya, juga musuhnya. Soedjatmoko mendeskripsikan pribadi Amir sepanjang pengetahuannya tentang Amir sebagai "orang yang tinggi pengetahuannya, dengan kehangatan dan pesona pribadi yang luar biasa". Orang-orang yang pernah mengunjungi Amir di rumahnya yang sederhana di Menteng Pulo, teringat pada sambutannya yang langsung dan lugas. Kawan-kawan sekolahnya dari Gymnasium, Haarlem, juga mengenangnya sebagai seorang yang sangat senang bergaul. Membaca Hatta dan Sjahrir orang akan diberi kesan yang sama sekali berbeda. Seorang ambisius yang mentah, tidak berwatak, tidak berkeyakinan, yang gampang berganti pikiran seperti berganti baju. Seorang yang berangasan dan sewenang-wenang.
Kontra Revolusi 1948 Memahkotai Karakter Lembek Revolusi Nasional ‘45
Pasca kegagalan pemberontakan 1926—yang memunculkan reaksi keras rejim kolonial Hindia Belanda (berupa penangkapan, pembuangan, dan pembunuhan terhadap ribuan kaum kiri), kaum komunis kembali coba membangun organisasi secara ilegal, yang dipimpin oleh Musso. Kesalahan dalam membaca situasi obyektif menyebabkan mereka tetap berada dibawah tanah ketika revolusi nasional pecah—dimana berbagai spektrum politik lain telah muncul secara terbuka dihadapan massa rakyat pada saat itu, dan mengambil kepemimpinan politik. Disamping itu terpecahnya konsentrasi kader-kader komunis ke berbagai organisasi yang mereka bentuk waktu itu (PKI, PBI, dan Partai Sosialis), mengakibatkan kelemahan tersendiri bagi organisasi secara keseluruhan.
Persetujuan Renville adalah puncak kesalahan reaksioner, yang membawa Indonesia pada tepi jurang kolonialisme. Tanggungjawab yang berat ini terletak dipundak kaum Komunis, khususnya Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia. Kesalahan besar selanjutnya ialah kabinet Amir Sjarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis. Kaum Komunis pada waktu itu melupakan satu hal pokok yang pernah dikatakan oleh Lenin: "Soal pokok dari setiap revolusi adalah soal kekuasaan negara". Dengan bubarnya kabinet Amir Sjarifuddin, maka terbukalah jalan bagi elemen borjuasi komprador untuk memegang pimpinan pemerintahan, dan dengan demikian juga kepimpinan Revolusi Nasional. Sedangkan kaum Komunis mengisolasi dirinya dalam oposisi.
Dapat dikatakan, bahwa saat itulah revolusi nasional benar-benar berada dalam bahaya, yang makin lama makin membesar. Revolusi nasional makin lama makin jelas terperosok kedalam jurang kapitalisasi (penyerahan) kepada imperialisme Belanda cs, akibat politik kompromis yang sangat reaksioner dari elemen borjuasi Indonesia pemegang pimpinan pemerintahan. Politik kompromis ini makin menguntungkan imperialisme Belanda dan makin membesarkan bahaya bagi Indonesia.
Sesudah kaum Komunis tidak berada di pemerintahan, dan kemudian mulai giat bekerja dikalangan rakyat, mereka mulai menyadari kesalahan dan kekurangan-kekurangan yang telah mereka buat. Antara lain kelemahan organisasi Partai serta organisasi massa, terutama dikalangan kaum buruh dan tani. Mereka mulai insaf, bahwa terutama harus diusahakan penyelesaian soal agraria secepatnya, karena memang sangat kurang mendapat perhatian mereka, padahal masaalah tani adalah masaalah yang penting bagi Revolusi Nasional Indonesia.
Juga mulai diinsafi, bahwa dengan tidak adanya sokongan, terutama dari rakyat pekerja (buruh, tani-pekerja, dan pekerja lainnya) yang terorganisasi rapi, tidaklah mungkin mewujudkan hegemoni klas buruh dalam revolusi nasional kita ini. Tidak mungkin pula membentuk suatu pemerintahan kerakyatan yang kuat dan berdiri tegak. Oleh karenanya mereka kemudian berusaha dengan segiat-giatnya mengorganisasikan massa rakyat pekerja, agar dalam waktu yang pendek dapat menyusun organisasi yang rapi di berbagai sektor rakyat, yang berkewajiban sebagai tulang-punggung revolusi nasional kita.
Kemudian PKI menetapkan bahwa organisasi ini, dalam susunan yang baru, harus dengan tegas membatalkan persetujuan Linggarjati dan Renville, karena dalam prakteknya telah menjadi sumber dari segala keruwetan diantara pimpinan-pimpinan dan rakyat. Dengan dibatalkannya persetujuan Linggarjati dan Renville berarti Republik Indonesia merdeka sepenuhnya, dan rakyat tidak terikat lagi oleh persetujuan-persetujuan yang mengikat dan memperbudak. Hapusnya persetujuan Linggarjati dan Renville berarti juga, kekuasaan Belanda di Indonesia adalah pelanggaran kedaulatan, dan oleh karena itu tentara Belanda harus segera diusir. Hapusnya persetudjuan Linggadjati dan Renville menghilangkan segala kebimbangan dikalangan beberapa partai untuk memperluas dan meneguhkan hubungan republik dengan negeri-negeri lain. Dengan demikian republik juga mendapat kesempatan untuk menerobos blokade Belanda yang mengisolasi republik dari negeri-negeri luar dalam lapangan ekonomi dan politik.
Penolakan tersebut bukan karena Belanda terbukti tidak setia dan telah menginjak-injak persetujuan. Namun lebih karena alasan prinsipil, bahwa persetujuan-persetujuan itu mewujudkan negara yang pada hakekatnya adalah negara jajahan. Sebab itulah PKI akhirnya mengeluarkan slogan: "Merdeka se-penuh-penuhnya".
Penolakan persetujuan Linggadjati dan Renville berarti juga otokritik yang keras dikalangan PKI. Dan pengakuan salah ini kemudian coba untuk disampaikan pula kepada Rakyat-banyak. Dalam tulisan “Jalan Barunya” untuk mengkritik hal tersebut, Musso dengan jelas mengatakan:
“Kita saat ini sudah seharusnya menggabungkan diri dengan gerakan-gerakan anti-imperialis di Asia, di Eropa dan di Amerika, terutama sekali dengan Rakjat negeri Belanda jang progresif, jang sebagian besar dari mereka dipimpin oleh CPN. Partai ini walaupun sudah membuat kesalahan-kesalahan, adalah satu-satunja Partai klas buruh di negeri Belanda jang sungguh-sungguh membantu gerakan kemerdekaan kita pada waktu sebelum dan sesudah peperangan dunia kedua. CPN adalah djuga mendjadi sekutu kita jang semestinja, dan perhubungan kita dengan CPN harus lebih dikokohkan lagi. Lain daripada itu PKI harus terus-menerus mendesak CPN supaja benar² meninggalkan politik jang bersembojan: "Unie-verband" jang djahat itu, dan menggantinya dengan politik "INDONESIA MERDEKA SEPENUH-PENUHNYA". Tujuan PKI ialah mendirikan Republik Indonesia berdasarkan Demokrasi Rakyat, yang meliputi seluruh daerah Indonesia dan bebas dari pengaruh imperialisme serta anjing penjaganya yaitu Negara”.
Jelas dan tegas dirumuskan dalam resolusi "Jalan Baru untuk Republik Indonesia" musuh yang utama adalah imperialisme Belanda yang harus diusir dari wilayah Indonesia dan menegakkan kedaulatan rakyat Indonesia. Kaum komunis yang dituduh membikin sovyet di Madiun dan mengkhianati republik, justru menyatu dengan kekuatan rakyat yang teguh melawan Belanda.
Tapi bagi Hatta, dkk. musuhnya ialah PKI dan kekuatan progresif, bukan Imperialisme Belanda. Pembunuhan dan penyingkiran kekuatan komunis dan kekuatan progresif—melalui program rasionalisasi—telah melemahkan kekuatan republik yang memperjuangan kemerdekaan 100%, dan mengambil jalan kompromi dengan imperialis/kolonialis Belanda. Penyelesaian kompromi ini terwujud dalam hasil Konferensi Meja Bundar, dan pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai penjajahan model baru. Indonesia tidak hanya masih terikat secara politik, ekonomi, dan militer pada Belanda, tapi Belanda membuat problem kolonial yang baru: menolak untuk menyerahkan Irian Barat!
Akhir hidup Amir Sjariffudin
Menghantar para juru runding ke Konferensi Meja Bundar, pemerintahan Hatta perlu memastikan bahwa perlawanan terhadap hasil dari konferensi—yang merugikan republik—harus dicegah. Untuk itu program rasionalisasi terhadap angkatan bersenjata perlu diajukan, yang dilanjutkan dengan titipan program Red Drive Proposals dari A.S, untuk memusnahkan kaum kiri/progresif. Provokasi diintensifkan untuk memancing reaksi dari kaum kiri, sampai puncaknya, pemerintahan Hatta menuduh PKI berupaya membentuk sovyet di Madiun dan menyatakan perang terhadap mereka. Amir Sjarifuddin, sebagai salah seorang tokoh PKI, yang saat itu peristiwa Madiun meletus sedang berada di Jogjakarta dalam rangka kongres SBKA turut ditangkap beserta beberapa kawannya.
19 Desember 1948, sekitar tengah malam, di dekat desa Ngalihan, kepala Amir Sjarifuddin ditembak dengan pistol oleh seorang letnan Polisi Militer, sebuah satuan khusus dalam angkatan bersenjata Indonesia. Sebelum itu beberapa orang penduduk desa setempat diperintahkan menggali sebuah lubang kubur besar. Dari rombongan sebelas orang yang diangkut dengan truk dari penjara di Solo, Amir orang pertama yang dieksekusi malam itu. Beberapa hari sebelumnya, ia dan beberapa orang lainnya, secara diam-diam telah dipindahkan ke rumah penjara ini dari tempat penahanan mereka di Benteng Yogyakarta.
Rabu, 01 September 2010
Sneevliet: Dari Belanda Menebar Benih Radikalisme di Indonesia
Sumber : Arsip Tabloid Pembebasan
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
* * *
Dalam pustaka sejarah, nama Sneevliet lebih identik sebagai penyemai ‘virus’ ideologi komunisme, yang dibawanya dari Belanda. Sasarannya bukan hanya orang-orang Belanda yang ada di Indonesia, melainkan juga orang-orang Indonesia. Di negeri asalnya, dia adalah petaka bagi rezim. Kepalanya terlalu keras untuk ditundukkan. Akibatnya, dia masuk daftar buronan, yang siap diseret ke penjara kapan saja.
Bernama lengkap Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, kita lebih mengenalnya dengan nama nama Sneevliet. Ia lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Proses berpolitiknya dimulai ketika tahun 1901, dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Belanda. Akhirnya, pada usia 20–an, dia mulai berkenalan dengan gelanggang politik. Ia bergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) di Nederland hingga tahun 1909, yakni sebagai anggota Dewan Kota Zwolle. Setelah itu dia diangkat sebagai pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (National Union of Rail and Tramway Personnel) pada tahun 1911.
Di organisasi baru inilah, Snevlieet menunjukkan watak sejatinya, berani, dan tak pernah menyerah. Dia memimpin pemogokan-pemogokan buruh di Belanda, sehingga membuat namanya masuk dalam ‘daftar hitam’ di Belanda. Keberanian ini pastilah membuat rezim takut. Lewat federasi serikat buruh, yang dikuasai oleh pemerintah, dibuatlah cara untuk menekan Snevlieet. Sehingga, jabatan sebagai ketua serikat buruh kereta api cuma setahun dipegangnya. Pada tahun 1912, ia mengundurkan diri, setelah terjadi konflik yang panas antara serikat buruh yang dipimpinnya dengan federasi serikat buruh. Peristiwa itu terjadi setelah terjadinya pemogokan buruh-buruh kapal, di mana Sneevliet berdiri sebagai pimpinan aktif dalam pemogokan itu. Lepas dari aktivitasnya di Serikat Buruh, sempat membuat Sneevliet bimbang, ia bahkan berniat untuk mundur dari ranah pergerakan. Beralihlah dia ke dunia perdagangan, dan inilah jalan yang membawanya berkelana sampai ke Indonesia
Tahun 1913, untuk kali pertama, ia menginjakkan kaki ke Indonesia. Tepat pada saat itu, dunia pergerakan di Hindia Belanda tengah bersemi. Sneevliet, yang pada awalnya bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian di kota Surabaya, mulai terusik untuk kembali berpolitik. Namun saat itu kondisi kerjanya masih belum mapan, ia pindah ke Semarang dan diangkat menjadi sekretaris di sebuah perusahaan.
Mendirikan ISDV
Hasrat politiknya rupanya tak bisa ditahan-tahan. Dia sempat aktif menjadi sekretaris dari Handelsvereeniging (Asosiasi Buruh) di Semarang. Pada tahun 1914, ia mendirikan sebuah organisasi politik yang diberi nama Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Awalnya anggotanya hanya 65 orang, yang kesemuanya adalah orang Belanda dan kalangan Indo-Belanda. Sneevliet masih belum yakin untuk merekrut anggota dari kaum bumi putra. Dalam waktu setahun kemudian, organisasi tersebut mengalami perkembangan pesat menjadi ratusan anggotanya. Perkembangan tersebut tak terlepas dari peranan koran organisasi berbahasa Belanda, Het Vrije Woord yang menjadi corong propaganda ISDV. Beberapa tokoh Belanda yang aktif membantu Sneevliet adalah Bergsma, Adolf Baars, Van Burink, Brandsteder dan HW Dekker. Di kalangan pemuda Indonesia tersebut nama-nama Semaun, Alimin dan Darsono. Pengaruh ISDV juga meluas di kalngan buruh buruh kereta api dan trem yang bernaung dibawah organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VTSP).
Dalam waktu yang bersamaan, pergerakan di Hindia Belanda tengah mengalami masa terang. Sarekat Islam, terus membesar dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu ISDV, merubah haluan untuk menitik beratkan pengorganisiran pada anggota-anggota maju dari Sarekat Islam, dan inilah cikal bakal generasi pertama perekrutan kader-kader Marxis.
Pada bulan Maret 1917 Sneeveliet menulis artikel berjudul Zegepraal (kemenangan), yang memuliakan Revolusi Februari Kerensky di Rusia dengan kata-kata:
Telah berabad-abad disini hidup berjuta-juta rakyat yang menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka yang mengerakan massa ini untuk menguasai nasibnya sendiri. Wahai rakyat di Jawa, revolusi Rusia juga merupakan pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta huruf seperti kau. Bangsa Rusia pun memenangkan kejayaan hanya dengan perjuangan terus-menerus melawan pemerintahan paksa yang menyesatkan. Apakah penabur dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan ekonomi rakyat di Indonesia memperlipat kegiatannya? Dan tetap bekerja dengan tidak henti-hentinya, meskipun banyak benih jatuh di atas batu karang dan hanya nampak sedikit yang tumbuh? Dan tetap bekerja melawan segala usaha penindasan dari gerakan kemerdekaan ini?Maka tidak bisa lain bahwa rakyat di Jawa, diseluruh Indonesia akan menemukan apa yang ditemukan oleh rakyat Rusia: kemenangan yang gilang gemilang.
Organisasi ISDV bergerak cepat dengan strategi mereka untuk merekrut massa dari SI. Pengaruhnya yang kuat ternyata mengkhawatirkan pemerintah Hindia Belanda, sebab pada saat yang sama, pemogokan-pemogokan buruh bertambah kuat dan meluas. Semaun, Darsono dan Alimin, adalah pimpinan-pimpinan SI Semarang yang berhasil direkrut oleh Snevlieet. Mereka punya kesamaan pandangan, prinsip-prinsip ideologi radikal dengan ISDV. Pada akhirnya perpecahan di tubuh SI tak terelakkan, perpecahan antar sayap moderat dan sayap radikal. SI Putih yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdul Muis, serta SI Merah yang dikepalai oleh Semaun dan teman temannya.
Kemenangan revolusi Rusia makin banyak jadi bahan perbincangan rakyat. Agar pengaruh ISDV tidak semakin mengeruhkan situasi, yang dikhawatirkan memberi kemungkinan terjadinya pemberontakan rakyat, maka pemerintah Hindia Belanda menyusun rencana untuk menangkap Sneevliet dan menyeseretnya ke pengadilan. Sneeliet pun, pada bulan Desember 1918, akhirnya diusir dari Indonesia karena aktivitas politiknya.
ISDV pun mulai kehilangan kendali akibat para pimpinannya diusir dari Indonesia. Juga mulai dijauhi massa akibat prinsip-prinsip radikal mereka yang masih belum bisa dipahami massa. Semaun pun mengambil keputusan, mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Tujuh bulan kemudian, partai ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Semaun terpilih sebagai ketua.
Akan halnya dengan Snevlieet, ia diproses oleh jaksa dan hakim Belanda dari pemerintahan Hindia Belanda. Seorang Belanda kontra Belanda; tetapi juga seorang sosialis kontra kolonialis. Di depan pengadilan yang terjadi pada bulan November 1917, ia membacakan pidato pembelaannya setebal 366 halaman. Pidato pembelaanya itulah yang merupakan sumber referensi mengenai ajaran-ajaran sosialisme secara ilmiah, yang dipakai oleh banyak pemimpin-pemimpin bangsa kita. Salah satunya adalah Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Bung Karno ayang dibacakan di muka Pengadilan di Bandung pada tahun 1930. Pledoi setebal 183 halaman itu jelas-jelas menunjukkan pengaruh yang besar sekali dari jalan pikiran Sneevliet yang dikembangkannya di tahun 1917.
Sejak saat itulah ajaran-ajaran Marxisme meluas di Indonesia. PKI berdiri di Semarang, pada tahun 1920 dengan Semaun-Darsono yang mempeloporinya. Di Surabaya Tjokroaminoto dari Serikat Islam, mulai juga memakai referensi-referensi kiri dan literatur yang disebut oleh Sneevliet di dalam pembelaannya, seperti: artikel Das Kapital-nya Marx.
Berbagai literatur tersebut mulai mulai dicari-cari beberapa aktivis. Ada juga yang berusaha mendapatkannya dengan membeli dan meminjam dari toko buku ISDV, dan dikaji di rumah Tjokroaminoto bersama-sama Surjopranoto, Alimin dan lain-lain. Termasuk salah satunya adalah Bung Karno, pemuda cerdas yang tahun 1916-1920 indekos pada keluarga Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan di Surabaya. Hal tersebut diakuinya dalam sebuah surat yang ditulisnya saat dia menjalani masa pembuangan di Bengkulu, tahun 1941:
“Sejak saya sebagai seorang anak plonco, untuk pertama kalinya saya belajar kenal dengan teori Marxisme dari mulut seorang guru HBS yang berhaluan sosial demokrat (C. Hartough namanya) sampai memahamkan sendiri teori itu dengan membaca banyak-banyak buku Marxisme dari semua corak, sampai bekerja di dalam aktivitas politik, sampai sekarang, maka teori Marxisme bagiku adalah satu-satunya teori yang saya anggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, soal-soal politik, soal-soal kemasyarakatan.”
Terinspirasi oleh gerakan revolusi yang dilakukan oleh Bolshevik, ISDV mulai mengorganisir kalangan militer dengan membentuk dewan-dewan tentara dan pelaut. Dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan sekitar tiga ribu prajurit dan pelaut menjadi anggota gerakan yang kemudian dikenal dengan nama tentara merah. Akan tetapi, tanpa diduga, waktu kemudian berjalan bertolak belakang dengan semangat revolusioner yang tengah berkembang. Revolusi Rusia yang menjadi perspektif bagi tumbuhnya revolusi Eropa dan negeri-negeri lain di Eropa, di belahan Eropa lainnya justru mengalami kekalahan dan diberangus, termasuk di Belanda. Akibatnya kemudian berimbas pula pada pergerakan di Indonesia. Reaksi juga menjalar ke Hindia Belanda, anggota-anggota tentara merah dan anggota ISDV ditangkap dan dipenjara, seiring dengan kekalahan dan gerakan revolusi Belanda.
Langkah Sneeviet pun masih belum terhenti. Pada 1920 dia hadir pada Kongres Kedua Komintern di Moskow sebagai perwakilan dari ISDV. Dan dari 1921 hingga 1923 menjadi perwakilan dari Comintern di China. Sekembalinya ke Belanda, dia menjadi ketua Sekretariat Nasional Buruh. Pada tahun 1929, dia mendirikan Partai Sosialis Revolusioner dan terpilih sebagai ketuanya. Setelah penggabungan partainya berubah nama menjadi Revolutionary Socialist Workers' Party, dimana Sneevliet menjadi sekretaris pertama dan kemudian kemudian menjadi ketua hingga 1940. Dia juga sempat menjadi anggota Parlemen dari 1933 hingga 1937. Pada saat perang Dunia Kedua dia memimpin grup pertahanan bernama Marx-Lenin-Luxemburg-Front. Dia kemudian tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1942.
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
* * *
Dalam pustaka sejarah, nama Sneevliet lebih identik sebagai penyemai ‘virus’ ideologi komunisme, yang dibawanya dari Belanda. Sasarannya bukan hanya orang-orang Belanda yang ada di Indonesia, melainkan juga orang-orang Indonesia. Di negeri asalnya, dia adalah petaka bagi rezim. Kepalanya terlalu keras untuk ditundukkan. Akibatnya, dia masuk daftar buronan, yang siap diseret ke penjara kapan saja.
Bernama lengkap Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, kita lebih mengenalnya dengan nama nama Sneevliet. Ia lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Proses berpolitiknya dimulai ketika tahun 1901, dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Belanda. Akhirnya, pada usia 20–an, dia mulai berkenalan dengan gelanggang politik. Ia bergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) di Nederland hingga tahun 1909, yakni sebagai anggota Dewan Kota Zwolle. Setelah itu dia diangkat sebagai pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (National Union of Rail and Tramway Personnel) pada tahun 1911.
Di organisasi baru inilah, Snevlieet menunjukkan watak sejatinya, berani, dan tak pernah menyerah. Dia memimpin pemogokan-pemogokan buruh di Belanda, sehingga membuat namanya masuk dalam ‘daftar hitam’ di Belanda. Keberanian ini pastilah membuat rezim takut. Lewat federasi serikat buruh, yang dikuasai oleh pemerintah, dibuatlah cara untuk menekan Snevlieet. Sehingga, jabatan sebagai ketua serikat buruh kereta api cuma setahun dipegangnya. Pada tahun 1912, ia mengundurkan diri, setelah terjadi konflik yang panas antara serikat buruh yang dipimpinnya dengan federasi serikat buruh. Peristiwa itu terjadi setelah terjadinya pemogokan buruh-buruh kapal, di mana Sneevliet berdiri sebagai pimpinan aktif dalam pemogokan itu. Lepas dari aktivitasnya di Serikat Buruh, sempat membuat Sneevliet bimbang, ia bahkan berniat untuk mundur dari ranah pergerakan. Beralihlah dia ke dunia perdagangan, dan inilah jalan yang membawanya berkelana sampai ke Indonesia
Tahun 1913, untuk kali pertama, ia menginjakkan kaki ke Indonesia. Tepat pada saat itu, dunia pergerakan di Hindia Belanda tengah bersemi. Sneevliet, yang pada awalnya bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian di kota Surabaya, mulai terusik untuk kembali berpolitik. Namun saat itu kondisi kerjanya masih belum mapan, ia pindah ke Semarang dan diangkat menjadi sekretaris di sebuah perusahaan.
Mendirikan ISDV
Hasrat politiknya rupanya tak bisa ditahan-tahan. Dia sempat aktif menjadi sekretaris dari Handelsvereeniging (Asosiasi Buruh) di Semarang. Pada tahun 1914, ia mendirikan sebuah organisasi politik yang diberi nama Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Awalnya anggotanya hanya 65 orang, yang kesemuanya adalah orang Belanda dan kalangan Indo-Belanda. Sneevliet masih belum yakin untuk merekrut anggota dari kaum bumi putra. Dalam waktu setahun kemudian, organisasi tersebut mengalami perkembangan pesat menjadi ratusan anggotanya. Perkembangan tersebut tak terlepas dari peranan koran organisasi berbahasa Belanda, Het Vrije Woord yang menjadi corong propaganda ISDV. Beberapa tokoh Belanda yang aktif membantu Sneevliet adalah Bergsma, Adolf Baars, Van Burink, Brandsteder dan HW Dekker. Di kalangan pemuda Indonesia tersebut nama-nama Semaun, Alimin dan Darsono. Pengaruh ISDV juga meluas di kalngan buruh buruh kereta api dan trem yang bernaung dibawah organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VTSP).
Dalam waktu yang bersamaan, pergerakan di Hindia Belanda tengah mengalami masa terang. Sarekat Islam, terus membesar dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu ISDV, merubah haluan untuk menitik beratkan pengorganisiran pada anggota-anggota maju dari Sarekat Islam, dan inilah cikal bakal generasi pertama perekrutan kader-kader Marxis.
Pada bulan Maret 1917 Sneeveliet menulis artikel berjudul Zegepraal (kemenangan), yang memuliakan Revolusi Februari Kerensky di Rusia dengan kata-kata:
Telah berabad-abad disini hidup berjuta-juta rakyat yang menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka yang mengerakan massa ini untuk menguasai nasibnya sendiri. Wahai rakyat di Jawa, revolusi Rusia juga merupakan pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta huruf seperti kau. Bangsa Rusia pun memenangkan kejayaan hanya dengan perjuangan terus-menerus melawan pemerintahan paksa yang menyesatkan. Apakah penabur dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan ekonomi rakyat di Indonesia memperlipat kegiatannya? Dan tetap bekerja dengan tidak henti-hentinya, meskipun banyak benih jatuh di atas batu karang dan hanya nampak sedikit yang tumbuh? Dan tetap bekerja melawan segala usaha penindasan dari gerakan kemerdekaan ini?Maka tidak bisa lain bahwa rakyat di Jawa, diseluruh Indonesia akan menemukan apa yang ditemukan oleh rakyat Rusia: kemenangan yang gilang gemilang.
Organisasi ISDV bergerak cepat dengan strategi mereka untuk merekrut massa dari SI. Pengaruhnya yang kuat ternyata mengkhawatirkan pemerintah Hindia Belanda, sebab pada saat yang sama, pemogokan-pemogokan buruh bertambah kuat dan meluas. Semaun, Darsono dan Alimin, adalah pimpinan-pimpinan SI Semarang yang berhasil direkrut oleh Snevlieet. Mereka punya kesamaan pandangan, prinsip-prinsip ideologi radikal dengan ISDV. Pada akhirnya perpecahan di tubuh SI tak terelakkan, perpecahan antar sayap moderat dan sayap radikal. SI Putih yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdul Muis, serta SI Merah yang dikepalai oleh Semaun dan teman temannya.
Kemenangan revolusi Rusia makin banyak jadi bahan perbincangan rakyat. Agar pengaruh ISDV tidak semakin mengeruhkan situasi, yang dikhawatirkan memberi kemungkinan terjadinya pemberontakan rakyat, maka pemerintah Hindia Belanda menyusun rencana untuk menangkap Sneevliet dan menyeseretnya ke pengadilan. Sneeliet pun, pada bulan Desember 1918, akhirnya diusir dari Indonesia karena aktivitas politiknya.
ISDV pun mulai kehilangan kendali akibat para pimpinannya diusir dari Indonesia. Juga mulai dijauhi massa akibat prinsip-prinsip radikal mereka yang masih belum bisa dipahami massa. Semaun pun mengambil keputusan, mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Tujuh bulan kemudian, partai ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Semaun terpilih sebagai ketua.
Akan halnya dengan Snevlieet, ia diproses oleh jaksa dan hakim Belanda dari pemerintahan Hindia Belanda. Seorang Belanda kontra Belanda; tetapi juga seorang sosialis kontra kolonialis. Di depan pengadilan yang terjadi pada bulan November 1917, ia membacakan pidato pembelaannya setebal 366 halaman. Pidato pembelaanya itulah yang merupakan sumber referensi mengenai ajaran-ajaran sosialisme secara ilmiah, yang dipakai oleh banyak pemimpin-pemimpin bangsa kita. Salah satunya adalah Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Bung Karno ayang dibacakan di muka Pengadilan di Bandung pada tahun 1930. Pledoi setebal 183 halaman itu jelas-jelas menunjukkan pengaruh yang besar sekali dari jalan pikiran Sneevliet yang dikembangkannya di tahun 1917.
Sejak saat itulah ajaran-ajaran Marxisme meluas di Indonesia. PKI berdiri di Semarang, pada tahun 1920 dengan Semaun-Darsono yang mempeloporinya. Di Surabaya Tjokroaminoto dari Serikat Islam, mulai juga memakai referensi-referensi kiri dan literatur yang disebut oleh Sneevliet di dalam pembelaannya, seperti: artikel Das Kapital-nya Marx.
Berbagai literatur tersebut mulai mulai dicari-cari beberapa aktivis. Ada juga yang berusaha mendapatkannya dengan membeli dan meminjam dari toko buku ISDV, dan dikaji di rumah Tjokroaminoto bersama-sama Surjopranoto, Alimin dan lain-lain. Termasuk salah satunya adalah Bung Karno, pemuda cerdas yang tahun 1916-1920 indekos pada keluarga Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan di Surabaya. Hal tersebut diakuinya dalam sebuah surat yang ditulisnya saat dia menjalani masa pembuangan di Bengkulu, tahun 1941:
“Sejak saya sebagai seorang anak plonco, untuk pertama kalinya saya belajar kenal dengan teori Marxisme dari mulut seorang guru HBS yang berhaluan sosial demokrat (C. Hartough namanya) sampai memahamkan sendiri teori itu dengan membaca banyak-banyak buku Marxisme dari semua corak, sampai bekerja di dalam aktivitas politik, sampai sekarang, maka teori Marxisme bagiku adalah satu-satunya teori yang saya anggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, soal-soal politik, soal-soal kemasyarakatan.”
Terinspirasi oleh gerakan revolusi yang dilakukan oleh Bolshevik, ISDV mulai mengorganisir kalangan militer dengan membentuk dewan-dewan tentara dan pelaut. Dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan sekitar tiga ribu prajurit dan pelaut menjadi anggota gerakan yang kemudian dikenal dengan nama tentara merah. Akan tetapi, tanpa diduga, waktu kemudian berjalan bertolak belakang dengan semangat revolusioner yang tengah berkembang. Revolusi Rusia yang menjadi perspektif bagi tumbuhnya revolusi Eropa dan negeri-negeri lain di Eropa, di belahan Eropa lainnya justru mengalami kekalahan dan diberangus, termasuk di Belanda. Akibatnya kemudian berimbas pula pada pergerakan di Indonesia. Reaksi juga menjalar ke Hindia Belanda, anggota-anggota tentara merah dan anggota ISDV ditangkap dan dipenjara, seiring dengan kekalahan dan gerakan revolusi Belanda.
Langkah Sneeviet pun masih belum terhenti. Pada 1920 dia hadir pada Kongres Kedua Komintern di Moskow sebagai perwakilan dari ISDV. Dan dari 1921 hingga 1923 menjadi perwakilan dari Comintern di China. Sekembalinya ke Belanda, dia menjadi ketua Sekretariat Nasional Buruh. Pada tahun 1929, dia mendirikan Partai Sosialis Revolusioner dan terpilih sebagai ketuanya. Setelah penggabungan partainya berubah nama menjadi Revolutionary Socialist Workers' Party, dimana Sneevliet menjadi sekretaris pertama dan kemudian kemudian menjadi ketua hingga 1940. Dia juga sempat menjadi anggota Parlemen dari 1933 hingga 1937. Pada saat perang Dunia Kedua dia memimpin grup pertahanan bernama Marx-Lenin-Luxemburg-Front. Dia kemudian tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1942.
Label:
Bacaan
Ribuan Buruh Panarub Tangerang Mogok Kerja
Hasan Kurniawan - Okezone
ilustrasi: dok okezone
TANGERANG - Ribuan buruh PT Panarub Industri di Jalan Raya Mauk, KM 1, Kabupaten Tangerang melakukan aksi mogok kerja menuntut kenaikan uang makan dan pemberian cuti Lebaran.
Dalam aksinya buruh melakukan orasi dan membawa poster berisi tuntutan mereka. "Naikan uang makan dan berikan cuti Lebaran selama 6 hari,"teriak buruh.
Koordinator Serikat Buruh Garmen, Tekstil dan Sepatu, Sari mengatakan jatah uang makan bagi buruh selama dua tahun ini hanya Rp 5.000. Hal ini tentu saja masih sangat jauh dari kesejahteraan buruh terlebih kebutuhan hidup terus meningkat.
"Jatah uang makan tersebut tentu saja tidak cukup walau makan dengan lauk yang sederhana,"katanya ditemui di lokasi aksi, Selasa, (31/8/2010).
Selain jatah uang makan minta dinaikkan, buruh juga meminta cuti libur lebaran selama 6 hari. Sebelumnya perusahaan memberikan cuti selama 5 hari. "Kami minta cuti lebaran selama 6 hari karena selama ini kami sudah bekerja dengan jam tinggi dan upah yang masih jauh dari kesejahteraan,"pungkasnya.
(crl)
ilustrasi: dok okezone
TANGERANG - Ribuan buruh PT Panarub Industri di Jalan Raya Mauk, KM 1, Kabupaten Tangerang melakukan aksi mogok kerja menuntut kenaikan uang makan dan pemberian cuti Lebaran.
Dalam aksinya buruh melakukan orasi dan membawa poster berisi tuntutan mereka. "Naikan uang makan dan berikan cuti Lebaran selama 6 hari,"teriak buruh.
Koordinator Serikat Buruh Garmen, Tekstil dan Sepatu, Sari mengatakan jatah uang makan bagi buruh selama dua tahun ini hanya Rp 5.000. Hal ini tentu saja masih sangat jauh dari kesejahteraan buruh terlebih kebutuhan hidup terus meningkat.
"Jatah uang makan tersebut tentu saja tidak cukup walau makan dengan lauk yang sederhana,"katanya ditemui di lokasi aksi, Selasa, (31/8/2010).
Selain jatah uang makan minta dinaikkan, buruh juga meminta cuti libur lebaran selama 6 hari. Sebelumnya perusahaan memberikan cuti selama 5 hari. "Kami minta cuti lebaran selama 6 hari karena selama ini kami sudah bekerja dengan jam tinggi dan upah yang masih jauh dari kesejahteraan,"pungkasnya.
(crl)
Label:
Kabar Kawan
Maskapai Batalkan Penerbangan, Presiden Filipina Bertindak
Anwar Khumaini - detikNews
Manila - Presiden Filipina Benigno Aquino mengatakan pemerintah akan campur tangan dalam perselisihan perburuhan antara pilot maskapai Philippine Airlines (PAL) yang telah menyebabkan pembatalan penerbangan.
Aquino mengatakan, Menteri Kehakiman, Transportasi, Tenaga Kerja pada Senin (2/8/2010) akan bertemu secara terpisah dengan petinggi PAL dan wakil dari serikat pilot untuk menyelesaikan masalah ini.
"Mudah-mudahan kita bisa mencari solusinya sehingga masyarakat tidak dirugikan akibat sengketa perusahaan," kata Aquino seperti dilansir AFP, Senin (2/8/2010).
Dalam sebuah pernyataan hari Minggu, PAL mengatakan menolak pengunduran diri lebih dari 24 pilot dan memberi mereka waktu seminggu untuk kembali bekerja atau menghadapi dakwaan perdata dan pidana.
Sedikitnya 16 penerbangan domestik dan internasional telah dibatalkan, termasuk tiga ke Hong Kong, setelah 13 kapten dan 12 perwira pertama yang menerbangkan Airbus A319 dan A320 mogok kerja.
"Mereka pergi tanpa memberi kami cukup waktu untuk melatih penggantinya," kata juru bicara PAL.
"Beberapa dari mereka bahkan berutang pada PAL jutaan peso untuk biaya pelatihan," imbuhnya.
Manila - Presiden Filipina Benigno Aquino mengatakan pemerintah akan campur tangan dalam perselisihan perburuhan antara pilot maskapai Philippine Airlines (PAL) yang telah menyebabkan pembatalan penerbangan.
Aquino mengatakan, Menteri Kehakiman, Transportasi, Tenaga Kerja pada Senin (2/8/2010) akan bertemu secara terpisah dengan petinggi PAL dan wakil dari serikat pilot untuk menyelesaikan masalah ini.
"Mudah-mudahan kita bisa mencari solusinya sehingga masyarakat tidak dirugikan akibat sengketa perusahaan," kata Aquino seperti dilansir AFP, Senin (2/8/2010).
Dalam sebuah pernyataan hari Minggu, PAL mengatakan menolak pengunduran diri lebih dari 24 pilot dan memberi mereka waktu seminggu untuk kembali bekerja atau menghadapi dakwaan perdata dan pidana.
Sedikitnya 16 penerbangan domestik dan internasional telah dibatalkan, termasuk tiga ke Hong Kong, setelah 13 kapten dan 12 perwira pertama yang menerbangkan Airbus A319 dan A320 mogok kerja.
"Mereka pergi tanpa memberi kami cukup waktu untuk melatih penggantinya," kata juru bicara PAL.
"Beberapa dari mereka bahkan berutang pada PAL jutaan peso untuk biaya pelatihan," imbuhnya.
Label:
Kabar Kawan
Afrika Selatan mogok
BBCIndonesia.com - detikNews
Warga berdebat dengan petugas Ribuan pegawai negeri Afrika Selatan turun ke jalan-jalan sejumlah kota besar karena pertikaian dengan pemerintah semakin meruncing.
Para guru, petugas rumah sakit dan pegawai negeri ikut serta dalam unjuk rasa pada hari ke sembilan pemogokan karena gaji.
Tetapi pengadilan melarang petugas polisi bergabung dalam unjuk rasa. Para petugas yang mogok akan diberhentikan, kata pejabat polisi.
Para pekerja meminta peningkatan gaji sebesar 8,6%. Mereka marah karena pemerintah hanya menawarkan 7%.
Ribuan anggota serikat buruh dari federasi Cosatu, yang menyatukan sejumlah serikat beranggotakan lebih sejuta pekerja, ikut serta dalam demonstrasi di seluruh negeri.
Di pusat perdagangan Johannesburg, ratusan pengunjuk rasa yang sebagian besar mengenakan kaus merah, menyanyi dan menari di jalan-jalan.
Wartawan BBC Karen Allen berbicara dengan seorang demonstran yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai guru. Dia mengatakan gaji sebesar US$6.000 atau Rp53 juta tidaklah cukup.
Sementara itu, ribuan pegawai negeri berpawai ke gedung parlemen di Cape Town.
Warga berdebat dengan petugas Ribuan pegawai negeri Afrika Selatan turun ke jalan-jalan sejumlah kota besar karena pertikaian dengan pemerintah semakin meruncing.
Para guru, petugas rumah sakit dan pegawai negeri ikut serta dalam unjuk rasa pada hari ke sembilan pemogokan karena gaji.
Tetapi pengadilan melarang petugas polisi bergabung dalam unjuk rasa. Para petugas yang mogok akan diberhentikan, kata pejabat polisi.
Para pekerja meminta peningkatan gaji sebesar 8,6%. Mereka marah karena pemerintah hanya menawarkan 7%.
Ribuan anggota serikat buruh dari federasi Cosatu, yang menyatukan sejumlah serikat beranggotakan lebih sejuta pekerja, ikut serta dalam demonstrasi di seluruh negeri.
Di pusat perdagangan Johannesburg, ratusan pengunjuk rasa yang sebagian besar mengenakan kaus merah, menyanyi dan menari di jalan-jalan.
Wartawan BBC Karen Allen berbicara dengan seorang demonstran yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai guru. Dia mengatakan gaji sebesar US$6.000 atau Rp53 juta tidaklah cukup.
Sementara itu, ribuan pegawai negeri berpawai ke gedung parlemen di Cape Town.
Label:
Kabar Kawan
Demo LSM Bendera Tanggapi Pidato SBY Ricuh
Demo LSM Bendera Tanggapi Pidato SBY Ricuh
Andi Saputra - detikNews
Jakarta - Demonstrasi LSM Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) menanggapi pidato SBY malam ini berakhir ricuh. Kericuhan dipicu saat mereka dilarang membakar bendera Malaysia. Akibatnya salah seorang anggota polisi berpakaian preman terkena pukulan tongkat demonstran.
"Kami hanya ingin menyuarakan aspirasi kami. Tolong polisi jangan membela Malaysia," teriak orator, Mustar Bonaventura di maskar LSM Bendera, Jalan Diponegoro 58, Jakarta, Rabu,(1/9/2010).
Dalam aksinya, mereka berusaha memblokir jalan tapi dicegah polisi. Lantas sekitar 30-an anggota LSM Bendera mengencingi bendera Malaysia. Lantas mereka membakar bendera Malaysia. Upaya ini dicegah oleh Kapolsek Menteng, Kompol Arsdo.
Sayang, usaha ini mendapat perlawanan dari LSM Bendera sehingga terjadi kericuhan. Sebuah tongkat yang dipegang demosantran pun melayang megenai muka seorang anggota polisi. Lantas, situasi yang semakin memanas membuat polisi mendesak masuk demonstran ke dalam markas LSM Bendera.
Akibat keributan ini, Jalan Diponegoro macet hingga arah Tugu Proklamasi. Namun kini situasi berangsur-angsur reda. Demonstran hanya bertahan di dalam markasnya untuk melakukan orasi. "SBY hanya mementingkan kepentingan Malaysia, kepentingan negara sendiri dilupakan," teriak Bonaventura.
Andi Saputra - detikNews
Jakarta - Demonstrasi LSM Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) menanggapi pidato SBY malam ini berakhir ricuh. Kericuhan dipicu saat mereka dilarang membakar bendera Malaysia. Akibatnya salah seorang anggota polisi berpakaian preman terkena pukulan tongkat demonstran.
"Kami hanya ingin menyuarakan aspirasi kami. Tolong polisi jangan membela Malaysia," teriak orator, Mustar Bonaventura di maskar LSM Bendera, Jalan Diponegoro 58, Jakarta, Rabu,(1/9/2010).
Dalam aksinya, mereka berusaha memblokir jalan tapi dicegah polisi. Lantas sekitar 30-an anggota LSM Bendera mengencingi bendera Malaysia. Lantas mereka membakar bendera Malaysia. Upaya ini dicegah oleh Kapolsek Menteng, Kompol Arsdo.
Sayang, usaha ini mendapat perlawanan dari LSM Bendera sehingga terjadi kericuhan. Sebuah tongkat yang dipegang demosantran pun melayang megenai muka seorang anggota polisi. Lantas, situasi yang semakin memanas membuat polisi mendesak masuk demonstran ke dalam markas LSM Bendera.
Akibat keributan ini, Jalan Diponegoro macet hingga arah Tugu Proklamasi. Namun kini situasi berangsur-angsur reda. Demonstran hanya bertahan di dalam markasnya untuk melakukan orasi. "SBY hanya mementingkan kepentingan Malaysia, kepentingan negara sendiri dilupakan," teriak Bonaventura.
Label:
Berita dan Informasi
Senin, 30 Agustus 2010
Hatta Rajasa Keseleo Lidah, Organisme Jadi Orgasme
JAKARTA - Entah tidak konsentrasi karena letih mengikuti sidang kabinet paripurna sejak siang hingga sore hari jelang Magrib atau benar-benar keseleo lidah, pernyataan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa benar-benar membuat yang mendengar mengernyitkan dahi.
Bayangkan Hatta keliru memilih kata yang memang mirp namun artinya berbeda sangat jauh ibarat langit dan bumi. Kata apakah itu?
Berikut kutipan ucapan Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (24/8/2010).
Hatta memberikan keterangan terkait produksi dan ketahanan pangan Indonesia pada 2010. Intinya, pemerintah optimistis akhir tahun ini stok beras nasional akan surplus lima juta ton.
"Iklim ekstrim seperti ini bisa mendatangkan orgas… (Hatta menahan suara sepersekian detik pada kata ‘s’) me-opt atau orgasme, apa? Penyakit yang bisa menimbulkan kerugian yang sekarang itu kita ketahui kurang, dia muncul kembali," katanya sambil berpikir keras, berusaha menemukan kata yang dimaksud, namun susah dilontarkan.
Maksud Pak Menteri barangkali adalah organisme yang menyerang tanaman padi, karena perubahan cuaca ekstrim sehingga dapat mengganggu produksi beras nasional.
Saat kata tersebut keluar dari mulut Hatta, puluhan jurnalis cetak dan elektronik yang meliput keterangan pers tersebut hanya bisa diam sembari berbisik satu dengan yang lain. Ada juga yang tertunduk karena tak kuat menahan tawa.
Sementara menteri lain, seperti Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri BUMN Mustafa Abubakar dan Menteri Pertanian Suswono juga diam seolah-olah tak terjadi apa-apa.
(teb)
Bayangkan Hatta keliru memilih kata yang memang mirp namun artinya berbeda sangat jauh ibarat langit dan bumi. Kata apakah itu?
Berikut kutipan ucapan Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (24/8/2010).
Hatta memberikan keterangan terkait produksi dan ketahanan pangan Indonesia pada 2010. Intinya, pemerintah optimistis akhir tahun ini stok beras nasional akan surplus lima juta ton.
"Iklim ekstrim seperti ini bisa mendatangkan orgas… (Hatta menahan suara sepersekian detik pada kata ‘s’) me-opt atau orgasme, apa? Penyakit yang bisa menimbulkan kerugian yang sekarang itu kita ketahui kurang, dia muncul kembali," katanya sambil berpikir keras, berusaha menemukan kata yang dimaksud, namun susah dilontarkan.
Maksud Pak Menteri barangkali adalah organisme yang menyerang tanaman padi, karena perubahan cuaca ekstrim sehingga dapat mengganggu produksi beras nasional.
Saat kata tersebut keluar dari mulut Hatta, puluhan jurnalis cetak dan elektronik yang meliput keterangan pers tersebut hanya bisa diam sembari berbisik satu dengan yang lain. Ada juga yang tertunduk karena tak kuat menahan tawa.
Sementara menteri lain, seperti Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri BUMN Mustafa Abubakar dan Menteri Pertanian Suswono juga diam seolah-olah tak terjadi apa-apa.
(teb)
Label:
Berita dan Informasi
Kutipan Pidato Bung Karno untuk Malaysia
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu.
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo... ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia...
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu.
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo... ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia...
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
Label:
Berita dan Informasi
Pengusaha Keluhkan Banjirnya Produk Kosmetik Impor
Pengusaha Keluhkan Banjirnya Produk Kosmetik Impor
Suhendra - detikFinance
Jakarta - Para pengusaha dalam negeri mengeluhkan adanya tren membanjirnya produk impor kosmetik dan jamu yang mudah masuk ke pasar dalam negeri.
Sementara produk ekspor kosmetik dan jamu Indonesia ke negara-negara lain justru mengalami perlakuan yang ketat termasuk dihadang dengan non tarif barrier.
Ketua Bidang Industri Perdagangan GP Jamu dan Ketua Perkosmi Putri K. Wardani mengatakan tren semacam ini setidaknya terjadi semenjak adanya AC-FTA khususnya ketika produk jamu dan kosmetik sudah mengalami penghapusan tarif 0%.
"Masing-masing negara tujuan ekspor justru mengetatkan diri, berbeda sebelum adanya AC-FTA. Misalnya pendaftaran di negara tujuan ekspor lebih lama, dengan sendirinya ini sebagai non tarif barrier," katanya dalam acara konferensi pers di kantor Apindo, Jakarta, Senin (23/8/2010).
Namun kondisi yang berlawanan terjadi di Tanah Air, pemerintah Indonesia justru sangat terbuka terhadap barang-barang impor seperti jamu maupun kosmetik.
Ia mengambil contoh, masih banyaknya peredaran jamu dan kosmetik impor tanpa label bahasa Indonesia akan menjadi ancaman bagi konsumen karena konsumen tidak tahu isi dari produk yang mereka pakai. Misalnya label bahasa asing akan menyulitkan konsumen untuk mengetahui produk kosmetik pemutih yang mengandung zat berbahaya.
"Di lapangan banyak produk jamu dan kosmetik impor yang deras masuk tak berlabel bahasa Indonesia," katanya.
Hal ini tentunya berimbas terhadap nasib industri jamu dan kosmetik lokal. Ia mencatat pada triwulan I-2010 industri jamu turun 20% dan kosmetik stagnan. Sementara hingga semester I-2010, tercatat kenaikan produk impor jamu sampai 200%.
Putri menambahkan pasar kosmetik dalam negeri per tahunnya mencapai Rp 35 triliun, di mana sebanyak 20% diisi oleh produk impor sedangkan sisanya produk lokal.
"Tapi yang 20% itu legal, belum yang ilegalnya," jelas Putri.
Sejatinya kata dia masalah regulasi terkait pencegahan peredaran produk jamu dan kosmetik yang mengandung zat berbahaya sudah ditetap dalam beberapa regulasi namun sayangnya eksekusinya di lapangan masih nihil.
"Implementasinya itu yang kita tagih. Jangan menunggu kita teriak-teriak," katanya.
(hen/dnl)
Suhendra - detikFinance
Jakarta - Para pengusaha dalam negeri mengeluhkan adanya tren membanjirnya produk impor kosmetik dan jamu yang mudah masuk ke pasar dalam negeri.
Sementara produk ekspor kosmetik dan jamu Indonesia ke negara-negara lain justru mengalami perlakuan yang ketat termasuk dihadang dengan non tarif barrier.
Ketua Bidang Industri Perdagangan GP Jamu dan Ketua Perkosmi Putri K. Wardani mengatakan tren semacam ini setidaknya terjadi semenjak adanya AC-FTA khususnya ketika produk jamu dan kosmetik sudah mengalami penghapusan tarif 0%.
"Masing-masing negara tujuan ekspor justru mengetatkan diri, berbeda sebelum adanya AC-FTA. Misalnya pendaftaran di negara tujuan ekspor lebih lama, dengan sendirinya ini sebagai non tarif barrier," katanya dalam acara konferensi pers di kantor Apindo, Jakarta, Senin (23/8/2010).
Namun kondisi yang berlawanan terjadi di Tanah Air, pemerintah Indonesia justru sangat terbuka terhadap barang-barang impor seperti jamu maupun kosmetik.
Ia mengambil contoh, masih banyaknya peredaran jamu dan kosmetik impor tanpa label bahasa Indonesia akan menjadi ancaman bagi konsumen karena konsumen tidak tahu isi dari produk yang mereka pakai. Misalnya label bahasa asing akan menyulitkan konsumen untuk mengetahui produk kosmetik pemutih yang mengandung zat berbahaya.
"Di lapangan banyak produk jamu dan kosmetik impor yang deras masuk tak berlabel bahasa Indonesia," katanya.
Hal ini tentunya berimbas terhadap nasib industri jamu dan kosmetik lokal. Ia mencatat pada triwulan I-2010 industri jamu turun 20% dan kosmetik stagnan. Sementara hingga semester I-2010, tercatat kenaikan produk impor jamu sampai 200%.
Putri menambahkan pasar kosmetik dalam negeri per tahunnya mencapai Rp 35 triliun, di mana sebanyak 20% diisi oleh produk impor sedangkan sisanya produk lokal.
"Tapi yang 20% itu legal, belum yang ilegalnya," jelas Putri.
Sejatinya kata dia masalah regulasi terkait pencegahan peredaran produk jamu dan kosmetik yang mengandung zat berbahaya sudah ditetap dalam beberapa regulasi namun sayangnya eksekusinya di lapangan masih nihil.
"Implementasinya itu yang kita tagih. Jangan menunggu kita teriak-teriak," katanya.
(hen/dnl)
Label:
Berita dan Informasi
Pemerintah 'Ngeles' Ditanya Soal Redenominasi
Pemerintah 'Ngeles' Ditanya Soal Redenominasi
Herdaru Purnomo - detikFinance
Jakarta - Pemerintah kembali menegaskan wacana redenominasi tidak pernah dibahas maupun dibicarakan dengan Bank Indonesia (BI). Padahal bank sentral berkomitmen akan menyampaikan bahasan mengenai redenominasi ke pemerintah dalam waktu dekat.
Hal ini disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa usai Rapat Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (30/08/2010).
"Memang tidak ada rencana itu (redenominasi) pembahasan juga tidak ada," jelas Hatta.
Namun sumber detikFinance di BI menuturkan, pada hari ini telah dilakukan pembicaraan mengenai redenominasi antara pemerintah, BI, dan Wakil Presiden RI Boediono.
"Sebenarnya sudah ada pembicaraan. Tadi ada pertemuan antara Pak Darmin (Gubernur BI), Pak Agus Martowardojo (Menteri Keuangan), dan Pak Hatta," ujar sumber tersebut.
Namun, sumber tersebut mengatakan tidak mengetahui hasil pembahasan mengenai masalah redenominasi tersebut.
Hatta tadi ditemui usai melakukan rapat koordinasi di kantor BI, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida S. Alisjahbana.
Dikatakan Hatta pertemuan tersebut sama sekali tidak membahas soal rencana redenominasi rupiah. "Sama sekali tidak ada agenda pembahasan redenominasi dengan BI," ujarnya tanpa berkomentar lebih jauh soal redenominasi.
Menurut Hatta, agenda rapat koordinasi kali ini hanya membahas mengenai kondisi ekonomi makro dan persiapan harga-harga pasar menjelang lebaran.
"Kita biasa tukar info ini supaya rutin, jadi soal ekonomi makro hingga harga-harga menjelang lebaran. Sama sekali tidak membahas mengenai redenominasi," tuturnya.
(dru/dnl)
Herdaru Purnomo - detikFinance
Jakarta - Pemerintah kembali menegaskan wacana redenominasi tidak pernah dibahas maupun dibicarakan dengan Bank Indonesia (BI). Padahal bank sentral berkomitmen akan menyampaikan bahasan mengenai redenominasi ke pemerintah dalam waktu dekat.
Hal ini disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa usai Rapat Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (30/08/2010).
"Memang tidak ada rencana itu (redenominasi) pembahasan juga tidak ada," jelas Hatta.
Namun sumber detikFinance di BI menuturkan, pada hari ini telah dilakukan pembicaraan mengenai redenominasi antara pemerintah, BI, dan Wakil Presiden RI Boediono.
"Sebenarnya sudah ada pembicaraan. Tadi ada pertemuan antara Pak Darmin (Gubernur BI), Pak Agus Martowardojo (Menteri Keuangan), dan Pak Hatta," ujar sumber tersebut.
Namun, sumber tersebut mengatakan tidak mengetahui hasil pembahasan mengenai masalah redenominasi tersebut.
Hatta tadi ditemui usai melakukan rapat koordinasi di kantor BI, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida S. Alisjahbana.
Dikatakan Hatta pertemuan tersebut sama sekali tidak membahas soal rencana redenominasi rupiah. "Sama sekali tidak ada agenda pembahasan redenominasi dengan BI," ujarnya tanpa berkomentar lebih jauh soal redenominasi.
Menurut Hatta, agenda rapat koordinasi kali ini hanya membahas mengenai kondisi ekonomi makro dan persiapan harga-harga pasar menjelang lebaran.
"Kita biasa tukar info ini supaya rutin, jadi soal ekonomi makro hingga harga-harga menjelang lebaran. Sama sekali tidak membahas mengenai redenominasi," tuturnya.
(dru/dnl)
Label:
Berita dan Informasi
Minggu, 29 Agustus 2010
INESSA ARMAND (1875-1920)
INESSA ARMAND (1875-1920)
Inessa Armand lahir di Paris tahun 1875 dari keluarga pemain theater. Pada usia 18 tahun dia menikah dengan Alexander Armand, seorang industrialis kaya, tapi meninggalkannya 10 tahun kemudian dengan 4 anak untuk tinggal bersama saudara lelakinya, Vladimir, dimana dia mendapatkan anak kelimanya. Sepanjang hidupnya, Inessa tetap menyisakan persahabatan dengan suaminya bahkan suaminya mendukung pemeliharaan seluruh anak mereka serta memberi bantuan keuangan untuk aktivitas revolusionernya.
Pertanyaan-pertanyaan seputar masalah perempuan menyeret Inessa ke sosialisme. Dia percaya bahwa adalah hak setiap wanita untuk berusaha menjadi dirinya sendiri dan mengabdikan diri secara sosial. Armand pernah menjelaskan pada anak perempuannya, Inna, bahwa dia telah memperoleh pelajaran bahwa “pilihan yang tepat bukanlah menjadi sepenuhnya feminin, tapi menjadi manusia seutuhnya”. Dia mula-mula memfokuskan diri pada masalah pelacuran, yang dilihatnya sebagai metafor bagi penindasan perempuan.
Pada tahun 1903 Armand menjadi seorang Marxist. Sebagaimana dia tuliskan dalam sebuah surat untuk suaminya:
Kenyataannya adalah bahwa pada tempat yang utama aku memilih jalan ini daripada yang lainnya. Bagiku Marxisme bukanlah sekedar gelora muda, tapi penyempurnaan sebuah evolusi panjang dari kanan ke kiri..….. yang terakhir ini, di tahun yang reaksioner (1907) waktu yang kuhabiskan bersama kaum proletariat….membuatku lebih yakin.
Tahun 1905 dia ditangkap 3 kali dan menghabiskan waktunya selama 6 bulan dalam penjara. Tahun 1907 dia dikirim ke pengasingan di Archangel. Vladimir mengikuti dia, tapi tahun 1909 dia terserang tuberculosis dan harus ke Swiss. Armand melarikan suami yang sangat dicintainya ke perawat tapi Vladimir meninggal 2 minggu setelah kedatangannya.
Setelah menyelesaikan studi di Brussels, dia pindah ke Paris dimana dia bergabung dengan grup kecil kaum Bolshevik yang berkumpul disekeliling Lenin. Dia dengan cepat menjadi teman dekat Lenin dan Krupskaya. Beberapa orang mengatakan dia adalah pacar Lenin.
Tahun 1911 dia belajar sejarah gerakan sosialis pada sekolah musim panas Marxist di Paris. Tapi setahun setelahnya Lenin menyuruh untuk segera kembali ke Rusia sebagai wakilnya di Pravda. Polisi segera menciduknya dan memenjarakannya selama setahun sebelum ditebus (mantan, pent) suaminya. Dia segera kembali ke Eropa Barat dimana dia tinggal sampai tahun 1917. Disana dia bekerja dekat dengan Lenin. Dari pengasingan dia membantu Dewan Redaksi Rabotnitsa, sebuah jurnal perempuan yang diterbitkan oleh partai.
Armand kembali ke Rusia bersama Lenin setelah Revolusi Februari 1917. Sebenarnya dia punya kesempatan untuk berperan menjadi salah satu pimpinan sentral partai, sehubungan dengan perannya bertahun-tahun sebagai asisten Lenin, tapi dia lebih memilih pergi ke Moscow sebagai anggota biasa dan melakukan pengorganisiran massa.
Sesudah revolusi dia kembali menekuni minat awalnya, kondisi kaum perempuan, dengan membantu mendirikan, bersama Kollontai dan Samoilova, departemen internal partai untuk urusan perempuan. Dia adalah salah satu perempuan dari sebuah grup perempuan Bolshevik yang mengorganisir dan berbicara di Kongres Kaum Buruh dan Petani Perempuan Seluruh Rusia di tahun 1918, yang melibatkan lebih dari 1000 orang perempuan dari seluruh Rusia.
Pada saat yang sama dia menjabat ketua Dewan Ekonomi Soviet Moscow, yang berfungsi sebagai pengontrol dan manajer ekonomi di wilayah itu, dimana dia membuktikan diri sebagai pekerja keras dan administrator yang cakap. Awal tahun 1919 dia menghabiskan waktu 3 bulan lamanya di Prancis sebagai bagian dari wakil Soviet yang mengurusi pembebasan tawanan perang Rusia.
Bulan Mei 1919 Armand ditunjuk menjadi direktur Zhenotdel. Dia mengerahkan segala kemampuannya untuk membangun departemen baru dalam partai tersebut, yang dibantu 22 orang Bolshevik dan dipimpin oleh badan tidak resmi yang dibangun dari veteran-veteran kader-kader perempuan partai. Dengan Krupskaya dia menjadi Editor majalah departemen tersebut yaitu Kommunistka.
Waktu kerjanya yang terus-menerus mencapai 14 jam per hari menyebabkan kesehatannya semakin merosot. Awal tahun 1920 dia terserang pneumonia tapi bisa disembuhkan, tapi kembali kambuh pada bulan Agustus. Ketika anaknya ikut sakit juga mereka segera ke Caucasus untuk menyembuhkan diri. Saat kembali ke Moscow dia terserang Kolera dan meninggal 2 hari kemudian. Jenazahnya dimakamkan di depan Tembok Kremlin, sebuah tempat yang sangat terhormat bagi kaum komunis yang meninggal dunia.
*Diterjemahkan (entah oleh siapa--ed) dari Comrades in Arms, Bolshevik Women in the Russian Revolution,
karangan Kathy Fairfax, hal 33-4, terbitan Resistance Books, Australia.
Inessa Armand lahir di Paris tahun 1875 dari keluarga pemain theater. Pada usia 18 tahun dia menikah dengan Alexander Armand, seorang industrialis kaya, tapi meninggalkannya 10 tahun kemudian dengan 4 anak untuk tinggal bersama saudara lelakinya, Vladimir, dimana dia mendapatkan anak kelimanya. Sepanjang hidupnya, Inessa tetap menyisakan persahabatan dengan suaminya bahkan suaminya mendukung pemeliharaan seluruh anak mereka serta memberi bantuan keuangan untuk aktivitas revolusionernya.
Pertanyaan-pertanyaan seputar masalah perempuan menyeret Inessa ke sosialisme. Dia percaya bahwa adalah hak setiap wanita untuk berusaha menjadi dirinya sendiri dan mengabdikan diri secara sosial. Armand pernah menjelaskan pada anak perempuannya, Inna, bahwa dia telah memperoleh pelajaran bahwa “pilihan yang tepat bukanlah menjadi sepenuhnya feminin, tapi menjadi manusia seutuhnya”. Dia mula-mula memfokuskan diri pada masalah pelacuran, yang dilihatnya sebagai metafor bagi penindasan perempuan.
Pada tahun 1903 Armand menjadi seorang Marxist. Sebagaimana dia tuliskan dalam sebuah surat untuk suaminya:
Kenyataannya adalah bahwa pada tempat yang utama aku memilih jalan ini daripada yang lainnya. Bagiku Marxisme bukanlah sekedar gelora muda, tapi penyempurnaan sebuah evolusi panjang dari kanan ke kiri..….. yang terakhir ini, di tahun yang reaksioner (1907) waktu yang kuhabiskan bersama kaum proletariat….membuatku lebih yakin.
Tahun 1905 dia ditangkap 3 kali dan menghabiskan waktunya selama 6 bulan dalam penjara. Tahun 1907 dia dikirim ke pengasingan di Archangel. Vladimir mengikuti dia, tapi tahun 1909 dia terserang tuberculosis dan harus ke Swiss. Armand melarikan suami yang sangat dicintainya ke perawat tapi Vladimir meninggal 2 minggu setelah kedatangannya.
Setelah menyelesaikan studi di Brussels, dia pindah ke Paris dimana dia bergabung dengan grup kecil kaum Bolshevik yang berkumpul disekeliling Lenin. Dia dengan cepat menjadi teman dekat Lenin dan Krupskaya. Beberapa orang mengatakan dia adalah pacar Lenin.
Tahun 1911 dia belajar sejarah gerakan sosialis pada sekolah musim panas Marxist di Paris. Tapi setahun setelahnya Lenin menyuruh untuk segera kembali ke Rusia sebagai wakilnya di Pravda. Polisi segera menciduknya dan memenjarakannya selama setahun sebelum ditebus (mantan, pent) suaminya. Dia segera kembali ke Eropa Barat dimana dia tinggal sampai tahun 1917. Disana dia bekerja dekat dengan Lenin. Dari pengasingan dia membantu Dewan Redaksi Rabotnitsa, sebuah jurnal perempuan yang diterbitkan oleh partai.
Armand kembali ke Rusia bersama Lenin setelah Revolusi Februari 1917. Sebenarnya dia punya kesempatan untuk berperan menjadi salah satu pimpinan sentral partai, sehubungan dengan perannya bertahun-tahun sebagai asisten Lenin, tapi dia lebih memilih pergi ke Moscow sebagai anggota biasa dan melakukan pengorganisiran massa.
Sesudah revolusi dia kembali menekuni minat awalnya, kondisi kaum perempuan, dengan membantu mendirikan, bersama Kollontai dan Samoilova, departemen internal partai untuk urusan perempuan. Dia adalah salah satu perempuan dari sebuah grup perempuan Bolshevik yang mengorganisir dan berbicara di Kongres Kaum Buruh dan Petani Perempuan Seluruh Rusia di tahun 1918, yang melibatkan lebih dari 1000 orang perempuan dari seluruh Rusia.
Pada saat yang sama dia menjabat ketua Dewan Ekonomi Soviet Moscow, yang berfungsi sebagai pengontrol dan manajer ekonomi di wilayah itu, dimana dia membuktikan diri sebagai pekerja keras dan administrator yang cakap. Awal tahun 1919 dia menghabiskan waktu 3 bulan lamanya di Prancis sebagai bagian dari wakil Soviet yang mengurusi pembebasan tawanan perang Rusia.
Bulan Mei 1919 Armand ditunjuk menjadi direktur Zhenotdel. Dia mengerahkan segala kemampuannya untuk membangun departemen baru dalam partai tersebut, yang dibantu 22 orang Bolshevik dan dipimpin oleh badan tidak resmi yang dibangun dari veteran-veteran kader-kader perempuan partai. Dengan Krupskaya dia menjadi Editor majalah departemen tersebut yaitu Kommunistka.
Waktu kerjanya yang terus-menerus mencapai 14 jam per hari menyebabkan kesehatannya semakin merosot. Awal tahun 1920 dia terserang pneumonia tapi bisa disembuhkan, tapi kembali kambuh pada bulan Agustus. Ketika anaknya ikut sakit juga mereka segera ke Caucasus untuk menyembuhkan diri. Saat kembali ke Moscow dia terserang Kolera dan meninggal 2 hari kemudian. Jenazahnya dimakamkan di depan Tembok Kremlin, sebuah tempat yang sangat terhormat bagi kaum komunis yang meninggal dunia.
*Diterjemahkan (entah oleh siapa--ed) dari Comrades in Arms, Bolshevik Women in the Russian Revolution,
karangan Kathy Fairfax, hal 33-4, terbitan Resistance Books, Australia.
Label:
Bacaan
ALEXANDRA KOLLONTAI (1872-1952)
ALEXANDRA KOLLONTAI (1872-1952)
(her determination before 1919 is my favorite--ed)
Lahir pada tahun 1872 dari keluarga pemilik tanah kaya-raya, dan besar di Rusia serta Finlandia. Dia mempelajari banyak bahasa asing yang sangat berguna dalam aktivitas revolusioner selanjutnya. Mulai terlibat dalam aktivitas politik pada tahun 1894, ketika baru saja melahirkan anak. Awalnya dia membantu mengajar di sekolah sore bagi buruh-buruh St.Petersburg. Dengan aktivitasnya itu, mau tidak mau dia mulai terlibat bersama massa rakyat dan aktif juga sebagai anggota gerakan bawah tanah Political Red Cross, sebuah organisasi yang bertujuan untuk membela para tahanan politik. Tahun 1895 dia mendapatkan dan membaca buku karangan Bebel yang berjudul Woman and Socialism, yang sangat mempengaruhi pemikirannya tentang pentingnya emansipasi perempuan.
Sebenarnya dia mulai tertarik akan sosialisme ketika dia dan suaminya mengunjungi satu pabrik tekstil besar, dimana secara jelas kelihatan betapa buruknya kondisi kaum pekerja di sana. Setelah itu dia mulai belajar Marxisme dan ekonomi. Lalu mulai berusaha menjadi anggota perkumpulan yang didirikan Lenin, yaitu Perkumpulan Perjuangan untuk Pembebasan Klas Pekerja. Disinilah ia menemukan tempat yang tepat dan segera terlibat dalam aksi-aksi pemogokan buruh tekstil, membikin selebaran-selebaran dan mengumpulkan sumbangan untuk pemogokan-pemogokan tersebut.
Sejak tahun 1898 ia sepenuhnya sudah meyakini Marxisme. Dia lalu meninggalkan suaminya dan pergi ke luar negeri untuk belajar. (Mereka kemudian bercerai). Tahun 1899 dia kembali ke Rusia dan memulai kerja-kerja bawah tanah bersama dengan kaum Sosial Demokrat. Tahun 1905 mulai kampanye—yang menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah gerakan revolusioner—tentang pentingnya pengorganisiran buruh perempuan Rusia untuk menuntut hak-hak mereka. Terinspirasi oleh Peristiwa Minggu Berdarah dan menjadi saksi betapa dashyatnya gelombang pemogokan di seluruh Rusia, dia menjadi yakin bahwa kaum buruh perempuan harus direkrut dan diorganisir untuk terlibat dalam perjuangan politik. Tahun 1907, untuk mewadahi keresahan-keresahan buruh perempuan, dia mendirikan sebuah organisasi perempuan yang pertama, St.Petersburg Society for Mutual Aid to Women Workers.
Tahun 1908 sampai tahun 1917, dia dibuang ke pengasingan di luar Rusia. Dia aktif menjadi agitator untuk Partai Sosial Demokratik Jerman dan menjelang Perang Dunia I berkeliling ke Inggris, Denmark, Swedia, Belgia, dan Swiss. Selama dalam pengasingan mulai banyak terpengaruh oleh kaum reformis dari berbagai partai Sosial Demokrat Eropa.
Kollontai bekerja bersama kaum Bolshevik sampai tahun 1906, kemudian bergabung dengan kaum Menshevik. Tapi perang dan pengkhianatan pimpinan-pimpinan kaum Sosial Demokrat menyebabkan ia kembali bergabung dengan kaum Bolshevik pada 1915. Dia menjadi pengikut setia Lenin. Pamfletnya yang berjudul Siapa Yang Butuh Perang ? (Who Needs War ?) yang disebar di prajurit-prajurit garis depan, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Ketika Revolusi Februari gagal, Kollontai sedang berada di Norwegia. Dia menunda kepulangannya ke Rusia untuk menunggu artikel Lenin yang berjudul Surat dari Jauh (Letters From Afar), supaya sekaligus dapat dia bawa ke Rusia. Sesudah sampai di Rusia (19 Maret) dia segera bergabung bersama Shliapnikov (yang kemudian menjadi partnernya) dan Molotov yang beroposisi terhadap taktik kompromis Stalin dan Kamenev dengan Pemerintahan Sementara. Dia kemudian terpilih menjadi anggota Komite Eksekutif Sovyet Petrogard. Mulai kepulangan Lenin pada awal April 1917, Kollontai memperlihatkan kesungguhan dan keseriusannya dalam mendukung slogan Seluruh Kekuasaan untuk Soviet (All Power to The Soviets).
Pada tahun 1917 dia adalah salah seorang dari orator partai yang paling populer, yang berbicara tanpa henti dalam berbagai pertemuan-pertemuan kaum buruh, prajurit dan pelaut. Pada Kongres Partai bulan Juli, dia terpilih menjadi anggota penuh Komite Sentral dan ambil bagian dalam pertemuan Komite Sentral tanggal 23 Oktober yang memutuskan segera dimulainya Pemberontakan.
Kollontai pernah menjabat Komisaris Kesejahteraan Umum dalam pemerintahan Soviet--dialah menteri perempuan pertama di dunia. Dia juga memainkan peran aktif sebagai oposisi kiri dalam partai yang menentang Perjanjian Brest-Litovsk dengan Jerman. Karena kasus ini dia gagal untuk dipilih kedua kalinya menjadi anggota penuh Komite Sentral; dia juga dipecat dari pemerintahan. Selama periode 1918 Kollontai aktif menjadi organiser dan agitator dan bulan November membantu menyelenggarakan Kongres Pertama Buruh dan Petani Perempuan Seluruh Rusia.
Sepanjang tahun 1919, meskipun diserang penyakit hati dan ginjal, Kollontai terus bekerja keras. Pada musim semi dan musim panas tahun itu dia bekerja sebagai agitator partai di Ukrania, dimana sedang timbul ketegangan antara kaum revolusioner dengan kaum kontra revolusi.
Bulan November 1920, sesudah kematian Inessa Armand, Kollontai menjadi kepala Zhenotdel, sebuah departemen dalam partai yang khusus mengurusi masalah perempuan, yang didirikannya bersama Armand dan Krupskaya. Akhir tahun 1920, ia bergabung dengan Oposisi Buruh, yang memperlihatkan mulai adanya kecenderungan birokrasi di dalam partai dan negara, serta bersama Shliapnikov menjadi pimpinan terasnya. Pada Kongres ke 10 partai bulan Maret 1921 program-program yang diajukannya dianggap sebagai anarko-syndikalis.
Tahun 1922 dia ditunjuk Stalin bekerja di luar Rusia yaitu menjadi perwakilan Soviet di Norwegia dan 1924-25 menjadi duta besar di sana—dialah duta besar perempuan pertama di dunia. Dia selanjutnya menjabat duta besar di Meksiko, kembali ke Norwegia, dan terakhir di Swedia sampai masa pensiunnya tahun 1945.
Meskipun dia dalam posisi berseberangan dan anti birokratisme, Kollontai tidak pernah menggabungkan diri dengan oposan Trotskyst. Dia merasa bahwa beroposisi terhadap Stalinisme yang sedang berkuasa di USSR adalah sia-sia. Dia kemudian menghindar dari dunia politik dan berusaha menunjukkan ‘kepatuhan’ pada aturan yang dibuat Stalin. Sebagaimana pengakuannya kepada seorang kawannya, “Saya telah meletakkan keyakinanku di sudut kesadaran yang akan muncul ketika ada kebijakan yang berusaha menindasku.”
Ketika teror kaum Stalinist menimpanya, juga kawan-kawannya kaum revolusioner selama bertahun-tahun, dia berusaha menyelamatkan diri. Pada tahun 1938, disamping Stalin dan yang mati secara alami lainnya, Kollontai adalah satu-satunya anggota Komite Sentral bulan Oktober 1917, yang tersisa tanpa lumuran darah. Bagi Stalin, dia adalah orang yang sangat mudah ditaklukkan tanpa kekerasan. Sebagai orang lama Bolshevik dan figur yang cukup populer dalam dunia internasional, dia bisa digunakan untuk menunjukkan kemajuan Soviet dalam masalah kebebasan perempuan.
Kollontai meninggal tahun 1952, terlupakan, pemikirannya dikekang tapi masih terus mendukung Uni Sovyet. Dia menganggap adalah sia-sia berbicara tentang keburukan pemerintahan Stalin ketika aroma kemenangan revolusi masih terasa. Dia menghibur diri dengan berpikir: “Semuanya akan hilang oleh waktu. Dan ide-ide yang humanistik akan selalu menang………..Kecenderungan garis reaksioner tidak akan mampu bertahan lama. Tidak akan pernah ! Sejarah telah membuktikan ini di banyak negara dan banyak masyarakat”.
Gerakan-gerakan pembebasan perempuan pada akhir 1960-an dan 70-an membawa kembali kenangan kepada perempuan yang luar biasa ini dimana dia berjuang begitu teguh untuk Sosialisme dan pembebasan perempuan.
*Diterjemahkan (entah oleh siapa--ed) dari Comrades in Arms, Bolshevik Women in the Russian Revolution, karangan Kathy Fairfax, hal 30-2, terbitan Resistance Books, Australia.
***
(her determination before 1919 is my favorite--ed)
Lahir pada tahun 1872 dari keluarga pemilik tanah kaya-raya, dan besar di Rusia serta Finlandia. Dia mempelajari banyak bahasa asing yang sangat berguna dalam aktivitas revolusioner selanjutnya. Mulai terlibat dalam aktivitas politik pada tahun 1894, ketika baru saja melahirkan anak. Awalnya dia membantu mengajar di sekolah sore bagi buruh-buruh St.Petersburg. Dengan aktivitasnya itu, mau tidak mau dia mulai terlibat bersama massa rakyat dan aktif juga sebagai anggota gerakan bawah tanah Political Red Cross, sebuah organisasi yang bertujuan untuk membela para tahanan politik. Tahun 1895 dia mendapatkan dan membaca buku karangan Bebel yang berjudul Woman and Socialism, yang sangat mempengaruhi pemikirannya tentang pentingnya emansipasi perempuan.
Sebenarnya dia mulai tertarik akan sosialisme ketika dia dan suaminya mengunjungi satu pabrik tekstil besar, dimana secara jelas kelihatan betapa buruknya kondisi kaum pekerja di sana. Setelah itu dia mulai belajar Marxisme dan ekonomi. Lalu mulai berusaha menjadi anggota perkumpulan yang didirikan Lenin, yaitu Perkumpulan Perjuangan untuk Pembebasan Klas Pekerja. Disinilah ia menemukan tempat yang tepat dan segera terlibat dalam aksi-aksi pemogokan buruh tekstil, membikin selebaran-selebaran dan mengumpulkan sumbangan untuk pemogokan-pemogokan tersebut.
Sejak tahun 1898 ia sepenuhnya sudah meyakini Marxisme. Dia lalu meninggalkan suaminya dan pergi ke luar negeri untuk belajar. (Mereka kemudian bercerai). Tahun 1899 dia kembali ke Rusia dan memulai kerja-kerja bawah tanah bersama dengan kaum Sosial Demokrat. Tahun 1905 mulai kampanye—yang menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah gerakan revolusioner—tentang pentingnya pengorganisiran buruh perempuan Rusia untuk menuntut hak-hak mereka. Terinspirasi oleh Peristiwa Minggu Berdarah dan menjadi saksi betapa dashyatnya gelombang pemogokan di seluruh Rusia, dia menjadi yakin bahwa kaum buruh perempuan harus direkrut dan diorganisir untuk terlibat dalam perjuangan politik. Tahun 1907, untuk mewadahi keresahan-keresahan buruh perempuan, dia mendirikan sebuah organisasi perempuan yang pertama, St.Petersburg Society for Mutual Aid to Women Workers.
Tahun 1908 sampai tahun 1917, dia dibuang ke pengasingan di luar Rusia. Dia aktif menjadi agitator untuk Partai Sosial Demokratik Jerman dan menjelang Perang Dunia I berkeliling ke Inggris, Denmark, Swedia, Belgia, dan Swiss. Selama dalam pengasingan mulai banyak terpengaruh oleh kaum reformis dari berbagai partai Sosial Demokrat Eropa.
Kollontai bekerja bersama kaum Bolshevik sampai tahun 1906, kemudian bergabung dengan kaum Menshevik. Tapi perang dan pengkhianatan pimpinan-pimpinan kaum Sosial Demokrat menyebabkan ia kembali bergabung dengan kaum Bolshevik pada 1915. Dia menjadi pengikut setia Lenin. Pamfletnya yang berjudul Siapa Yang Butuh Perang ? (Who Needs War ?) yang disebar di prajurit-prajurit garis depan, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Ketika Revolusi Februari gagal, Kollontai sedang berada di Norwegia. Dia menunda kepulangannya ke Rusia untuk menunggu artikel Lenin yang berjudul Surat dari Jauh (Letters From Afar), supaya sekaligus dapat dia bawa ke Rusia. Sesudah sampai di Rusia (19 Maret) dia segera bergabung bersama Shliapnikov (yang kemudian menjadi partnernya) dan Molotov yang beroposisi terhadap taktik kompromis Stalin dan Kamenev dengan Pemerintahan Sementara. Dia kemudian terpilih menjadi anggota Komite Eksekutif Sovyet Petrogard. Mulai kepulangan Lenin pada awal April 1917, Kollontai memperlihatkan kesungguhan dan keseriusannya dalam mendukung slogan Seluruh Kekuasaan untuk Soviet (All Power to The Soviets).
Pada tahun 1917 dia adalah salah seorang dari orator partai yang paling populer, yang berbicara tanpa henti dalam berbagai pertemuan-pertemuan kaum buruh, prajurit dan pelaut. Pada Kongres Partai bulan Juli, dia terpilih menjadi anggota penuh Komite Sentral dan ambil bagian dalam pertemuan Komite Sentral tanggal 23 Oktober yang memutuskan segera dimulainya Pemberontakan.
Kollontai pernah menjabat Komisaris Kesejahteraan Umum dalam pemerintahan Soviet--dialah menteri perempuan pertama di dunia. Dia juga memainkan peran aktif sebagai oposisi kiri dalam partai yang menentang Perjanjian Brest-Litovsk dengan Jerman. Karena kasus ini dia gagal untuk dipilih kedua kalinya menjadi anggota penuh Komite Sentral; dia juga dipecat dari pemerintahan. Selama periode 1918 Kollontai aktif menjadi organiser dan agitator dan bulan November membantu menyelenggarakan Kongres Pertama Buruh dan Petani Perempuan Seluruh Rusia.
Sepanjang tahun 1919, meskipun diserang penyakit hati dan ginjal, Kollontai terus bekerja keras. Pada musim semi dan musim panas tahun itu dia bekerja sebagai agitator partai di Ukrania, dimana sedang timbul ketegangan antara kaum revolusioner dengan kaum kontra revolusi.
Bulan November 1920, sesudah kematian Inessa Armand, Kollontai menjadi kepala Zhenotdel, sebuah departemen dalam partai yang khusus mengurusi masalah perempuan, yang didirikannya bersama Armand dan Krupskaya. Akhir tahun 1920, ia bergabung dengan Oposisi Buruh, yang memperlihatkan mulai adanya kecenderungan birokrasi di dalam partai dan negara, serta bersama Shliapnikov menjadi pimpinan terasnya. Pada Kongres ke 10 partai bulan Maret 1921 program-program yang diajukannya dianggap sebagai anarko-syndikalis.
Tahun 1922 dia ditunjuk Stalin bekerja di luar Rusia yaitu menjadi perwakilan Soviet di Norwegia dan 1924-25 menjadi duta besar di sana—dialah duta besar perempuan pertama di dunia. Dia selanjutnya menjabat duta besar di Meksiko, kembali ke Norwegia, dan terakhir di Swedia sampai masa pensiunnya tahun 1945.
Meskipun dia dalam posisi berseberangan dan anti birokratisme, Kollontai tidak pernah menggabungkan diri dengan oposan Trotskyst. Dia merasa bahwa beroposisi terhadap Stalinisme yang sedang berkuasa di USSR adalah sia-sia. Dia kemudian menghindar dari dunia politik dan berusaha menunjukkan ‘kepatuhan’ pada aturan yang dibuat Stalin. Sebagaimana pengakuannya kepada seorang kawannya, “Saya telah meletakkan keyakinanku di sudut kesadaran yang akan muncul ketika ada kebijakan yang berusaha menindasku.”
Ketika teror kaum Stalinist menimpanya, juga kawan-kawannya kaum revolusioner selama bertahun-tahun, dia berusaha menyelamatkan diri. Pada tahun 1938, disamping Stalin dan yang mati secara alami lainnya, Kollontai adalah satu-satunya anggota Komite Sentral bulan Oktober 1917, yang tersisa tanpa lumuran darah. Bagi Stalin, dia adalah orang yang sangat mudah ditaklukkan tanpa kekerasan. Sebagai orang lama Bolshevik dan figur yang cukup populer dalam dunia internasional, dia bisa digunakan untuk menunjukkan kemajuan Soviet dalam masalah kebebasan perempuan.
Kollontai meninggal tahun 1952, terlupakan, pemikirannya dikekang tapi masih terus mendukung Uni Sovyet. Dia menganggap adalah sia-sia berbicara tentang keburukan pemerintahan Stalin ketika aroma kemenangan revolusi masih terasa. Dia menghibur diri dengan berpikir: “Semuanya akan hilang oleh waktu. Dan ide-ide yang humanistik akan selalu menang………..Kecenderungan garis reaksioner tidak akan mampu bertahan lama. Tidak akan pernah ! Sejarah telah membuktikan ini di banyak negara dan banyak masyarakat”.
Gerakan-gerakan pembebasan perempuan pada akhir 1960-an dan 70-an membawa kembali kenangan kepada perempuan yang luar biasa ini dimana dia berjuang begitu teguh untuk Sosialisme dan pembebasan perempuan.
*Diterjemahkan (entah oleh siapa--ed) dari Comrades in Arms, Bolshevik Women in the Russian Revolution, karangan Kathy Fairfax, hal 30-2, terbitan Resistance Books, Australia.
***
Label:
Bacaan
NADEZHDA (NADIA) KRUPSKAYA (1869-1939)
NADEZHDA (NADIA) KRUPSKAYA (1869-1939)
Lahir pada tahun 1869 di St. Petersburg , Nadia menjadi Marxist pada awal tahun 1890an. Dia adalah seorang guru, kemudian mulai terlibat dalam gerakan ketika membantu kelas sore pengajaran Marxisme bagi buruh. Selanjutnya, ikut mendirikan Perkumpulan Perjuangan untuk Emansipasi Klas Pekerja bersama-sama dengan Lenin, yang dia kenal pada tahun 1894. Akibat pemogokan-pemogokan yang terjadi tahun 1896 dia dipenjarakan selama 6 bulan dan kemudian dibuang ke Siberia selama 3 tahun. Di sana dia menikahi Lenin. Sepanjang hidup Lenin, Krupskaya adalah teman terdekatnya, sekretarisnya dan orang yang sangat dipercayai Lenin dalam seluruh kerjanya.
Tahun 1901 mereka dibebaskan dan meninggalkan Rusia menuju pengasingan. Krupskaya memainkan peran kunci dalam organisasi Kaum Sosial Demokrat Rusia di pengasingan dan menduduki berbagai posisi selama bertahun-tahun. Selama di pengasingan dia terus menerus menunjukkan minat yang sangat luar biasa dalam pengembangan pengajaran teori dan praktek progressif, belajar bahasa asing dan berbagai literatur.
Setelah Revolusi Februari dia bersama Lenin kembali ke Rusia. Dia selanjutnya bekerja di sekretariat Komite Sentral partai sampai terpilih mewakili Distrik Vyborg untuk Duma di Petrogard, dimana dia aktif dalam departemen pendidikan rakyat (popular education).
Sesudah Revolusi Oktober dia ditempatkan di Komisariat Rakyat untuk Pendidikan (People’s Commisariat of Education). Di sini ia menunjukkan minat khusus dalam pendidikan bagi orang dewasa. Pada saat yang sama dia membantu mengorganisir Zhenotdel dan organisasi-organisasi pemuda—seperti Komsomol dan Pioneers—serta menulis berbagai artikel untuk koran-koran maupun jurnal.
Meskipun sudah bergabung dalam barisan kaum revolusioner sebelum bertemu Lenin, cara pandangnya menjadi lebih tajam setelah pernikahan mereka. Kerjasama mereka selama puluhan tahun membuktikan ketepatan pandangan Lenin dan semakin meyakinkan Krupskaya atas analisis-analisis tersebut. Setelah meninggalnya Lenin, dia sedikit kesusahan menempatkan dirinya dalam perubahan situasi politik yang begitu cepat.
Walau posisinya berseberangan dengan Stalin, dia tidak pernah mundur akibat perpecahan dalam partai yaitu antara elemen revolusioner dan kaum kariris. Setelah secara berani bergabung bersama Trotsky dan Zinoviev pada tahun 1925-26, dia kemudian menyerah pada Stalin.
Sampai pada akhir hayatnya tahun 1939, di depan publik dia menanggung beban sebagai janda Lenin meskipun secara pribadi harus sabar menerima penghinaan melalui pengawasan dan sensor yang dilakukan oleh polisi-polisi rahasia Stalin. Dia seorang yang tak berdaya menyaksikan pembantaian hampir seluruh kaum Bolshevik, kawan-kawannya di masa-masa susah ketika berusaha mendirikan partai ataupun ketika menghadapi masa-masa sulit di pengasingan.
Krupskaya, tulis Trotsky dalam sebuah artikel untuk kematiannya, “adalah seorang yang luar biasa (outstanding personality) totalitas pengabdiannya, semangatnya, dan ketulusan jiwanya. Dia adalah wanita yang tak mudah dikelabui ……………seorang revolusionist sejati dan salah seorang yang paling tragis nasibnya dalam sejarah gerakan revolusioner”.
*Diterjemahkan (ntah oleh siapa--ed) dari Comrades in Arms, Bolshevik Women in the Russian Revolution,
karangan Kathy Fairfax, hal 33-4, terbitan Resistance Books, Australia.
Lahir pada tahun 1869 di St. Petersburg , Nadia menjadi Marxist pada awal tahun 1890an. Dia adalah seorang guru, kemudian mulai terlibat dalam gerakan ketika membantu kelas sore pengajaran Marxisme bagi buruh. Selanjutnya, ikut mendirikan Perkumpulan Perjuangan untuk Emansipasi Klas Pekerja bersama-sama dengan Lenin, yang dia kenal pada tahun 1894. Akibat pemogokan-pemogokan yang terjadi tahun 1896 dia dipenjarakan selama 6 bulan dan kemudian dibuang ke Siberia selama 3 tahun. Di sana dia menikahi Lenin. Sepanjang hidup Lenin, Krupskaya adalah teman terdekatnya, sekretarisnya dan orang yang sangat dipercayai Lenin dalam seluruh kerjanya.
Tahun 1901 mereka dibebaskan dan meninggalkan Rusia menuju pengasingan. Krupskaya memainkan peran kunci dalam organisasi Kaum Sosial Demokrat Rusia di pengasingan dan menduduki berbagai posisi selama bertahun-tahun. Selama di pengasingan dia terus menerus menunjukkan minat yang sangat luar biasa dalam pengembangan pengajaran teori dan praktek progressif, belajar bahasa asing dan berbagai literatur.
Setelah Revolusi Februari dia bersama Lenin kembali ke Rusia. Dia selanjutnya bekerja di sekretariat Komite Sentral partai sampai terpilih mewakili Distrik Vyborg untuk Duma di Petrogard, dimana dia aktif dalam departemen pendidikan rakyat (popular education).
Sesudah Revolusi Oktober dia ditempatkan di Komisariat Rakyat untuk Pendidikan (People’s Commisariat of Education). Di sini ia menunjukkan minat khusus dalam pendidikan bagi orang dewasa. Pada saat yang sama dia membantu mengorganisir Zhenotdel dan organisasi-organisasi pemuda—seperti Komsomol dan Pioneers—serta menulis berbagai artikel untuk koran-koran maupun jurnal.
Meskipun sudah bergabung dalam barisan kaum revolusioner sebelum bertemu Lenin, cara pandangnya menjadi lebih tajam setelah pernikahan mereka. Kerjasama mereka selama puluhan tahun membuktikan ketepatan pandangan Lenin dan semakin meyakinkan Krupskaya atas analisis-analisis tersebut. Setelah meninggalnya Lenin, dia sedikit kesusahan menempatkan dirinya dalam perubahan situasi politik yang begitu cepat.
Walau posisinya berseberangan dengan Stalin, dia tidak pernah mundur akibat perpecahan dalam partai yaitu antara elemen revolusioner dan kaum kariris. Setelah secara berani bergabung bersama Trotsky dan Zinoviev pada tahun 1925-26, dia kemudian menyerah pada Stalin.
Sampai pada akhir hayatnya tahun 1939, di depan publik dia menanggung beban sebagai janda Lenin meskipun secara pribadi harus sabar menerima penghinaan melalui pengawasan dan sensor yang dilakukan oleh polisi-polisi rahasia Stalin. Dia seorang yang tak berdaya menyaksikan pembantaian hampir seluruh kaum Bolshevik, kawan-kawannya di masa-masa susah ketika berusaha mendirikan partai ataupun ketika menghadapi masa-masa sulit di pengasingan.
Krupskaya, tulis Trotsky dalam sebuah artikel untuk kematiannya, “adalah seorang yang luar biasa (outstanding personality) totalitas pengabdiannya, semangatnya, dan ketulusan jiwanya. Dia adalah wanita yang tak mudah dikelabui ……………seorang revolusionist sejati dan salah seorang yang paling tragis nasibnya dalam sejarah gerakan revolusioner”.
*Diterjemahkan (ntah oleh siapa--ed) dari Comrades in Arms, Bolshevik Women in the Russian Revolution,
karangan Kathy Fairfax, hal 33-4, terbitan Resistance Books, Australia.
Label:
Bacaan
Rosa Luxemburg: Sang Pedang Revolusi
Rosa Luxemburg: Sang Pedang Revolusi
Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
* * *
Banyak sudah tulisan yang memahat nama agung perempuan ini, seorang pemimpin partai revolusioner Jerman (SPD); jurnalis dan penulis tersohor, sekaligus pemikir Marxis terkemuka. Rosa Luxemburg, tak hanya di Jerman, namanya abadi pula dalam perjuangan revolusioner di Polandia dan Rusia. Sebarisan karya-karya besarnya menjadi bagian dari penggerak perubahan sejarah. Seumur hidupnya, dengan sepenuh-penuh jiwanya, ia teguh berjuang demi tegaknya sosialisme.
Berakhir tragis. Setahun setelah revolusi Bolsyevik yang dengan gemilang meledak di Rusia, rezim Hitler menamatkan riwayatnya. Tengah malam pada Januari 1919, setelah menjalani perburuan panjang, beserta Wilhelm Pieck dan Karl Liebknecht, -- kawan-kawannya-- ia ditangkap tentara Jerman. Dalam perjalanan ke penjara mereka disiksa habis-habisan. Batok kepala Luxemburg dihantam dengan popor senjata, remuk. Belum selesai di situ, kepala perempuan yang sarat pikiran-pikiran radikal ini dihujani berpuluh-puluh peluru.
Mayatnya lantas dilempar ke sungai. Leo Jogiches, kawan karib sekaligus kekasihnya, terus mencari-cari hingga akhirnya ia sendiri tertangkap dan dibunuh tentara Jerman, sebelum berhasil menemukan mayat Luxemburg. Baru pada bulan Mei, mayat Luxemburg ditemukan mengapung, tersangkut di tiang pancang jembatan, di sebuah sungai di pinggiran kota Berlin.
Remuk, dan sudah membusuk. Toh, orang masih mengenali Rosa Luxemburg, masih mengenali sebelah kakinya yang cacat. Surat-surat indah, artikel, polemik yang ditulis pada kawan-kawannya, pada Leo Jochiches yang sering dipanggilnya “Julek”, adalah jejak-jejak berharga yang tertinggal sampai abad ini. Dia dikebumikan pada Juni di Friedrichsfeld berdampingan dengan kekasihnya. Juga bersama dengan jasad para revolusioner lainnya.
Keturunan Yahudi Yang Tersisih
Lahir pada bulan Maret 1871 di Zanosc, sebuah kota kecil di tenggara negara Polandia. Kelahirannya tepat beberapa hari sebelum kaum buruh di Paris mendeklarasikan Komune Paris, bentuk pertama pemerintahan sejati rakyat. Dia bungsu dari lima bersaudara dari keluarga kelas menengah keturunan Yahudi, yang mengenal makna tersingkir dan tertindas sejak belia.
Pada usia dua tahun keluarga mereka pindah ke ibukota, Warsawa. Di situ pula awal mulanya Luxemburg mengidap penyakit serius. Tulang-tulang tubuhnya tak tumbuh sempurna. Kakinya cacat. Dari tempat tidurnya ia belajar membaca. Sampai akhirnya Luxemburg kecil terlihat menonjol kecerdasannya. Seiring itu pula, jiwa pembebasnya yang terbentuk semenjak belia makin kokoh terbangun. Hasilnya, saat ia tamat sekolah dasar menjadi lulusan terbaik, namun dewan guru menolak memberikan penghargaan tersebut karena dinilai “terlalu suka menentang pihak yang berwenang".
Menatap Luxemburg secara fisik, alangkah jauh dari gambaran keperkasaan pahlawan besar. Tubuhnya teramat kurus dan cenderung tidak proporsional, ukuran lengannya terlalu pendek.Tulang panggulnya tak rata, sehingga ia harus berjalan dengan kaki timpang. Toh, ia memiliki pesona tersendiri; binar matanya amat tajam, terpancar energi dan keyakinan luar biasa. Itulah yang mampu menundukkan orang.
Tumbuh dengan jiwa pembebas, dengan semangat benci terhadap kezaliman, jelas bukan datang dari langit. Keluarganya lah yang mati-matian berjuang sebagai warga Yahudi yang tersisih, yang ikut membentuk keyakinannya. Ayahnya seorang terpelajar, memiliki pabrik kayu, yang memperkenalkannya dengan literatur politik. Ia mulai belajar tentang demokrasi modern. Sedang, sang ibu mewarisinya dengan kebijakan manusia. Seperti yang ditulisnya pada kawannya, Sophie Leibknect, Luxemburg mengatakan, ibundanya yang menganjurkan dirinya untuk membaca Injil sebagai sumber kebijakan manusia.
Luxemburg tertarik dengan politik sejak di sekolah menengah, ia bergabung dalam pergerakan revolusioner bawah tanah, dan menjadi anggota salah satu sel Partai Proletariat, yang bersekutu dengan kelompok Narodnik (populis) di Rusia. Dua tahun sesudahnya ia mulai dicari-cari petugas, terancam ditangkap. Untuk menghindar dari pemerintahan otoriter Alexander III, ia lari ke Swiss, pada tahun 1889.
Disana ia belajar di Universitas Zurich, di bidang ilmu alam, ekonomi dan hukum. Ia ikut pula dalam perjuangan kelas pekerja, aktif dalam kehidupan politik para imigran dari Polandia dan Rusia. Kota Zurich itu sendiri merupakan kiblat bagi kaum kiri untuk belajar, seperti dua orang Marxis termasyur dari Rusia, Plekhanov dan Akselrod. Rosa sempat belajar Marxisme, ikut perdebatan-perdebatan dan menjadi seorang teoretisi Marxis terkemuka. Di sana ia mematangkan Marxismenya. Ia meyakini dirinya sebagai bagian dari kelas proletar. Dia yakin, hanya sosialisme lah yang dapat memberikan kemerdekaan sejati dan keadilan sosial. Marxisme bukanlah hanya sebuah sistem teoritis untuk mengatasi semua persoalan, lebih daripada itu, dia merupakan metode menguji proses perubahan ekonomi pada masing-masing tahapan dari perkembangan sejarah beserta semua hasil dari kepentingan, gagasan, tujuan dan aktivitas politik masing-masing kelompok dalam masyarakat.
Luxemburg berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu politik dengan menulis karya ilmiah tentang perkembangan kapitalisme di Polandia. Sebuah gelar yang dianggap sebagai di luar kelaziman, lantaran pada waktu itu belum pernah ada perempuan yang sampai tingkat doktor.
1892, adalah titik awalnya secara total berserah diri dalam politik. Luxemburg mendirikan Partai Sosialis Polandia, namun beberapa waktu kemudian dia berselisih dengan para pimpinan Partai tersebut, yang dianggapnya terlalu berkompromi dengan nasionalisme borjuis.
Selanjutnya pada tahun 1893, bersama-sama dengan Leo Jochiches ia mendirikan Partai Sosial Demokrat, yang bersifat lebih revolusioner. Masih sebagai organisasi bawah tanah, Luxemburg pergi ke Paris dan bekerja sebagai editor koran partai Sprawa Robotnicza. Selain sebagai penulis, ia lebih menyukai posisinya sebagai orator, sedangkan Leo lebih berkonsentrasi pada kerja-kerja organisasi. Dia menjadi seorang tokoh penting dalam Partai Sosial-Demokrat Jerman tanpa meninggalkan peranannya sebagai seorang pemimpin gerakan revolusioner Polandia.
Luxemburg mendapat kewarganegaraan Jerman tahun 1898 setelah menikah dengan Gustav Lubeck, seorang pimpinan sayap kiri SPD. Ia berpartisipasi pada Internasional Kedua dan pada revolusi 1905 di Rusia bergabung dengan partai Sosial Demokrat.
Seorang Petarung Sejati
Rosa Luxemburg adalah sang petarung sejati. Seorang visioner yang mempunyai pikiran jauh ke depan. Tak pernah gentar berhadapan dengan para pengkritiknya, berdebat dengan sesama orang revolusioner, dan tidak jarang berbeda pendapat dengan Lenin, karena keadaan di Rusia amat berlainan dengan kondisi di Jerman waktu itu, sehingga kaum Bolsyevik mengembangkan stategi dan taktik yang berbeda pula.
Ia selalu melawan unsur-unsur nasionalis dalam gerakan kiri Polandia. Waktu itu sebagian dari wilayah Polanda dikuasai oleh Rusia. Pada dasarnya Lenin setuju bahwa semua nasionalisme harus dilawan. Namun Lenin melihat masalah itu dari sudut pandangan seorang warga Rusia, yaitu seorang warga dari bangsa penindas, dan dia berusaha menyadarkan kaum buruh Rusia yang mesti menjamin hak rakyat Polandia untuk merdeka. Hanya dengan menjamin hak ini kaum buruh Rusia bisa ikut membantu dalam mengatasi nasionalisme di Polandia, karena nasionalisme muncul sebagai akibat dari penindasan yang dilakukan oleh administrasi Rusia.
Luxemburg menganggap sikap Lenin ini sebagai kompromi dengan nasionalisme. Perdebatannya kompleks, karena sebetulnya Luxemburg juga ingin menjamin hak tersebut untuk sejumlah bangsa tertindas lainnya. Pada dasarnya pendekatan Lenin harus dinilai lebih benar karena lebih dialektis. Dia menyimak perjuangan nasional dan perjuangan kelas dari dua sisi: "Kami orang Rusia harus menekankan hak rakyat Polandia untuk merdeka, sedangkan kawan-kawan Polandia harus menekankan hak mereka untuk bersatu dengan kami."
Luxemburg juga mengecam sepak terjang kaum Bolsyevik setelah mereka mengambil alih kekuasaan. Kritik ini, dalam sebuah naskah yang ditemukan setelah dia meninggal dunia, terkadang disalah artikan. Rosa dengan antusias mendukung revolusi Oktober yang dipimpin oleh Partai Bolsyevik: "Pemberontakan Oktober tidak hanya menyelamatkan Revolusi Rusia dalam kenyataan, tetapi juga menyelamatkan nama baik gerakan sosialis internasional ... masa depan kita di mana-mana diperjuangkan oleh kaum Bolsyevik."
Kritiknya yang ketiga menyangkut soal demokrasi. Sebelum Oktober, kaum Bolsyevik menuntut agar majelis konstituante (yang mewakili rakyat dengan cara parlementaris borjuis) mesti dipanggil. Setelah insureksi Oktober, ketika soviet-soviet (dewan-dewan utusan buruh, tentara dan petani) mengambil alih kekuasaan, pihak Bolsyevik tidak lagi mendukung majelis konstituante yang didominasi oleh pihak reformis dan borjuis itu.
Ketika majelis itu akhirnya berkumpul, malah dibubarkan oleh kaum Bolsyevik. Menurut Luxemburg tindakan ini tidak demokratik Tapi yang harus dimengerti di sini adalah perbedaan antara demokrasi borjuis dan demokrasi buruh (sosialis). Dalam prinsip, soviet-soviet adalah lebih unggul karena berdasarkan kaum buruh yang memilih wakil-wakil mereka di tempat kerja.Dalam kenyataan, soviet-soviet merupakan kekuasaan kelas buruh, sedangkan majelis konstituante dikuasai oleh pihak kontrarevolusi. Jika kaum Bolsyevik mau mempertahankan kekuasaan kelas buruh, mau tidak mau majelis konstituante harus dibubarkan.
Cukup jelas, bahwa salah satu kesalahan terbesar Rosa adalah ketidakbersediaannya untuk membangun sebuah partai tipe Bolsyevik beberapa tahun terlebih dahulu. Namun kita tidak boleh membandingkan Lenin dan Luxemburg begitu saja. Lenin mengembangkan sebuah partai tipe baru karena harus menghadapi kondisi baru di Rusia. Sebelum tahun 1914 dia tidak pernah menuntut agar Rosa keluar dari Partai Sosial Demokrat Jerman. Malah Lenin lebih percaya pada para pimpinan partai itu. Baru ketika perang dunia meledak, dan para pimpinan sosial demokrat mengkianati kelas buruh dengan mendukung perang tersebut, Lenin akhirnya mengakui: "Rosa Luxemburg terbukti benar: sudah jauh-jauh hari dia sadar bahwa Kautsky adalah seorang teoretisi oportunis."
Pada tahun 1905, revolusi Rusia yang pertama meledak. Di sini, pemogokan massa menjadi motor revolusi, dan fenomena itu memberikan pengertian baru yang mendalam untuk memahami hubungan erat antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik. Para pimpinan sosial-demokrat seperti Bernstein dan juga Karl Kautsky (yang waktu itu masih mengaku sebagai seorang revolusioner) tidak setuju dengan pemogokan massa, karena mereka menganggap aksi-aksi semacam itu kurang politis. Namun Luxemburg menekankan bahwa di masa revolusi, perjuangan ekonomi berkembang serta meluas menjadi perjuangan politik, dan sebaliknya: “Gerakan semacam ini tidak hanya bergerak ke satu arah, dari sebuah perjuangan ekonomi ke politik, tetapi juga dalam arah sebaliknya. Setiap aksi massa politik yang penting, setelah mencapai puncak, menimbulkan sejumlah pemogokan ekonomi massa. Dan prinsip ini bukan hanya relevan untuk pemogokan massa secara terpisah, tetapi juga untuk revolusi secara keseluruhan. Dengan perluasannya, klarifikasi dan intensifikasi perjuangan politik, perjuangan ekonomi bukan hanya tidak surut, bahkan sebaliknya berkembang luas sekaligus menjadi lebih terorganisir dan lebih intensif. Ada pengaruh timbal-balik antara kedua macam perjuangan itu.”
Setiap serangan dan kemenangan baru dalam perjuangan politik akan berdampak secara dahsyat kepada perjuangan ekonomi, karena dengan meluasnya cakrawala kaum buruh serta motivasi mereka untuk memperbaiki kondisi mereka, pengalaman tersebut juga mempertinggi semangat tempur mereka. Setiap selesai gelombang aksi politik, ada endapan subur, dari situ akan muncul ribuan perjuangan ekonomi, dan sebaliknya.
Puncak pemogokan massa adalah "pemberontakan terbuka, yang hanya akan terealisir sebagai titik kulminasi dari serangkaian pemberontakan lokal yang mempersiapkan medan (yang hasilnya selama beberapa waktu mungkin adalah kekalahan sementara, sehingga aksi tersebut mungkin tampaknya ‘gegabah’)." Betapa hebatnya peningkatan kesadaran kelas yang dapat dihasilkan oleh pemogokan-pemogokan massa ini: “Yang paling berharga (karena paling abadi) dalam naik turunnya arus gelombang revolusi, adalah perkembangan jiwa kaum proletar. Keuntungan yang didapat oleh lompatan intelektual yang tinggi kaum proletar akan menjamin kemajuan mereka secara terus menerus dalam perjuangan politik dan ekonomi yang akan datang.”
Serangan yang gagal dari sayap kiri dari Partai Sosial Demokrat, "Liga Spartakus", di bawah kepemimpinan Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht, telah menyeretnya ke penjara --Spartakus adalah seorang budak yang memberontak pada zaman Romawi kuno; Liebknecht adalah satu-satunya anggota parlemen Jerman yang melawan Perang Dunia I semenjak awal--, di tahun 1916 sampai 1918.
Dari balik tembok penjara lah ia justru menemukan kekuatannya. Disini ia berjuang keras melewati masa-masa depresi, ia tak mengeluh mengatakan berjuta penderitaannya. Selain menulis tentang Revolusi Rusia, satu-satunya hal yang membahagiakan adalah bisa menulis surat untuk Leo-nya, yang berselisih 15 tahun, yang kemudian dijatuhi hukuman mati lantaran mengedarkan seruan mogok bagi para para tentara dan buruh pabrik senjata. Sebelum kematiannya, dia telah memutuskan dengan Clara Zetkin dan Mathild Jacob untuk mempublikasikan tulisan-tulisan karya Luxemburg. Hanya pada Leo lah ia nyatakan kepedihan hatinya: “Jika saat ini, nyawaku mendahului pergi, aku tak sanggup lagi berkata-kata sebagai ungkapan perpisahan, dan hanya bisa menerawang dengan tatap kosong keputusasaan. Sejatinya, aku jarang sekali berkehendak untuk bicara. Minggu-minggu berlalu tanpa mendengar suaraku sendiri”.
Surat-suratnya terus mengalir dari penjara. Luxemburg, seseorang yang mempunyai kecintaan yang dalam pada kehidupan, dia juga meluangkan waktu dengan merenungkan “burung-burung, hewan serta puisi.”
Tentang Perjuangan Perempuan
Kendati secara khusus jarang menulis tentang gerakan perempuan, terhadap gerakan perempuan sikapnya jelas. Baginya, kebebasan perempuan adalah bagian dari pembebasan dari penindasan kapitalisme. Ia menentang pemisahan terhadap gerakan perempuan dan gerakan politik. Sebagai ketua partai ia lebih menempatkan dirinya sebagai pimpinan revolusioner dari laki-laki dan perempuan. Ia berdiri mutlak diantara pertarungan politik.
Menurutnya, perempuan dapat mencapai kemerdekaannya secara penuh hanya dengan memenangkan revolusi sosial dan menyingkirkan perbudakan ekonomi mereka pada institusi keluarga, dan dia mencurahkan seluruh energinya untuk dipersembahkan pada revolusi. Luxemburg menolak pandangan tentang peran-peran stereotip perempuan yang biasanya, yang lazimnya ada di organisasi.
Ia tak pernah tertarik pada fungsi-fungsi administratif, keuangan, dan kerja-kerja pengorganisiran.Ia lebih suka berpidato dan menulis.Ia memahami pentingnya mengorganisir perempuan untuk menjadi bagian dari perjuangan revolusioner, dia tetap menolak untuk dipaksa dalam beberapa peranan tradisional perempuan ke dalam partai. Luxemburg memandang perempuan sebagai bagian yang terekspoitasi, termasuk di dalamnya kelas pekerja, bangsa-bangsa minoritas dan petani. “Seorang perempuan, harus berani untuk terlibat dalam politik, sebuah wilayah yang hampir seluruhnya dikuasai oleh laki-laki”, demikian ungkapnya.
Dalam sebuah surat yang ditulis yang ditulisnya di penjara, dia meminta Sophie Liebknecht untuk meneruskan bacaannya. “Engkau harus terus-menerus mengasah batinmu, dan hal tersebut akan sedikit mudah untukmu jika fikiranmu senantiasa segar dan lentur”.
Dalam sebuah pidato pada Rally Perempuan Sosial Demokratik Kedua, 12 Mei 1912, Luxemburg menyatakan bahwa hak memilih kaum perempuan adalah sasaran yang tepat. Dia berpendapat bahwa “gerakan massa untuk memperolehnya bukanlah (sekedar) tugas bagi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat proletariat. Lemahya hak-hak yang diberikan oleh pemerintah Jerman adalah hanya salah satu rantai belenggu yang menghalang-halangi kehidupan masyarakat. Lemahnya hak-hak pada kaum perempuan menjadi alat yang paling penting dari klas kapitalis yang berkuasa.”***
Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
* * *
Banyak sudah tulisan yang memahat nama agung perempuan ini, seorang pemimpin partai revolusioner Jerman (SPD); jurnalis dan penulis tersohor, sekaligus pemikir Marxis terkemuka. Rosa Luxemburg, tak hanya di Jerman, namanya abadi pula dalam perjuangan revolusioner di Polandia dan Rusia. Sebarisan karya-karya besarnya menjadi bagian dari penggerak perubahan sejarah. Seumur hidupnya, dengan sepenuh-penuh jiwanya, ia teguh berjuang demi tegaknya sosialisme.
Berakhir tragis. Setahun setelah revolusi Bolsyevik yang dengan gemilang meledak di Rusia, rezim Hitler menamatkan riwayatnya. Tengah malam pada Januari 1919, setelah menjalani perburuan panjang, beserta Wilhelm Pieck dan Karl Liebknecht, -- kawan-kawannya-- ia ditangkap tentara Jerman. Dalam perjalanan ke penjara mereka disiksa habis-habisan. Batok kepala Luxemburg dihantam dengan popor senjata, remuk. Belum selesai di situ, kepala perempuan yang sarat pikiran-pikiran radikal ini dihujani berpuluh-puluh peluru.
Mayatnya lantas dilempar ke sungai. Leo Jogiches, kawan karib sekaligus kekasihnya, terus mencari-cari hingga akhirnya ia sendiri tertangkap dan dibunuh tentara Jerman, sebelum berhasil menemukan mayat Luxemburg. Baru pada bulan Mei, mayat Luxemburg ditemukan mengapung, tersangkut di tiang pancang jembatan, di sebuah sungai di pinggiran kota Berlin.
Remuk, dan sudah membusuk. Toh, orang masih mengenali Rosa Luxemburg, masih mengenali sebelah kakinya yang cacat. Surat-surat indah, artikel, polemik yang ditulis pada kawan-kawannya, pada Leo Jochiches yang sering dipanggilnya “Julek”, adalah jejak-jejak berharga yang tertinggal sampai abad ini. Dia dikebumikan pada Juni di Friedrichsfeld berdampingan dengan kekasihnya. Juga bersama dengan jasad para revolusioner lainnya.
Keturunan Yahudi Yang Tersisih
Lahir pada bulan Maret 1871 di Zanosc, sebuah kota kecil di tenggara negara Polandia. Kelahirannya tepat beberapa hari sebelum kaum buruh di Paris mendeklarasikan Komune Paris, bentuk pertama pemerintahan sejati rakyat. Dia bungsu dari lima bersaudara dari keluarga kelas menengah keturunan Yahudi, yang mengenal makna tersingkir dan tertindas sejak belia.
Pada usia dua tahun keluarga mereka pindah ke ibukota, Warsawa. Di situ pula awal mulanya Luxemburg mengidap penyakit serius. Tulang-tulang tubuhnya tak tumbuh sempurna. Kakinya cacat. Dari tempat tidurnya ia belajar membaca. Sampai akhirnya Luxemburg kecil terlihat menonjol kecerdasannya. Seiring itu pula, jiwa pembebasnya yang terbentuk semenjak belia makin kokoh terbangun. Hasilnya, saat ia tamat sekolah dasar menjadi lulusan terbaik, namun dewan guru menolak memberikan penghargaan tersebut karena dinilai “terlalu suka menentang pihak yang berwenang".
Menatap Luxemburg secara fisik, alangkah jauh dari gambaran keperkasaan pahlawan besar. Tubuhnya teramat kurus dan cenderung tidak proporsional, ukuran lengannya terlalu pendek.Tulang panggulnya tak rata, sehingga ia harus berjalan dengan kaki timpang. Toh, ia memiliki pesona tersendiri; binar matanya amat tajam, terpancar energi dan keyakinan luar biasa. Itulah yang mampu menundukkan orang.
Tumbuh dengan jiwa pembebas, dengan semangat benci terhadap kezaliman, jelas bukan datang dari langit. Keluarganya lah yang mati-matian berjuang sebagai warga Yahudi yang tersisih, yang ikut membentuk keyakinannya. Ayahnya seorang terpelajar, memiliki pabrik kayu, yang memperkenalkannya dengan literatur politik. Ia mulai belajar tentang demokrasi modern. Sedang, sang ibu mewarisinya dengan kebijakan manusia. Seperti yang ditulisnya pada kawannya, Sophie Leibknect, Luxemburg mengatakan, ibundanya yang menganjurkan dirinya untuk membaca Injil sebagai sumber kebijakan manusia.
Luxemburg tertarik dengan politik sejak di sekolah menengah, ia bergabung dalam pergerakan revolusioner bawah tanah, dan menjadi anggota salah satu sel Partai Proletariat, yang bersekutu dengan kelompok Narodnik (populis) di Rusia. Dua tahun sesudahnya ia mulai dicari-cari petugas, terancam ditangkap. Untuk menghindar dari pemerintahan otoriter Alexander III, ia lari ke Swiss, pada tahun 1889.
Disana ia belajar di Universitas Zurich, di bidang ilmu alam, ekonomi dan hukum. Ia ikut pula dalam perjuangan kelas pekerja, aktif dalam kehidupan politik para imigran dari Polandia dan Rusia. Kota Zurich itu sendiri merupakan kiblat bagi kaum kiri untuk belajar, seperti dua orang Marxis termasyur dari Rusia, Plekhanov dan Akselrod. Rosa sempat belajar Marxisme, ikut perdebatan-perdebatan dan menjadi seorang teoretisi Marxis terkemuka. Di sana ia mematangkan Marxismenya. Ia meyakini dirinya sebagai bagian dari kelas proletar. Dia yakin, hanya sosialisme lah yang dapat memberikan kemerdekaan sejati dan keadilan sosial. Marxisme bukanlah hanya sebuah sistem teoritis untuk mengatasi semua persoalan, lebih daripada itu, dia merupakan metode menguji proses perubahan ekonomi pada masing-masing tahapan dari perkembangan sejarah beserta semua hasil dari kepentingan, gagasan, tujuan dan aktivitas politik masing-masing kelompok dalam masyarakat.
Luxemburg berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu politik dengan menulis karya ilmiah tentang perkembangan kapitalisme di Polandia. Sebuah gelar yang dianggap sebagai di luar kelaziman, lantaran pada waktu itu belum pernah ada perempuan yang sampai tingkat doktor.
1892, adalah titik awalnya secara total berserah diri dalam politik. Luxemburg mendirikan Partai Sosialis Polandia, namun beberapa waktu kemudian dia berselisih dengan para pimpinan Partai tersebut, yang dianggapnya terlalu berkompromi dengan nasionalisme borjuis.
Selanjutnya pada tahun 1893, bersama-sama dengan Leo Jochiches ia mendirikan Partai Sosial Demokrat, yang bersifat lebih revolusioner. Masih sebagai organisasi bawah tanah, Luxemburg pergi ke Paris dan bekerja sebagai editor koran partai Sprawa Robotnicza. Selain sebagai penulis, ia lebih menyukai posisinya sebagai orator, sedangkan Leo lebih berkonsentrasi pada kerja-kerja organisasi. Dia menjadi seorang tokoh penting dalam Partai Sosial-Demokrat Jerman tanpa meninggalkan peranannya sebagai seorang pemimpin gerakan revolusioner Polandia.
Luxemburg mendapat kewarganegaraan Jerman tahun 1898 setelah menikah dengan Gustav Lubeck, seorang pimpinan sayap kiri SPD. Ia berpartisipasi pada Internasional Kedua dan pada revolusi 1905 di Rusia bergabung dengan partai Sosial Demokrat.
Seorang Petarung Sejati
Rosa Luxemburg adalah sang petarung sejati. Seorang visioner yang mempunyai pikiran jauh ke depan. Tak pernah gentar berhadapan dengan para pengkritiknya, berdebat dengan sesama orang revolusioner, dan tidak jarang berbeda pendapat dengan Lenin, karena keadaan di Rusia amat berlainan dengan kondisi di Jerman waktu itu, sehingga kaum Bolsyevik mengembangkan stategi dan taktik yang berbeda pula.
Ia selalu melawan unsur-unsur nasionalis dalam gerakan kiri Polandia. Waktu itu sebagian dari wilayah Polanda dikuasai oleh Rusia. Pada dasarnya Lenin setuju bahwa semua nasionalisme harus dilawan. Namun Lenin melihat masalah itu dari sudut pandangan seorang warga Rusia, yaitu seorang warga dari bangsa penindas, dan dia berusaha menyadarkan kaum buruh Rusia yang mesti menjamin hak rakyat Polandia untuk merdeka. Hanya dengan menjamin hak ini kaum buruh Rusia bisa ikut membantu dalam mengatasi nasionalisme di Polandia, karena nasionalisme muncul sebagai akibat dari penindasan yang dilakukan oleh administrasi Rusia.
Luxemburg menganggap sikap Lenin ini sebagai kompromi dengan nasionalisme. Perdebatannya kompleks, karena sebetulnya Luxemburg juga ingin menjamin hak tersebut untuk sejumlah bangsa tertindas lainnya. Pada dasarnya pendekatan Lenin harus dinilai lebih benar karena lebih dialektis. Dia menyimak perjuangan nasional dan perjuangan kelas dari dua sisi: "Kami orang Rusia harus menekankan hak rakyat Polandia untuk merdeka, sedangkan kawan-kawan Polandia harus menekankan hak mereka untuk bersatu dengan kami."
Luxemburg juga mengecam sepak terjang kaum Bolsyevik setelah mereka mengambil alih kekuasaan. Kritik ini, dalam sebuah naskah yang ditemukan setelah dia meninggal dunia, terkadang disalah artikan. Rosa dengan antusias mendukung revolusi Oktober yang dipimpin oleh Partai Bolsyevik: "Pemberontakan Oktober tidak hanya menyelamatkan Revolusi Rusia dalam kenyataan, tetapi juga menyelamatkan nama baik gerakan sosialis internasional ... masa depan kita di mana-mana diperjuangkan oleh kaum Bolsyevik."
Kritiknya yang ketiga menyangkut soal demokrasi. Sebelum Oktober, kaum Bolsyevik menuntut agar majelis konstituante (yang mewakili rakyat dengan cara parlementaris borjuis) mesti dipanggil. Setelah insureksi Oktober, ketika soviet-soviet (dewan-dewan utusan buruh, tentara dan petani) mengambil alih kekuasaan, pihak Bolsyevik tidak lagi mendukung majelis konstituante yang didominasi oleh pihak reformis dan borjuis itu.
Ketika majelis itu akhirnya berkumpul, malah dibubarkan oleh kaum Bolsyevik. Menurut Luxemburg tindakan ini tidak demokratik Tapi yang harus dimengerti di sini adalah perbedaan antara demokrasi borjuis dan demokrasi buruh (sosialis). Dalam prinsip, soviet-soviet adalah lebih unggul karena berdasarkan kaum buruh yang memilih wakil-wakil mereka di tempat kerja.Dalam kenyataan, soviet-soviet merupakan kekuasaan kelas buruh, sedangkan majelis konstituante dikuasai oleh pihak kontrarevolusi. Jika kaum Bolsyevik mau mempertahankan kekuasaan kelas buruh, mau tidak mau majelis konstituante harus dibubarkan.
Cukup jelas, bahwa salah satu kesalahan terbesar Rosa adalah ketidakbersediaannya untuk membangun sebuah partai tipe Bolsyevik beberapa tahun terlebih dahulu. Namun kita tidak boleh membandingkan Lenin dan Luxemburg begitu saja. Lenin mengembangkan sebuah partai tipe baru karena harus menghadapi kondisi baru di Rusia. Sebelum tahun 1914 dia tidak pernah menuntut agar Rosa keluar dari Partai Sosial Demokrat Jerman. Malah Lenin lebih percaya pada para pimpinan partai itu. Baru ketika perang dunia meledak, dan para pimpinan sosial demokrat mengkianati kelas buruh dengan mendukung perang tersebut, Lenin akhirnya mengakui: "Rosa Luxemburg terbukti benar: sudah jauh-jauh hari dia sadar bahwa Kautsky adalah seorang teoretisi oportunis."
Pada tahun 1905, revolusi Rusia yang pertama meledak. Di sini, pemogokan massa menjadi motor revolusi, dan fenomena itu memberikan pengertian baru yang mendalam untuk memahami hubungan erat antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik. Para pimpinan sosial-demokrat seperti Bernstein dan juga Karl Kautsky (yang waktu itu masih mengaku sebagai seorang revolusioner) tidak setuju dengan pemogokan massa, karena mereka menganggap aksi-aksi semacam itu kurang politis. Namun Luxemburg menekankan bahwa di masa revolusi, perjuangan ekonomi berkembang serta meluas menjadi perjuangan politik, dan sebaliknya: “Gerakan semacam ini tidak hanya bergerak ke satu arah, dari sebuah perjuangan ekonomi ke politik, tetapi juga dalam arah sebaliknya. Setiap aksi massa politik yang penting, setelah mencapai puncak, menimbulkan sejumlah pemogokan ekonomi massa. Dan prinsip ini bukan hanya relevan untuk pemogokan massa secara terpisah, tetapi juga untuk revolusi secara keseluruhan. Dengan perluasannya, klarifikasi dan intensifikasi perjuangan politik, perjuangan ekonomi bukan hanya tidak surut, bahkan sebaliknya berkembang luas sekaligus menjadi lebih terorganisir dan lebih intensif. Ada pengaruh timbal-balik antara kedua macam perjuangan itu.”
Setiap serangan dan kemenangan baru dalam perjuangan politik akan berdampak secara dahsyat kepada perjuangan ekonomi, karena dengan meluasnya cakrawala kaum buruh serta motivasi mereka untuk memperbaiki kondisi mereka, pengalaman tersebut juga mempertinggi semangat tempur mereka. Setiap selesai gelombang aksi politik, ada endapan subur, dari situ akan muncul ribuan perjuangan ekonomi, dan sebaliknya.
Puncak pemogokan massa adalah "pemberontakan terbuka, yang hanya akan terealisir sebagai titik kulminasi dari serangkaian pemberontakan lokal yang mempersiapkan medan (yang hasilnya selama beberapa waktu mungkin adalah kekalahan sementara, sehingga aksi tersebut mungkin tampaknya ‘gegabah’)." Betapa hebatnya peningkatan kesadaran kelas yang dapat dihasilkan oleh pemogokan-pemogokan massa ini: “Yang paling berharga (karena paling abadi) dalam naik turunnya arus gelombang revolusi, adalah perkembangan jiwa kaum proletar. Keuntungan yang didapat oleh lompatan intelektual yang tinggi kaum proletar akan menjamin kemajuan mereka secara terus menerus dalam perjuangan politik dan ekonomi yang akan datang.”
Serangan yang gagal dari sayap kiri dari Partai Sosial Demokrat, "Liga Spartakus", di bawah kepemimpinan Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht, telah menyeretnya ke penjara --Spartakus adalah seorang budak yang memberontak pada zaman Romawi kuno; Liebknecht adalah satu-satunya anggota parlemen Jerman yang melawan Perang Dunia I semenjak awal--, di tahun 1916 sampai 1918.
Dari balik tembok penjara lah ia justru menemukan kekuatannya. Disini ia berjuang keras melewati masa-masa depresi, ia tak mengeluh mengatakan berjuta penderitaannya. Selain menulis tentang Revolusi Rusia, satu-satunya hal yang membahagiakan adalah bisa menulis surat untuk Leo-nya, yang berselisih 15 tahun, yang kemudian dijatuhi hukuman mati lantaran mengedarkan seruan mogok bagi para para tentara dan buruh pabrik senjata. Sebelum kematiannya, dia telah memutuskan dengan Clara Zetkin dan Mathild Jacob untuk mempublikasikan tulisan-tulisan karya Luxemburg. Hanya pada Leo lah ia nyatakan kepedihan hatinya: “Jika saat ini, nyawaku mendahului pergi, aku tak sanggup lagi berkata-kata sebagai ungkapan perpisahan, dan hanya bisa menerawang dengan tatap kosong keputusasaan. Sejatinya, aku jarang sekali berkehendak untuk bicara. Minggu-minggu berlalu tanpa mendengar suaraku sendiri”.
Surat-suratnya terus mengalir dari penjara. Luxemburg, seseorang yang mempunyai kecintaan yang dalam pada kehidupan, dia juga meluangkan waktu dengan merenungkan “burung-burung, hewan serta puisi.”
Tentang Perjuangan Perempuan
Kendati secara khusus jarang menulis tentang gerakan perempuan, terhadap gerakan perempuan sikapnya jelas. Baginya, kebebasan perempuan adalah bagian dari pembebasan dari penindasan kapitalisme. Ia menentang pemisahan terhadap gerakan perempuan dan gerakan politik. Sebagai ketua partai ia lebih menempatkan dirinya sebagai pimpinan revolusioner dari laki-laki dan perempuan. Ia berdiri mutlak diantara pertarungan politik.
Menurutnya, perempuan dapat mencapai kemerdekaannya secara penuh hanya dengan memenangkan revolusi sosial dan menyingkirkan perbudakan ekonomi mereka pada institusi keluarga, dan dia mencurahkan seluruh energinya untuk dipersembahkan pada revolusi. Luxemburg menolak pandangan tentang peran-peran stereotip perempuan yang biasanya, yang lazimnya ada di organisasi.
Ia tak pernah tertarik pada fungsi-fungsi administratif, keuangan, dan kerja-kerja pengorganisiran.Ia lebih suka berpidato dan menulis.Ia memahami pentingnya mengorganisir perempuan untuk menjadi bagian dari perjuangan revolusioner, dia tetap menolak untuk dipaksa dalam beberapa peranan tradisional perempuan ke dalam partai. Luxemburg memandang perempuan sebagai bagian yang terekspoitasi, termasuk di dalamnya kelas pekerja, bangsa-bangsa minoritas dan petani. “Seorang perempuan, harus berani untuk terlibat dalam politik, sebuah wilayah yang hampir seluruhnya dikuasai oleh laki-laki”, demikian ungkapnya.
Dalam sebuah surat yang ditulis yang ditulisnya di penjara, dia meminta Sophie Liebknecht untuk meneruskan bacaannya. “Engkau harus terus-menerus mengasah batinmu, dan hal tersebut akan sedikit mudah untukmu jika fikiranmu senantiasa segar dan lentur”.
Dalam sebuah pidato pada Rally Perempuan Sosial Demokratik Kedua, 12 Mei 1912, Luxemburg menyatakan bahwa hak memilih kaum perempuan adalah sasaran yang tepat. Dia berpendapat bahwa “gerakan massa untuk memperolehnya bukanlah (sekedar) tugas bagi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat proletariat. Lemahya hak-hak yang diberikan oleh pemerintah Jerman adalah hanya salah satu rantai belenggu yang menghalang-halangi kehidupan masyarakat. Lemahnya hak-hak pada kaum perempuan menjadi alat yang paling penting dari klas kapitalis yang berkuasa.”***
Label:
Bacaan
Buruh Pabrik Rokok Malang Protes THR Diturunkan
Buruh Pabrik Rokok Malang Protes THR Diturunkan
Sabtu, 28 Agst 2010 20:18:11| Sospol | Dibaca 11 kali
Malang - Sedikitnya 500 buruh pabrik rokok PT Adi Bungsu di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu melakukan protes kepada perusahaan rokok tersebut, karena tunjangan hari raya (THR) pada tahun ini nilainya diturunkan.
Salah satu buruh, Alfiyah (31), mengatakan protes dilakukan para buruh setelah adanya pengumuman penurunan nilai THR yang dilakukan mandor.
"Ketika para buruh masuk pabrik untuk bekerja, Sabtu pagi, tiba-tiba mandor pabrik mengumumkan bahwa THR tahun ini turun dari Rp1,8 juta menjadi Rp1,1 juta," ucapnya mengungkapkan.
Alfiyah menjelaskan, setelah mendengar pengumuman tersebut, kemudian semua buruh yang berjumlah 500 keluar pabrik dan melakukan aksi protes di depan pabrik.
"Kami protes dengan mengadakan mogok kerja kalau tidak dituruti permintaan kami, yakni mengembalikan nilai THR seperti tahun lalu," katanya menegaskan.
Ia menjelaskan, tuntutan para buruh meliputi supaya Fadhila yang juga kepala personalia PT Adi Bungsu diturunkan, lalu THR para buruh tidak diturunkan.
Sementara salah satu perwakilan pihak pabrik, Heri Sunarko, menjelaskan tuntutan para buruh akan dipenuhi dalam waktu dekat.
Untuk itu diharapkan supaya para buruh tetap tenang, sebab yang menjadi permintaan para buruh dalam waktu dekat akan dituruti pihak manajemen.
"THR tidak akan dikurangi yakni tetap Rp1,8 juta, sementara permintaan mundur Pak Fadhila akan dipenuhi juga, sebab Pak Fadhila sudah siap turun dari personalia," ujar Heri menegaskan.
Usai mendengar penjelasan Heru, kemudian para buruh mengakhiri aksinya dengan bubar secara sendirinya."Kedepan, pihak pabrik juga akan tetap menyesuaikan gaji serta THR para buruh dengan UMK Kota Malang," ujar Heri berjanji.
Sabtu, 28 Agst 2010 20:18:11| Sospol | Dibaca 11 kali
Malang - Sedikitnya 500 buruh pabrik rokok PT Adi Bungsu di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu melakukan protes kepada perusahaan rokok tersebut, karena tunjangan hari raya (THR) pada tahun ini nilainya diturunkan.
Salah satu buruh, Alfiyah (31), mengatakan protes dilakukan para buruh setelah adanya pengumuman penurunan nilai THR yang dilakukan mandor.
"Ketika para buruh masuk pabrik untuk bekerja, Sabtu pagi, tiba-tiba mandor pabrik mengumumkan bahwa THR tahun ini turun dari Rp1,8 juta menjadi Rp1,1 juta," ucapnya mengungkapkan.
Alfiyah menjelaskan, setelah mendengar pengumuman tersebut, kemudian semua buruh yang berjumlah 500 keluar pabrik dan melakukan aksi protes di depan pabrik.
"Kami protes dengan mengadakan mogok kerja kalau tidak dituruti permintaan kami, yakni mengembalikan nilai THR seperti tahun lalu," katanya menegaskan.
Ia menjelaskan, tuntutan para buruh meliputi supaya Fadhila yang juga kepala personalia PT Adi Bungsu diturunkan, lalu THR para buruh tidak diturunkan.
Sementara salah satu perwakilan pihak pabrik, Heri Sunarko, menjelaskan tuntutan para buruh akan dipenuhi dalam waktu dekat.
Untuk itu diharapkan supaya para buruh tetap tenang, sebab yang menjadi permintaan para buruh dalam waktu dekat akan dituruti pihak manajemen.
"THR tidak akan dikurangi yakni tetap Rp1,8 juta, sementara permintaan mundur Pak Fadhila akan dipenuhi juga, sebab Pak Fadhila sudah siap turun dari personalia," ujar Heri menegaskan.
Usai mendengar penjelasan Heru, kemudian para buruh mengakhiri aksinya dengan bubar secara sendirinya."Kedepan, pihak pabrik juga akan tetap menyesuaikan gaji serta THR para buruh dengan UMK Kota Malang," ujar Heri berjanji.
Label:
Kabar Kawan
K E P U T U S A N B E R S A M A, T E N T A N G HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2010
K E P U T U S A N B E R S A M A
MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI,
DAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 1 TAHUN 2009
NOMOR : SKB/13/M.PAN/8/2009
NOMOR : KEP.227/MEN/VIII/2009
T E N T A N G
HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2010
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI,
DAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
Menimbang :
a. bahwa dalam rangka efisiensi dan efektivitas pemanfaatan hari-hari kerja, hari-hari libur, dan cuti bersama, dipandang perlu menata pelaksanaan hari-hari libur nasional dan mengatur cuti bersama tahun 2010;
b. bahwa penataan hari-hari libur dan pengaturan cuti bersama tahun 2010 sebagaimana tersebut pada huruf a menjadi pedoman bagi instansi pemerintah dan swasta sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b di atas, perlu ditetapkan Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara tentang Hari-hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2010.
Mengingat :
1. Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 251 Tahun 1967 tentang Hari-hari Libur sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 1971;
2. Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek;
3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008; Keputusan Menteri Agama Nomor 331 Tahun 2002 tentang Penetapan Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional.
4.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
KESATU : Hari-hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2010 adalah
sebagaimana tersebut dalam lampiran Keputusan ini.
KEDUA : Untuk kepentingan pelaksanaan ibadah Hari Raya Idul Fitri dan Hari
Raya Idul Adha Magi umat Islam, maka tanggal 1 Syawal 1431 H dan 10
Dzulhijjah 1431 H, ditetapkan kemudian dengan Keputusan Menteri
Agama.
KETIGA : Unit kerja/satuan organisasi yang berfungsi memberikan pelayanan
langsung kepada masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah yang
mencakup kepentingan masyarakat luas, seperti: rumah
sakit/puskesmas, unit kerja yang memberikan pelayanan telekomunikasi,
listrik, air minum, pemadam kebakaran, keamanan dan ketertiban,
perbankan, perhubungan, perpajakan, bea cukai, dan unit kerja
pelayanan lainnya yang sejenis agar mengatur penugasan pegawai,
karyawan, dan pekerja/buruh pada hari-hari libur nasional dan cuti
bersama yang ditetapkan, sesuai dengan peraturan perundang
undangan.
KEEMPAT : Pelaksanaan cuti bersama sebagaimana dimaksud pada dictum
KESATU mengurangi hak cuti tahunan pegawai, karyawan dan
pekerja/buruh sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan
ketentuan yang berlaku pada masing-masing instansi /lembaga
/perusahaan.
KELIMA : Pelaksanaan cuti bersama di kalangan dunia usaha sebagaimana
Dimaksud pada diktum KESATU diatur oleh lembaga atau perusahaan
Yang bersangkutan.
KEENAM : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
LAMPIRAN KEPUTUSAN BERSAMA
MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI,
DAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN KEPUTUSAN BERSAMA
NOMOR : 1 TAHUN 2009
NOMOR : SKB/13/M.PAN/8/2009
NOMOR : KEP.227/MEN/VIII/2009
TENTANG
HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2010
A. HARI LIBUR TAHUN 2010
No Tanggal Hari Keterangan
1. 1 Januari Jumat Tahun Baru Masehi
2. 14 Februari Minggu Tahun Baru Imlek 2561
3. 26 Februari Jumat Maulid Nabi Muhammad SAW
4. 16 Maret Selasa Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932
5. 2 April Jumat Wafat Yesus Kristus
6. 13 Mei Kamis Kenaikan Yesus Kristus
7. 28 Mei Jumat Hari. Raya Waisak Tahun 2554
8. 10 Juli Sabtu Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW
9. 17 Agustus Selasa Hari Kemerdekaan RI
10. 10-11 September Jumat - Sabtu Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijriyah
11. 17 November Rabu Idul Adha 1431 Hijriyah
12. 7 Desember Selasa Tahun Baru 1432 Hijriyah
13. 25 Desember Sabtu Hari Raya Natal
B. CUTI BERSAMA TAHUN 2010
Tanggal Hari Keterangan
9 September Kamis Cuti Bersama Idul Fitri
13 September Senin Cuti Bersama Idul Fitri
24 Desember Jumat Cuti Bersama Hari Raya Natal
MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI,
DAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 1 TAHUN 2009
NOMOR : SKB/13/M.PAN/8/2009
NOMOR : KEP.227/MEN/VIII/2009
T E N T A N G
HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2010
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI,
DAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
Menimbang :
a. bahwa dalam rangka efisiensi dan efektivitas pemanfaatan hari-hari kerja, hari-hari libur, dan cuti bersama, dipandang perlu menata pelaksanaan hari-hari libur nasional dan mengatur cuti bersama tahun 2010;
b. bahwa penataan hari-hari libur dan pengaturan cuti bersama tahun 2010 sebagaimana tersebut pada huruf a menjadi pedoman bagi instansi pemerintah dan swasta sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b di atas, perlu ditetapkan Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara tentang Hari-hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2010.
Mengingat :
1. Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 251 Tahun 1967 tentang Hari-hari Libur sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 1971;
2. Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek;
3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008; Keputusan Menteri Agama Nomor 331 Tahun 2002 tentang Penetapan Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional.
4.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
KESATU : Hari-hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2010 adalah
sebagaimana tersebut dalam lampiran Keputusan ini.
KEDUA : Untuk kepentingan pelaksanaan ibadah Hari Raya Idul Fitri dan Hari
Raya Idul Adha Magi umat Islam, maka tanggal 1 Syawal 1431 H dan 10
Dzulhijjah 1431 H, ditetapkan kemudian dengan Keputusan Menteri
Agama.
KETIGA : Unit kerja/satuan organisasi yang berfungsi memberikan pelayanan
langsung kepada masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah yang
mencakup kepentingan masyarakat luas, seperti: rumah
sakit/puskesmas, unit kerja yang memberikan pelayanan telekomunikasi,
listrik, air minum, pemadam kebakaran, keamanan dan ketertiban,
perbankan, perhubungan, perpajakan, bea cukai, dan unit kerja
pelayanan lainnya yang sejenis agar mengatur penugasan pegawai,
karyawan, dan pekerja/buruh pada hari-hari libur nasional dan cuti
bersama yang ditetapkan, sesuai dengan peraturan perundang
undangan.
KEEMPAT : Pelaksanaan cuti bersama sebagaimana dimaksud pada dictum
KESATU mengurangi hak cuti tahunan pegawai, karyawan dan
pekerja/buruh sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan
ketentuan yang berlaku pada masing-masing instansi /lembaga
/perusahaan.
KELIMA : Pelaksanaan cuti bersama di kalangan dunia usaha sebagaimana
Dimaksud pada diktum KESATU diatur oleh lembaga atau perusahaan
Yang bersangkutan.
KEENAM : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
LAMPIRAN KEPUTUSAN BERSAMA
MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI,
DAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN KEPUTUSAN BERSAMA
NOMOR : 1 TAHUN 2009
NOMOR : SKB/13/M.PAN/8/2009
NOMOR : KEP.227/MEN/VIII/2009
TENTANG
HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2010
A. HARI LIBUR TAHUN 2010
No Tanggal Hari Keterangan
1. 1 Januari Jumat Tahun Baru Masehi
2. 14 Februari Minggu Tahun Baru Imlek 2561
3. 26 Februari Jumat Maulid Nabi Muhammad SAW
4. 16 Maret Selasa Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932
5. 2 April Jumat Wafat Yesus Kristus
6. 13 Mei Kamis Kenaikan Yesus Kristus
7. 28 Mei Jumat Hari. Raya Waisak Tahun 2554
8. 10 Juli Sabtu Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW
9. 17 Agustus Selasa Hari Kemerdekaan RI
10. 10-11 September Jumat - Sabtu Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijriyah
11. 17 November Rabu Idul Adha 1431 Hijriyah
12. 7 Desember Selasa Tahun Baru 1432 Hijriyah
13. 25 Desember Sabtu Hari Raya Natal
B. CUTI BERSAMA TAHUN 2010
Tanggal Hari Keterangan
9 September Kamis Cuti Bersama Idul Fitri
13 September Senin Cuti Bersama Idul Fitri
24 Desember Jumat Cuti Bersama Hari Raya Natal
Label:
UU Perburuhan
Sabtu, 28 Agustus 2010
Haji Misbach: Muslim Komunis
Haji Misbach: Muslim Komunis
Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
* * *
Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Lahir di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dibesarkan sebagai putra seorang pedagang batik yang kaya raya. Bernama kecil Ahmad, setelah menikah ia berganti nama menjadi Darmodiprono. Dan usai menunaikan ibadah haji, orang mengenalnya sebagai Haji Mohamad Misbach.
Kauman, tempat Misbach dilahirkan, letaknya di sisi barat alun-alun utara, persis di depan keraton Kasunanan dekat Masjid Agung Surakarta. Di situlah tinggal para pejabat keagamaan Sunan. Ayah Misbach sendiri seorang pejabat keagamaan. Karena lingkungan yang religius itulah, pada usia sekolah ia ikut pelajaran keagamaan dari pesantren, selain di sekolah bumiputera "Ongko Loro".
Menjelang dewasa, Misbach terjun ke dunia usaha sebagai pedagang batik di Kauman mengikuti jejak ayahnya. Bisnisnya pun menanjak dan ia berhasil membuka rumah pembatikan dan sukses. Pada 1912 di Surakarta berdiri Sarekat Islam (SI). Bicara kepribadian Misbach, orang memuji keramahannya kepada setiap orang dan sikap egaliternya tak membedakan priyayi atau orang kebanyakan. Sebagai seorang haji ia lebih suka mengenakan kain kepala ala Jawa, Misbach mulai aktif terlibat dalam pergerakan pada tahun 1914, ketika ia berkecimpung dalam IJB (Indlandsche Journalisten Bond)-nya Marco. Pada tahun 1915, ia menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin, yang edisi pertamanya tertanggal 15 Januari 1915 dan kemudian menerbitkan Islam Bergerak pada tahun 1917. Surat-surat kabar ini menjadi media gerakan yang sangat populer di Surakarta dan sekitarnya.
Marco Kartodikromo, salah satu tokoh pergerakan pada saat itu berkisah tentang Misbach:
".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memaki kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut "Haji".
Apa yang tersirat dari tulisan Marco adalah populisme Misbach. Populisme seorang Haji, sekaligus pedagang yang sadar akan penindasan kolonialis Belanda dan tertarik dengan ide-ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia pada jaman itu.
Misbach langsung terjun melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat. Membentuk organisasi dan mengorganisir pemogokan ataupun rapat-rapat umum/vergadering yang dijadikan mimbar pemblejetan kolonialisme dan kapitalisme.Bulan Mei 1919 akibat pemogokan-pemogokan petani yang dipimpinnya, Misbach dan para pemimpin pergerakan lainnya di Surakarta ditangkap.
Pada 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan selama 2 tahun 3 bulan. Pada 22 Agustus 1922 dia kembali ke rumahnya di Kauman, Surakarta. Maret 1923, ia sudah muncul sebagai propagandis PKI/SI Merah dan berbicara tentang keselarasan antara paham Komunis dan Islam. Bulan Juli 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror/sabotase di Surakarta dan sekitarnya. Walaupun bukan yang pertama diasingkan tapi ia-lah orang yang pertama yang sesungguhnya berangkat ke tanah pengasingan di kawasan Hindia sendiri.
Orang menggambarkan Haji Misbach sebagai sosok yang tak segan bergaul dengan anak-anak muda penikmat klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer. Satu tulisan tentang Misbach menyebutkan, di tengah komunitas pemuda, Misbach menjadi kawan berbincang yang enak, sementara di tengah pecandu wayang orang Misbach lebih dihormati ketimbang direktur wayang orang.
"... di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama."
Takashi Shiraisi mengungkapkan perbedaan dinamika sosial Islam di Yogya dan Surakarta. Ini dikaitkan dengan persamaan dan perbedaan antara KH Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan, Misbach, seorang muslim ortodoks yang saleh, progresif, dan hidup di Surakarta.
Di Yogya, Muhammadiyah yang lahir pada 1912 di Kauman, segera menjadi sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh yang kebanyakan berlatar belakang keluarga pegawai keagamaan Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid Agung dan ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di Yogya. Dahlan sendiri sempat dipercaya menjadi chatib amin. Para penganjur Muhammadiyah umumnya anak-anak pegawai keagamaan. Kala itu birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga, kata Shiraisi, wewenang keagamaannya tidak berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar Islam, masih kalah wibawa dibandingkan para kiai yang pesantrennya bebas dari negara.
Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil menyatukan umat Islam yang terpecah-pecah. Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid, pendirian lembaga pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan umat Islam. Mereka tumbuh menjadi pesaing tangguh misionaris Kristen dan aktivis sekolah-sekolah bumiputera yang didirikan pemerintah.
Lain dengan di Surakarta. Kala itu belum ada pengaruh sekuat Dahlan dan Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta sudah ada sekolah agama modern pertama di Jawa, Madrasah Mamba'ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati Sosrodiningrat (1906) dan SI pun sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan yang progresif, kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang batik mempunyai forum yang berwibawa, Medan Moeslimin. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain tersalur. Kelompok ini menyebut diri "kaum muda Islam".
Beda pergerakan Islam Surakarta dan Yogya, di Yogya reformis tentu juga modernis, tetapi di Surakarta kaum muda Islam memang modernis tetapi belum tentu reformis. Kegiatan keislaman di Solo banyak dipengaruhi kiai progresif tapi ortodoks, seperti Kiai Arfah dan KH Adnan. Sampai suatu ketika ortodoksi yang cenderung menghindar ijtihad itu terpecah pada 1918.
Perpecahan kelompok Islam di Surakarta dipicu artikel yang dimuat dalam Djawi Hiswara, ditulis Martodharsono, seorang guru terkenal dan mantan pemimpin SI. Ketika artikel itu muncul di Surakarta tidak langsung terjadi protes, tetapi Tjokroaminoto memperluas isi artikel dan menyerukan pembelaan Islam atas pelecehan oleh Martodharsono. Seruan itu muncul di Oetoesan Hindia, sehingga bangkitlah kaum muda Islam Surakarta.
Tjokroaminoto membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM), yang mencuatkan nama Misbach sebagai mubalig vokal. Mengiringi terbentuknya TKNM, lahir perkumpulan tablig reformis bernama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV). Haji Misbach menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium. Komunitas yang dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba menjadi dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di lapangan Sriwedari, pada 24 Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an orang. Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo (penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam), dua orang kepercayaannya di TKNM. Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga wibawa Islam terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya. Inilah awal perang membela Islam dari "kaum putihan" Surakarta. Belakangan, muncul kekecewaan jamaah TKNM ketika Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada Martodharsono dan Djawi Hiswara setelah mencuatnya pertikaian menyangkut soal keuangan dengan H Hasan bin Semit. Buntutnya, Hasan bin Semit keluar dari TKNM. Beredar artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti "korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam".
Dalam situasi itu muncul Misbach menggantikan Hisamzaijni, ketua subkomite TKNM dan menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Medan Moeslimin. Artikel pertama Misbach di media ini, Seroean Kita. Dalam artikel itu Misbach menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Takashi, menulis seperti berbicara dalam forum tablig. Ia mengungkapkan pendapatnya, bergerak masuk ke dalam kutipan Al-Quran kemudian keluar lagi dari ayat itu. "Persis seperti membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran dalam pertemuan tablig."
Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian secara kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis melibatkan para pedagang batik dan generasi santri yang lebih muda. Menurut Shiraisi, ada dua perbedaan SATV dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya, sedangkan SATV adalah perhimpunan muslimin saleh yang merasa dikhianati oleh kekuasaan keagamaan, manipulasi pemerintah, dan para kapitalis non muslim. Kedua, militansi para penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa bekerja di Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati. Sedangkan militansi SATV berasal dari rasa takut untuk melakukan manipulasi, dan keinginan kuat membuktikan keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV, muslim mana pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya berarti muslim gadungan.
SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan keagamaan di Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati, tetapi "Islam lamisan", "kaum terpelajar yang berkata mana yang bijaksana yang menjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri." Dasar keyakinan SATV dengan Misbach sebagai ideolognya, "membuat agama Islam bergerak". Misbach kondang di tengah muslimin bukan sekadar karena tablignya, melainkan ia menjadi pelaku dari kata-kata keras yang dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas karena perbuatannya "menggerakkan Islam": menggelar tablig, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras penyakit hidup boros dan bermewah-mewah, dan semua bentuk penghisapan dan penindasan.
"Jangan takut, jangan kawatir"
Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat diyakini menjadi antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat akan dihadapinya melalui artikel di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang aktivis organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda adalah jalan yang akan dilawan dengan gigih. Maka kelompok yang anti politik, anti pemogokan, secara tegas dianggapnya berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919. Isinya menohok kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerja-paksakan mereka, memberi upah kecil, membebani pajak. Residen Surakarta digugat, Paku Buwono X digugat karena ikut-ikutan menindas. Retorika khas Misbach, muncul dalam kartun itu sebagai "suara dari luar dunia petani". Bunyinya, "Jangan takut, jangan kawatir". Kalimat ini memicu kesadaran dan keberanian petani untuk mogok. Ekstremitas sikap Misbach membuat ia ditangkap, 7 Mei 1919, setelah melakukan belasan pertemuan kring (subkelompok petani perkebunan). Tapi akhirnya Misbach dibebaskan pada 22 Oktober sebagai kemenangan penting Sarekat Hindia (SH), organisasi para bumiputera.
Misbach menegaskan kepada rakyat "jangan takut dihukum, dibuang, digantung", seraya memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan kapitalis, ia meyakini paham komunis. Misbach mengagumi Karl Marx, dia sempat menulis artikel Islamisme dan Komunisme di pengasingan. Marx di mata Misbach berjasa membela rakyat miskin, mencela kapitalisme sebagai biang kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Agama pun dirusak oleh kapitalisme sehingga kapitalisme harus dilawan dengan historis materialisme.
Misbach kecewa terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak tegas membela kaum dhuafa. Berjuang melawan kapitalisme tak membuat Misbach tidak menegakkan Islam. Baginya, perlawanan terhadap kapitalis dan pengikutnya sama dengan berjuang melawan setan. Misbach pun ketika CSI (Central Sarekat Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, memilih ikut Perserikatan Kommunist di Indie (PKI), bahkan mendirikan PKI afdeling Surakarta.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa, Misbach tetap dipercaya sebagai otaknya. Misbach ditangkap. Dalam pengusutan sejumlah fakta memberatkannya meskipun belakangan para saksi mengaku memberi kesaksian palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang yang "ditangkap" bersama Misbach. Hardjosumarto sendiri juga mengaku menyebarkan pamflet bergambar palu arit dan tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan mengebom Mangkunegaran.
Namun Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia dibuang ke Manokwari, Papua, beserta dengan istri dan tiga anaknya. Selama penahanan di Semarang, tak seorang pun diizinkan menjenguknya. Misbach hanya dibolehkan membaca Al-Qur’an. Di pengasingan, selain mengirim laporan perjalanannya, Misbach juga menyusun artikel berseri "Islamisme dan Komunisme".
Medan Moeslimin kemudian memuat artikel Misbach tersebut,
“…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.”
Ditengah ganasnya alam di tempat pembuangannya Misbach terserang malaria dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya.****
Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
* * *
Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Lahir di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dibesarkan sebagai putra seorang pedagang batik yang kaya raya. Bernama kecil Ahmad, setelah menikah ia berganti nama menjadi Darmodiprono. Dan usai menunaikan ibadah haji, orang mengenalnya sebagai Haji Mohamad Misbach.
Kauman, tempat Misbach dilahirkan, letaknya di sisi barat alun-alun utara, persis di depan keraton Kasunanan dekat Masjid Agung Surakarta. Di situlah tinggal para pejabat keagamaan Sunan. Ayah Misbach sendiri seorang pejabat keagamaan. Karena lingkungan yang religius itulah, pada usia sekolah ia ikut pelajaran keagamaan dari pesantren, selain di sekolah bumiputera "Ongko Loro".
Menjelang dewasa, Misbach terjun ke dunia usaha sebagai pedagang batik di Kauman mengikuti jejak ayahnya. Bisnisnya pun menanjak dan ia berhasil membuka rumah pembatikan dan sukses. Pada 1912 di Surakarta berdiri Sarekat Islam (SI). Bicara kepribadian Misbach, orang memuji keramahannya kepada setiap orang dan sikap egaliternya tak membedakan priyayi atau orang kebanyakan. Sebagai seorang haji ia lebih suka mengenakan kain kepala ala Jawa, Misbach mulai aktif terlibat dalam pergerakan pada tahun 1914, ketika ia berkecimpung dalam IJB (Indlandsche Journalisten Bond)-nya Marco. Pada tahun 1915, ia menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin, yang edisi pertamanya tertanggal 15 Januari 1915 dan kemudian menerbitkan Islam Bergerak pada tahun 1917. Surat-surat kabar ini menjadi media gerakan yang sangat populer di Surakarta dan sekitarnya.
Marco Kartodikromo, salah satu tokoh pergerakan pada saat itu berkisah tentang Misbach:
".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memaki kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut "Haji".
Apa yang tersirat dari tulisan Marco adalah populisme Misbach. Populisme seorang Haji, sekaligus pedagang yang sadar akan penindasan kolonialis Belanda dan tertarik dengan ide-ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia pada jaman itu.
Misbach langsung terjun melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat. Membentuk organisasi dan mengorganisir pemogokan ataupun rapat-rapat umum/vergadering yang dijadikan mimbar pemblejetan kolonialisme dan kapitalisme.Bulan Mei 1919 akibat pemogokan-pemogokan petani yang dipimpinnya, Misbach dan para pemimpin pergerakan lainnya di Surakarta ditangkap.
Pada 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan selama 2 tahun 3 bulan. Pada 22 Agustus 1922 dia kembali ke rumahnya di Kauman, Surakarta. Maret 1923, ia sudah muncul sebagai propagandis PKI/SI Merah dan berbicara tentang keselarasan antara paham Komunis dan Islam. Bulan Juli 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror/sabotase di Surakarta dan sekitarnya. Walaupun bukan yang pertama diasingkan tapi ia-lah orang yang pertama yang sesungguhnya berangkat ke tanah pengasingan di kawasan Hindia sendiri.
Orang menggambarkan Haji Misbach sebagai sosok yang tak segan bergaul dengan anak-anak muda penikmat klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer. Satu tulisan tentang Misbach menyebutkan, di tengah komunitas pemuda, Misbach menjadi kawan berbincang yang enak, sementara di tengah pecandu wayang orang Misbach lebih dihormati ketimbang direktur wayang orang.
"... di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama."
Takashi Shiraisi mengungkapkan perbedaan dinamika sosial Islam di Yogya dan Surakarta. Ini dikaitkan dengan persamaan dan perbedaan antara KH Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan, Misbach, seorang muslim ortodoks yang saleh, progresif, dan hidup di Surakarta.
Di Yogya, Muhammadiyah yang lahir pada 1912 di Kauman, segera menjadi sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh yang kebanyakan berlatar belakang keluarga pegawai keagamaan Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid Agung dan ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di Yogya. Dahlan sendiri sempat dipercaya menjadi chatib amin. Para penganjur Muhammadiyah umumnya anak-anak pegawai keagamaan. Kala itu birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga, kata Shiraisi, wewenang keagamaannya tidak berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar Islam, masih kalah wibawa dibandingkan para kiai yang pesantrennya bebas dari negara.
Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil menyatukan umat Islam yang terpecah-pecah. Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid, pendirian lembaga pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan umat Islam. Mereka tumbuh menjadi pesaing tangguh misionaris Kristen dan aktivis sekolah-sekolah bumiputera yang didirikan pemerintah.
Lain dengan di Surakarta. Kala itu belum ada pengaruh sekuat Dahlan dan Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta sudah ada sekolah agama modern pertama di Jawa, Madrasah Mamba'ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati Sosrodiningrat (1906) dan SI pun sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan yang progresif, kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang batik mempunyai forum yang berwibawa, Medan Moeslimin. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain tersalur. Kelompok ini menyebut diri "kaum muda Islam".
Beda pergerakan Islam Surakarta dan Yogya, di Yogya reformis tentu juga modernis, tetapi di Surakarta kaum muda Islam memang modernis tetapi belum tentu reformis. Kegiatan keislaman di Solo banyak dipengaruhi kiai progresif tapi ortodoks, seperti Kiai Arfah dan KH Adnan. Sampai suatu ketika ortodoksi yang cenderung menghindar ijtihad itu terpecah pada 1918.
Perpecahan kelompok Islam di Surakarta dipicu artikel yang dimuat dalam Djawi Hiswara, ditulis Martodharsono, seorang guru terkenal dan mantan pemimpin SI. Ketika artikel itu muncul di Surakarta tidak langsung terjadi protes, tetapi Tjokroaminoto memperluas isi artikel dan menyerukan pembelaan Islam atas pelecehan oleh Martodharsono. Seruan itu muncul di Oetoesan Hindia, sehingga bangkitlah kaum muda Islam Surakarta.
Tjokroaminoto membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM), yang mencuatkan nama Misbach sebagai mubalig vokal. Mengiringi terbentuknya TKNM, lahir perkumpulan tablig reformis bernama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV). Haji Misbach menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium. Komunitas yang dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba menjadi dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di lapangan Sriwedari, pada 24 Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an orang. Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo (penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam), dua orang kepercayaannya di TKNM. Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga wibawa Islam terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya. Inilah awal perang membela Islam dari "kaum putihan" Surakarta. Belakangan, muncul kekecewaan jamaah TKNM ketika Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada Martodharsono dan Djawi Hiswara setelah mencuatnya pertikaian menyangkut soal keuangan dengan H Hasan bin Semit. Buntutnya, Hasan bin Semit keluar dari TKNM. Beredar artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti "korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam".
Dalam situasi itu muncul Misbach menggantikan Hisamzaijni, ketua subkomite TKNM dan menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Medan Moeslimin. Artikel pertama Misbach di media ini, Seroean Kita. Dalam artikel itu Misbach menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Takashi, menulis seperti berbicara dalam forum tablig. Ia mengungkapkan pendapatnya, bergerak masuk ke dalam kutipan Al-Quran kemudian keluar lagi dari ayat itu. "Persis seperti membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran dalam pertemuan tablig."
Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian secara kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis melibatkan para pedagang batik dan generasi santri yang lebih muda. Menurut Shiraisi, ada dua perbedaan SATV dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya, sedangkan SATV adalah perhimpunan muslimin saleh yang merasa dikhianati oleh kekuasaan keagamaan, manipulasi pemerintah, dan para kapitalis non muslim. Kedua, militansi para penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa bekerja di Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati. Sedangkan militansi SATV berasal dari rasa takut untuk melakukan manipulasi, dan keinginan kuat membuktikan keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV, muslim mana pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya berarti muslim gadungan.
SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan keagamaan di Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati, tetapi "Islam lamisan", "kaum terpelajar yang berkata mana yang bijaksana yang menjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri." Dasar keyakinan SATV dengan Misbach sebagai ideolognya, "membuat agama Islam bergerak". Misbach kondang di tengah muslimin bukan sekadar karena tablignya, melainkan ia menjadi pelaku dari kata-kata keras yang dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas karena perbuatannya "menggerakkan Islam": menggelar tablig, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras penyakit hidup boros dan bermewah-mewah, dan semua bentuk penghisapan dan penindasan.
"Jangan takut, jangan kawatir"
Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat diyakini menjadi antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat akan dihadapinya melalui artikel di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang aktivis organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda adalah jalan yang akan dilawan dengan gigih. Maka kelompok yang anti politik, anti pemogokan, secara tegas dianggapnya berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919. Isinya menohok kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerja-paksakan mereka, memberi upah kecil, membebani pajak. Residen Surakarta digugat, Paku Buwono X digugat karena ikut-ikutan menindas. Retorika khas Misbach, muncul dalam kartun itu sebagai "suara dari luar dunia petani". Bunyinya, "Jangan takut, jangan kawatir". Kalimat ini memicu kesadaran dan keberanian petani untuk mogok. Ekstremitas sikap Misbach membuat ia ditangkap, 7 Mei 1919, setelah melakukan belasan pertemuan kring (subkelompok petani perkebunan). Tapi akhirnya Misbach dibebaskan pada 22 Oktober sebagai kemenangan penting Sarekat Hindia (SH), organisasi para bumiputera.
Misbach menegaskan kepada rakyat "jangan takut dihukum, dibuang, digantung", seraya memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan kapitalis, ia meyakini paham komunis. Misbach mengagumi Karl Marx, dia sempat menulis artikel Islamisme dan Komunisme di pengasingan. Marx di mata Misbach berjasa membela rakyat miskin, mencela kapitalisme sebagai biang kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Agama pun dirusak oleh kapitalisme sehingga kapitalisme harus dilawan dengan historis materialisme.
Misbach kecewa terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak tegas membela kaum dhuafa. Berjuang melawan kapitalisme tak membuat Misbach tidak menegakkan Islam. Baginya, perlawanan terhadap kapitalis dan pengikutnya sama dengan berjuang melawan setan. Misbach pun ketika CSI (Central Sarekat Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, memilih ikut Perserikatan Kommunist di Indie (PKI), bahkan mendirikan PKI afdeling Surakarta.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa, Misbach tetap dipercaya sebagai otaknya. Misbach ditangkap. Dalam pengusutan sejumlah fakta memberatkannya meskipun belakangan para saksi mengaku memberi kesaksian palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang yang "ditangkap" bersama Misbach. Hardjosumarto sendiri juga mengaku menyebarkan pamflet bergambar palu arit dan tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan mengebom Mangkunegaran.
Namun Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia dibuang ke Manokwari, Papua, beserta dengan istri dan tiga anaknya. Selama penahanan di Semarang, tak seorang pun diizinkan menjenguknya. Misbach hanya dibolehkan membaca Al-Qur’an. Di pengasingan, selain mengirim laporan perjalanannya, Misbach juga menyusun artikel berseri "Islamisme dan Komunisme".
Medan Moeslimin kemudian memuat artikel Misbach tersebut,
“…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.”
Ditengah ganasnya alam di tempat pembuangannya Misbach terserang malaria dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya.****
Label:
Bacaan
Pelajaran-Pelajaran dari Revolusi (yang gagal) 1968
Pelajaran-Pelajaran dari Revolusi (yang gagal) 1968
Oleh Doug Lorimer
Revolusi Prancis di tahun 1968 dimulai pada bulan Desember 1967 dengan pemogokan delapan sekolah tinggi/lanjutan (setingkat SLTA) untuk mendukung sebuah demonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang memotong anggaran jaminan sosial. Aksi tersebut diiukuti oleh sekolah-sekolah lainnya di bulan Januari 1968, mereka (para demonstran), di aksi lanjutan ini, melakukan protes atas dikeluarkannya para aktivis dari sekolah.
Para siswa yang dikeluarkan adalah anggota dari The Jeunesses Communistes Revolutionnaires (JCR), sebuah organisasi pemuda sosialis revolusioner yang bergabung dengan Internasionale ke Empat.
JCR, yang mengadakan konferensi yang di hadiri 120 aktivis kampus dan sekolahan di bulan April 1966, adalah sebuah kekuatan politik sentral dalam radikalisasi di kalangan mahasiswa dan pelajar (selanjutnya disebut studen) Prancis.
Radikalisasi ini dipenuhi dengan membesarnya perasaan tidak puas atas sistem pendidikan yang ada.
Dalam tahun-tahun setelah Perang Dunia II, ada perkembangan yang cukup mencolok dari mahasiswa yang ada di Universitas-universitas di Prancis: dari 123.000 di tahun 1946 menjadi 514.000 ditahun 1968. Dalam buku Revolusi Prancis 1968 yang diterbitkan di tahun yang sama, jurnalis koran London Observer Patrick Seale dan Maureen McConville menjelaskan konsekuensi dari hal tersebut:
“Jumlah tekanan yang besar (the sheer persure of number) menghapuskan segalanya. Dibawah beban, universitas-universitas, dan terutama sekali Sorbonne, mengubah karakter mereka dari klub kecil yang elitis menjadi inefisien, pabrik yang jorok dari pendidikan, dimana semuanya dikorbankan untuk problem kecil yang melibatkan semua orang…”
Ketika kondisi ini menjadi basis untuk pembesaran dari ketidakpuasan, ada sikap oposisi terhadap perang yang dilakukan imperialis untuk melawan revolusi Vietnam, yang mana hal tersebut merubah ketidakpuasan-ketidakpuasan menjadi sebuah radikalisasi yang massif melawan masyarakat borjuis sebagai kesatuan.
Seale dan McConville memberikan penjelasan yang sangat gamblang atas peranan Gerakan Anti Perang Vietnam dalam perkembangan aktivitas politik para studen. Mereka menulis:
“Salah satu dari pemandangan yang mengejutkan dari Revolusi Mei adalah ketika para studen meneriakkan slogan: KEKUASAAN ADA DI JALANAN BUKAN DI PARLEMEN! Ini adalah sebuah fenomena yang membuat pemerintahan barat menggigil: ini semua adalah sebuah penolakan atas institusi-institusi politik yang sangat elitis dan nilai-nilai yang di tanamkan oleh orang tua mereka…”
“Dari bulan Desember 1966, serombongan Comites Vietnam lyceens (CVLs) – Komite Sekolah untuk Vietnam--dibentuk di Prancis. Mereka adalah bagian kecil dari kelompok (yang) berselisih dengan organisasi sekolahan Partai Komunis Prancis (CPF)…karena mereka berpendapat kebijakan CPF atas Vietnam sangat jinak atau moderat sekali…”
Partai Komunis (selanjutnya kita sebut CP), seperti Partai Stalinis lainnya di dunia, berpihak pada sikap “perdamaian”yang abstrak atau negosiasi, dari pada menyuruh para imperialis untuk minggat dan membiarkan penduduk Vietnam untutk menentukan nasibnya sendiri.
Seale and McConville menuliskan bahwa CVLs telah diinisiasi dan di gabungkan kedalam Committee Vietnam National (CVN):
Pada musim gugur tahun 1966, JCR dan sekutu-sekutunya, seperti beberapa “Castrois”, the Parti Socialiste Unifie (PSU), dan sebuah kelompok sayap kiri yang melepaskan diri dari grup sosialis, membentuk sebuah organisasi front Vietnam yang bertujuan untuk mendapatkan opini publik yang lebih besar. Organisasi tersebut bernama Committee Vietnam National (CVN)…beberapa (a litter) komite CVN tumbuh di sekolah dan, meskipun beroposisi dengan kepala sekolah, mereka mampu membuktikan kesuksesan-nya dalam pemobilisasian massa. Karena hal tersebutlah kubu politik sayap kiri memutuskan untuk memobilisasi mereka dalam setiap aksi-aksi politik.
Dari komite-komite sekolah untuk Vietnam itulah CALs (semacam serikat pelajar radikal) terbentuk. “CVLs”, dijelaskan oleh Seale dan Mconville, ”menyediakan infrastruktur bagi pembangunan CALs, dari protest mengenai Vietnam menjadi aksi-aksi terhadap persoalan-persoalan yang ada di Prancis secara spesifik”.
Berikut penjelasan dari proses ini:
“Serikat Buruh Prancis, UNEF (serikat mahasiswa nasional) dan serikat pelajar mengadakan aksi mogok pada 13 Desember 1967. Aksi ini dilakukan untuk memprotes kebijakan pemerintah yang memotong anggaran jaminan sosial. Yang mengejutkan dalam aksi ini adalah bergabungnya hampir separo penduduk kota Paris…Di bulan Januari 1968, Roman Goupil-seorang pelajar yang masih berumur 16 tahun- yang mengorganisir aksi di Lycee Condorcet, dikeluarkan dari sekolah dengan alasan dia telah menghasut kawan-kawannya agar meninggalkan kelas dan bergabung dalam aksi..para pemimpin dari CVLs berdiskusi melalui telepon dan membahas rencana mereka selanjutnya untuk menyikapi kasus ini. Mereka memutuskan untuk mengadakan aksi, ratusan massa berpartisipasi dalam aksi tersebut dan meriakkan yel-yel tuntutan tentang kekebasan dalam berekspresi (Freedom of expression in the lycees), yang tampaknya yel-yel tersebut sangat mudah untuk dipahami seperti yang diyakini oleh para pemimpin komite…”
Tanggal 22 Maret 1968 polisi menangkap lima orang aktivis anti-perang setelah peristiwa pemboman Bank Amerika di Paris. Dan di siang yang sama ratusan mahasiswa menduduki gedung admisnistrasi di Nanterre untuk memprotes penahanan tersebut. Kemudian Dekan merespon itu semua dengan menghentikan semua kegiatan perkuliahan. Semenjak kejadian itu tiada hari tanpa aksi dan demonstrasi di Nanterre.
Sebuah kampanye untuk memboikot ujian di luncurkan. Tanggal 2 dan 3 Mei direncanakan sebagai “Hari Studi Anti-Imperialis”di Nanterre. Sekali lagi, penguasa kampus mengalami kepanikan dan akhirnya mereka menutp kampus.
Tanggal 3 Mei, para mahasiswa di Sorbonne dan CALs di beberapa sekolah atas di Paris menyatakan solidaritasnya atas kejadian yang menimpa kawan-kawan mereka di Nanterre. Dan di sore yang sama ratusan mahasiswa dan pelajar yang melakukan demonstrasi harus berlarian untuk menghindari tindakan brutal dari polisi.
Seale dan McConville menulis:
“Pertempuran jalanan di 3 Mei, yang mengikuti invasi dari polisi ke Sorbonne, mengakibatkan effek yang sangat hebat bagi orang-orang muda. Kegiatan di kelas-kelas menjadi terhenti karena para pemuda itu ingin mendiskusikan situasi yang sedang terjadi, kemudian mereka mulai menggabungkan diri dengan demonstrasi-demonstrasi yang ada, walaupun banyak juga yang terluka setelah berpartisipasi dalam demo-demo tersebut. Tanggal 10 May CALs mengadakan aksi mogok serentak seharian penuh di Paris. Aksi ini diikuti kurang lebih 8-9 ribu partisipan, mereka berjalan untuk menemui senior mereka yang sudah lebih dulu melakukan aksi besar dan berakhir pada barikade…”
“Setelah Sorbonne diduduki, CALs mengambil alih Grand Amphitheathre untuk rapat umum di 19 Mei. Dan setelah pertemuan tersebut mereka memutuskan untuk mengadakan aksi mogok serentak dan menduduki sekolah-sekolah. Hari selanjutnya gerakan ini diikuti dengan massa yang lebih besar lagi, guru-guru mulai bergabung dan menghabiskan malam-malam mereka bersama-sama dengan para demonstran. Komite-komite juga mengdakan diskusi-diskusi yang tidak hanya membahas tentang problem sekolah dan kampus saja tapi juga membahas permasalahan-permasalahan politik, dengan topik-topik seperti perjuangan studen di eropa, aturan-aturan kampus di masyarakat, jaringan buruh-studen, dll…”
Hasil yang sama juga didapatkan oleh para pemimpin-pemimpin mempunyai political advanced di kampus selama pendudukan itu.
Tapi sebagaimana Seale dan McConville berkomentar di bukunya:
“Para buruh tidak bergabung dengan aksi protes nasional yang dilakukan oleh studen, meskipun kejadian Mei mempunyai effek yang sangat signifikan bagi ledakan-ledakan studen di Berlin, Roma atau Buemos Aires. Benar-benar situasi yang sangat kontradiktif…dimana para studen memberikan sesuatu yang dicontoh secara cepat oleh kawan-kawan mereka di lain negara, membawa krisis ini ke level yang lebih tinggi. Akan tetapi para pekerja tetap dengan tenang bekerja dan menunci gerbang mereka rapat-rapat…”
Di tanggal 7 Mei, 30.000 menduduki jalan-jalan di kota Paris selama lima jam penuh, menuntut agar kampus dibuka kembali dan para aktivis yang ditahan di bebaskan.
Sebuah pelajaran bagi massa aksi berhasil dipetik di tanggal 9 Mei di daerah Latin Quarter, daerah sekitar Sorbonne. Ketika itu massa memaksa untuk bertahan sampai besok, jumat 10 Mei, dan kejadian itu menjadi terkenal dengan sebutan malam barikade-barikade (night of barricades) ketika 35.000 demonstran merusak barikade dan terjadi perang batu dengan CRS (polisi anti huru-hara Prancis).
Sekitar 400 studen masuk rumah sakit. Dan banyak lainnya yang terluka akibat tindakan CRS. Meskipun begitu, para studen tidak kalah. Masyarakat mengecam tindakan brutal polis-yang ditayangkan oleh stasiun televisi- dan mendesak pemerintah untuk memenuhi tuntutan studen.
Tanggal 11 Mei, para pemimpin buruh dari tiga konfederasi serikat buruh merespon opni publik yang sedang berkembang atas tindakan represif yang dilakukan polisi, dan mereka merencanakan aksi mogok nasional selam 24 jam penuh yang akan diadakan pada hari senin tanggal 13 Mei.
Di hari itu sekitar satu juta buruh dan studen berjalan menuju kota Paris. Kontingen studen secara eksplisit menyatakan untuk mengakhiri kepemimpinan rezim semi bonarpatis Charles de Gaulle sambil menyanyikan lagu “sepuluh hari sudah cukup”. Bendera Tricolore diturunkan dari gedung-gedung pemerintahan dan diganti dengan bendera MERAH. Akan tetapi aksi di 13 Mei ini tidak direspon lebih lanjut oleh para aristokrat-aristokrat serikat buruh dan mereka pun kecuali perintah untuk membubarkan diri.
Bagaimanapun, aksi para pekerja tersebut telah membesarkan hati para studen, dan sekita 20-25 ribu buruh bertemu dan memutuskan untuk bergabung dengan para studen dan menguasi Sorbonne.
Tanggal 14 Mei para pekerja kembali ke pabriknya masing-masing, tapi mereka kembali dengan rasa percaya terhadap kekuatan dari mobilisasi massa. Kejadian ini terutama sekali dialami para buruh-buruh muda, yang banyak dari mereka telah bergabung dalam aksi protes studen mulai tanggal 3-10 dan ikut bertempur bersama studen di malam barikade.
Secara spontan, para pekerja mulai mengambil alih pabrik. Di 14 Mei para pekerja pabrik SudAviation di Nanterre mengunci manajer di ruang kerjanya dan menyatakan mereka telah mengambil alih pabrik.
Dihari yang sama, para pekerja pabrik Renault meninggalkan peralatannya dan mendeklarasikan perebutan pabrik. Besoknya mogok menjalar ke dua pabrik Renault l;ainnya dan sorenya pabrik terbesar Renault di Parisian suburban dari Biliancout tidak bisa menjalankan prose produksi karena 30 ribu pekerjanya melakukan aksi mogok.
Dari kejadian tersebut, aksi mogok terjadi di hampir seluruh daerah di Perancis. Sebagaimana yang dikatakan seorang buruh muda Renault: “Para student memulai kereta berjalan, dan kita berterima kasih. Ketika kita melihat kereta berhenti dan akan mulai berjalan lagi, kami mulai berelompatan unutuk naik”
Dalam waktu seminggu aksi mogok ini telah melibatkan 10 juta dari 15 juta pekerja yang ada di Prancis.
Perlawanan massa studen berperan sebagai sebuah detonator dalam sebuah pemberontakan massif para pekerja. Tapi sebuah detonator tidak akan bekerja kecuali ada bahan yang berpotensi sebagai bahan peledak. Apakah bahan yang berpotensial sebagai bahan peledak itu?
Ketika negara-negara industri kapitalis mempunyai pengalaman sedikitnya selama dua dekade dari pemtumbuhan ekonomi yang berlangsung secara pesat, kesenjangan sosialpun semakin lebar. Sebanyak satu juta orang dan hampir separo dari penduduk Prancis yang mempunyai pendapatan, dibayar dengan upah yang sangat rendah yang mana pendapatan tersbut hanya mencapai satu level diatas level subsistensi.
Selain itu, di 1968 lebih dari satu juta orang tidak mempunyai pekerjaan atau menganggur, kesemuanya itu memukul perasaan buruh-buruh muda. Di Burgundi, sebagai contoh kecil, 25 % pemuda di bawah usia 25 th menjadi pengangguran.
Hak berserikat di pabrik-pabrik diabaikan. Satu-satunya jalan untuk mengekspresikan ketidakpuasan adalah melalui aksi-aksi massa. Tahun 1967, di pabrik Renault di Le Mann dan Caen terjadi perang batu dengan polisi selama terjadi pemogokan.
Sebagaimana diamati oleh Seale dan Mc Convile: “Para pekerja menolak untuk mengadakan negosiasi, dan menggunakan cara-cara yang lebih keras. Ini berarti sebuah upaya pengambilalihan…”
Ketika mengambil metode aksi massa, para pekerja menggerakkan sebuah revolusi sosial yang masih yang mana mereka mempunyai potensi revolusioner yang jernih.
Ini semua adalah hasil dari fomat-format yang dibikin oleh komite-komite aksi massa yang ada di Paris. Mereka tidak hanya bermunculan di sekolah-sekolah, universitas-universitas, kantor-kantor pemerintahan, asosiasi profesional, dan tempat-tempat kerja, tapi juga di daerah-daerah pemukiman.
Menurut Seale dan Mc Conville, “Apa yang menjadi gambaran umum mereka…adalah sebuah ide tentang revolusi yang harus kamu lakukan sendiri, tanpa harus meninggalkan yang lainnya. Itu semua adalah keinginan untuk terpimpin dalam aksi-aksi ekstraparlementer”
Gerakan ini mencapai puncaknya di minggu terakhir di bulan Mei, ketika terdapat sekitar 450 komite yang ada di Paris (belum daerah lainnya). Bagaimanapun, mereka tetap terlokalisir dan hanya kehilangan koordinasi di kota-kota yang mempunyai basis besar.
Di luar Paris perkembangan yang sama juga terjadi. Yang paliang bagus adalah apa yang terjadi di Nantes, utara Brittany di 23 Mei. Sebuah komite sentrak pemogokan- yang terdiri dari serikat buruh, petani dan studen-mengadakan aksi di balai kota, dan mendeklarasikan dirinya sebagai penguaa baru kota praja tersebut.
Dan di gedung-gedung sentral pemerintahan, terutama di kota Paris, sudah ditinggalkan oleh para penghuninya, hanya ada para penjaga pintu dan polisi yang kekuatannya sangat kecil.
Atas perkembangan ini, Sean dan Mc Conville menulis: “Pemogokan yang terjadi di Nantes berubah dari yang awalnya sebuah aksi protes menjadi aksi revolusi. Disana muncul embrio-embrio pengganti institusi tua masyarakat borjuis, yang mana itu semua diparalelkan dengan aksi mogok…”
Selama seminggu, dari 24-30 Mei, pemerintahan De Gaulle mengalami kegoncangan yang cukup hebat. Akan tetai sayangnya CP dan pemimpin-pemimpin serikat buruh menolak untuk melakukan penggantian-atau sebuah insureksi-pemerintahan.
Dan yang lebih parah lagi, ketika 10 juta pekerja sedang menjalankan aksi mogok, para aristokrat-aristokrat serikat buruh ini menolak rancangan diadakannnya sebuah aksi mogok nasional.Mereka membatasi diri hanya pada tuntutan ekonomis seperti kenaikan upah, jam kerja yang lebih pendek, dll. Bahkan mereka bekerja sama dengan rezim De Gaulle dengan mengatakan studen-studen yang radikal sebagai provokator.
Di 29 Mei, CP dan pemimpin federasi serikat buruh (CGT) membuat aksi sejuta massa di jalan-jalan kota Paris dimana, untuk pertama kalinya, pemimpin-pemimpin Stalinis mengikuti slogan-slogan politik yang ada. Mereka juga berada di barisan yang sama dengan para demonstran yang menuntut sebuah Pemerintahan Rakyat.
Dan di saat-saat terakhir, para bangsawan-bangsawan CGT itu memerintahkan massa untuk membubarkan diri. Tidak ada lagi rally, tidak ada lagi speakers…
Malam itu De Gaulle berkonsultasi dengan para jendralnya. Sebuah rencana telah berhasil disusun, dan para tentara yang paling loyal kepadanya telah di mobilisasi. Markas besar oprasi militer mengambil tempat di Verdun. Besoknya pada pukul 04.30 pm, muncul di televisi dengan mengabarkan bahwa pertemuan nasional yang terjadi tidak berhasil menghasilkan solusi dan menawarkan pemilu untuk memilih anggota parlemen di tanggal 23 Juni.
Melihat hal itu, birokrat-birokrat CP menerima dengan antusias tawaran dari De Gaulle. Seminggu sebelum pemilihan,mereka (CP) berlomba-lomba dengan kubu Gaullis dan dengan yakin mengatakan bahwa merekalah penguasa baru Prancis. Seminggu setelah pidato De Gaulle, para pekerja mencapai kata sepakat dengan para bangsawan serikat buruh. Dan pada pemilu, para pendukung De Gaulle meningkatkan support mereka terhadap pimpinannya.
Dari pertengahan Mei sampai pertengahan jni 1968, Prancis di cengkeram oleh pemberontakan buruh yang hebat di dalam sejarahnya, tapi sayangnya semua itu harus di akhiri dengan pemilu yang malah memperkuat Partai-partai yang berkuasa, Banyak orang-orang kiri revolusioner menjuluki CPF sebagai pengkhianat. Tapi bagaimana sebenarnya birokrat-birokrat CPF bisa melakuakan pengkhianatan dan dari 10 juta massa yang ada hanya sedikit yang mengambil sikap oposisi?
Inilah pelajaran yang berharga dari Mei-Juni 1968. Ketika kelas pekerja Prancis ambil bagian dalam aksi, dimana (peranan kelas pekerja itu) menjadi sebuah potensi dinamis revolusioner bagi mereka (kelas pekerja), tapi mayoritas kelas pekerja Prancis tidak mampu secara cepat untuk melewati batasan antara tuntutan-tuntutan mendesak yang bersifat ekonomis dan perubahan masyarakat secara radikal.
Ada kesenjangan kesadaran revolusiner di antara mayoritas kelas pekerja, dan mampu dimanfaatkan oleh bangsawan-bangsawan serikat buruh reformis untuk di giring ke ilusi pemilu parlementer.
Revolusi-dalam skala dan militansi yang hebat- sebagai mana di ekspresikan oleh Lenin di tahun 1902 dalam pamplet Apa yang harus dikerjakan: ”Sejarah semua negeri menunjukkan bahwa kelas pekerja, dengan kemampuan yang mereka miliki, mampu untuk mengembangkan kesadaran serikat buruh…”
Kesadaran sosialis revolusioner, sebagaimana ditekankan oleh Lenin, hanya dapat dipasokkan ke kelas pekerja dari luar, ketika terjadi perlawanan spontan antara kelas pekerja dengan pemerintah, melalui ideologi yang membaja dan kerja-kerja organisasi dari sebuah Partai Marxis Revolusioner.
Kekuatan marxis revolusioner Prancis di Mei-Juni 1968 hanya berjumlah sekitar 300-400 orang. Mereka tidak punya kekuatan untuk menantang hegemoni ideologis yang dilakukuan para pemimpin buruh reformis.
Daniel Bensaid, dulunya adalah salah seorang pimpinan JCR dan sekarang menjadi anggota pimpinan dari Ligue Communiste Revolutionnare, juga mengungkapkan hal yang sama. Dia mengatakan:
“Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa itu (kejadian di Mei-Juni’68) adalah aksi mogok besar terakhir di abad ke sembilan belas ini. Tapi mungkin juga menjadi aksi mogok besar pertama di abad ke-21. Kita tidak tahu dan itu semua tergantung pada apa yang kita lakukan saat ini…”
“…kelas pekerja telah di format sedemikian rupa selama bertahun-tahun oleh kemakmuran dan expansi dari welfarestate, seperti hak-hak yang demokratis. Tahun 1968 bukanlah sebuah krisis revolusiner seperti di 1920an, 1930an..”
“Ya, memang terdapat sebuah gerakan yang mendalam dari kelas pekerja yang mampu mengguncang borjuasi, tapi tidak terdapat faktor subyektif, tidak ada kepemimpinan revolusioner yang mengakar di kelas pekerja. Kekuatan dari birokrasi membuat kita harus melakukan sesuatu dengan tingkat kesadaran mayoritas massa kelas pekerja. Kita dapat melihatnya sekarang lebih baik..”
Sebagaiman disimpulkan oleh Bensaid, ”Ada sebuah usaha untuk mendepolitisasi interpretasi atas kejadian tahun 1968. Kita harus mempertahankan makna politis yang sebenarnya dan dinamisasi di tahun 1968, tidak hanya merayakannya tapi juga harus mampu memberikan arti yang politis..”
Bagi kita sekarang, itu semua berarti melakukan rededikasi diri kita untuk memperkuat kekuatan revolusioner yang sadar di negeri ini agar kita dapat mempersiapkan secara lebih baik transformasi gerakan spontan kelas pekerja, yang mana mampu mengguncang para kapitalis, ke dalam sebuah perlawanan revolusioner untuk kekuasaan kelas pekerja dan sosialisme.
Label:
MATERI
Langganan:
Postingan (Atom)